Dengarkan artikel berikut.
Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Sosoknya kembali mencuri sorotan nasional pekan-pekan terakhir. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, ada pola yang lebih senyap dan lebih layak dicermati publik: bagaimana seorang politisi merajut benang-benang relasi ke berbagai penjuru kekuasaan, jauh sebelum publik sempat menyadarinya.
Nama Dedi Mulyadi belakangan ini nyaris tak pernah absen dari perbincangan politik nasional. Dari rumor kepindahannya ke PSI, isu jaringan “Singapura-Solo-Bandung” yang dilontarkan Said Didu, hingga survei-survei terkait elektabilitasnya.
Spekulasi paling ramai tentu saja soal kemungkinan ia menjadi pendamping Prabowo sebagai calon wakil presiden di periode mendatang. Tapi menariknya, spekulasi semacam ini sebenarnya bukan cuma soal siapa yang akan dipasangkan dengan siapa. Ada pertanyaan yang lebih mendasar dan lebih menarik untuk digali di baliknya: kenapa nama KDM begitu mudah dilekatkan dengan berbagai skenario politik sekaligus?
Jawabannya mungkin bukan semata soal popularitas media sosialnya yang memang mentereng, melainkan sesuatu yang lebih struktural: jaringan personal yang telah ia rajut diam-diam ke berbagai penjuru kekuasaan, jauh sebelum ramai jadi bahan spekulasi publik.
Benang-Benang yang Terjalin ke Berbagai Arah
Kalau ditelusuri satu per satu, pola relasi KDM ternyata membentuk semacam jaring laba-laba — bukan satu jaringan tunggal yang linear, melainkan simpul-simpul yang tersebar ke berbagai institusi kekuasaan, masing-masing dengan fungsi berbeda.
Simpul pertama ada di ranah figur populer lintas-generasi. April 2026, Susi Pudjiastuti resmi menjabat Komisaris Utama Independen Bank BJB, bank pembangunan daerah milik Pemprov Jabar, atas rekomendasi KDM sendiri. Susi sempat menolak sebelum akhirnya luluh dibujuk KDM — sebuah rekrutmen yang menarik karena Susi bukan figur partisan, melainkan modal simbolik nasional yang dikenal blak-blakan dan populer lintas kelas sosial, termasuk di media sosial.
Simpul kedua ada di jantung institusi penegak hukum. Juli 2025, putra sulung KDM menikahi putri Irjen (kini Komjen) Pol Karyoto — yang kemudian melesat menjadi Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri dan masuk bursa kandidat Kapolri penerus Listyo Sigit.
Simpul ketiga ada di ranah yang lebih senyap: lingkaran senior intelijen dan militer purnawirawan. Juni 2026, KDM bersilaturahmi dengan mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, membahas revitalisasi nilai-nilai pewayangan dan restorasi peradaban Nusantara. Sekilas terdengar sekadar obrolan budaya, tapi Hendropriyono bukan sembarang purnawirawan — ia salah satu arsitek jaringan kekuasaan Indonesia yang paling lama bertahan pasca-Reformasi, dengan relasi yang membentang dari era Megawati hingga pemerintahan hari ini. Pertemuan ini oleh sejumlah pengamat dinilai menarik karena terjadi persis di saat elektabilitas KDM sedang meroket.
Simpul keempat, yang justru paling sering luput dari sorotan publik, adalah jejak historisnya dengan lingkaran Joko Widodo. Jauh sebelum julukan “Jokowi 2.0” atau “Mulyono Jilid II” ramai di media sosial karena kemiripan gaya blusukan, KDM sebenarnya sudah punya jejak struktural yang jauh lebih konkret: pada Pilpres 2019, ia ditunjuk sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma’ruf Amin untuk Jawa Barat, bahkan berkoordinasi dengan Sekretaris DPD PDIP Jabar di posisi sekretaris tim. Ini bukan simpati biasa, melainkan posisi struktural dalam mesin koalisi lintas partai yang mengusung Jokowi ke periode kedua.
Di tengah riuhnya berbagai spekulasi terkini, nama KDM sempat pula disinggung dalam tudingan bernada konspiratif soal jaringan “SSB” — Singapura, Solo, Bandung — yang dilontarkan Said Didu dalam sebuah podcast. Tudingan ini sejauh ini tak disertai bukti apa pun, dan KDM sendiri meresponsnya dengan gurauan khas: menyebut SSB sebagai Sekolah Sepak Bola Bandung, bukan segitiga jaringan yang dimaksud Said Didu.
Ketika Ambiguitas Menjadi Modal
Fenomena ini sebenarnya punya kerangka teori yang cukup pas untuk membacanya. Sosiolog John Padgett dan Christopher Ansell, dalam studi klasik mereka soal kebangkitan keluarga Medici di Florence abad ke-15, memperkenalkan konsep robust action — strategi seorang aktor politik menjaga banyak relasi dengan kepentingan yang bahkan saling bertentangan, tanpa pernah mengikatkan diri sepenuhnya pada satu blok kekuasaan. Kekuatan Medici, menurut mereka, bukan datang dari kejelasan posisi politiknya, melainkan dari ambiguitas yang terjaga — setiap faksi merasa Medici “milik mereka”, padahal sebenarnya tidak sepenuhnya berpihak pada siapa pun.
Pola serupa tampak dalam cara KDM membangun jaringannya. Ia adalah eks-Ketua TKD Jokowi, kini Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, sekaligus besan salah satu perwira tinggi Polri paling berpengaruh, mitra dekat figur nonpartisan sekelas Susi Pudjiastuti, dan kenalan baik mantan petinggi BIN. Setiap simpul ini punya kepentingan dan basis kekuatan yang berbeda — bahkan kadang berseberangan — namun KDM berhasil menjaga hubungan baik dengan semuanya sekaligus, tanpa harus terikat penuh pada satu poros.
Kerangka lain yang relevan datang dari sosiolog Pierre Bourdieu soal konversi modal sosial menjadi modal politik. Bagi Bourdieu, relasi personal adalah aset yang bisa dikonversi menjadi legitimasi, akses, dan pengaruh, asalkan dirawat dan diaktivasi pada momentum yang tepat. Kedekatan KDM kepada Susi adalah konversi modal simbolik komunikasi politik lintas-generasi. Relasi besan dengan Karyoto adalah konversi modal kekerabatan menjadi akses ke puncak institusi keamanan. Hubungan baik dengan Hendropriyono adalah konversi modal kultural menjadi legitimasi dari lingkaran senior lintas rezim. Dan jejak TKD Jokowi 2019 adalah modal historis yang tetap tersimpan sebagai kartu cadangan di tengah dinamika politik yang terus berubah.
Kombinasi dari berbagai simpul inilah yang bisa menjelaskan kenapa nama KDM begitu mudah muncul dalam berbagai spekulasi politik belakangan — bukan semata karena ia populer di linimasa, melainkan karena ia telah membangun infrastruktur relasi yang membuatnya relevan di mata banyak poros kekuasaan sekaligus: partai politik, lingkaran pejabat lama, hingga tokoh senior lintas generasi.
Bahaya yang Tersembunyi di Balik Jaring
Justru di titik inilah letak persoalan yang lebih halus dari sekadar pertanyaan “KDM akan berpihak ke mana”. Jaring seluas itu, disadari atau tidak oleh pemiliknya, menciptakan ketidakpastian struktural bagi peta kekuasaan di sekitarnya. Setiap poros yang terhubung dengannya — partai politik, Polri, lingkaran lama Jokowi — punya alasan untuk merasa KDM “bagian dari mereka”, padahal pada saat yang sama ia juga menjadi bagian dari poros lain yang kepentingannya belum tentu sejalan.
Ketegangan semacam ini mungkin bukan sesuatu yang lahir dari niat KDM sendiri, melainkan konsekuensi wajar dari posisi yang ia tempati: seorang figur populer yang dianggap penting oleh banyak pihak sekaligus, tanpa perlu ia lakukan apa pun untuk menjadi begitu. Bahayanya justru muncul dari cara berbagai pihak di sekitarnya membaca dan merespons posisi itu — apakah dirangkul sebagai aset bersama, atau mulai dilihat sebagai variabel yang perlu dipantau.
Jaring yang Masih Terus Diamati
Filosofi jaring laba-laba punya pelajaran menarik di sini: kekuatannya justru terletak pada kelenturannya untuk tidak terlihat, bukan pada kekokohan satu benang tunggal. Laba-laba tidak pernah menaruh seluruh bebannya pada satu utas — begitu satu benang putus, jaring tetap utuh karena ditopang benang-benang lain yang tersebar ke berbagai arah.
Tapi jaring yang menyentuh begitu banyak arah sekaligus juga menyimpan konsekuensi bagi siapa pun yang berdiri di titik-titik yang dihubungkannya. Semakin luas jaring itu terentang, semakin banyak pula pihak yang harus memutuskan bagaimana bersikap terhadapnya — merangkulnya sebagai bagian dari kekuatan bersama, atau mulai menjaga jarak karena kehadirannya terasa sulit diprediksi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling menarik untuk terus diikuti bukan semata soal langkah apa yang akan diambil KDM sendiri, melainkan bagaimana berbagai poros yang telah terhubung dengannya akan merespons jaring yang terus melebar itu — apakah dengan mendekapnya lebih erat, atau justru mulai menjaga jarak sebelum jaring itu tumbuh terlalu luas untuk dikendalikan siapa pun. (D74)





Comments are closed.