Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kasus Remaja 15 Tahun di Sampang Diperkosa 27 Pelaku, Cermin Gagalnya Perlindungan Anak

Kasus Remaja 15 Tahun di Sampang Diperkosa 27 Pelaku, Cermin Gagalnya Perlindungan Anak

kasus-remaja-15-tahun-di-sampang-diperkosa-27-pelaku,-cermin-gagalnya-perlindungan-anak
Kasus Remaja 15 Tahun di Sampang Diperkosa 27 Pelaku, Cermin Gagalnya Perlindungan Anak
service

Jakarta, NU Online

Kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang remaja perempuan berusia 15 tahun di Kabupaten Sampang, Madura, menjadi cermin gagalnya perlindungan terhadap anak di Indonesia. Korban diduga mengalami pemerkosaan oleh 27 pria di enam lokasi berbeda sejak November 2024. Tragedi tersebut tidak hanya mengungkap kejahatan seksual yang terorganisasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kerentanan sosial dapat menjadi pintu masuk bagi eksploitasi anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengungkapkan kisah pilu tersebut setelah melakukan kunjungan ke Sampang. Menurutnya, kasus ini tidak dapat dipandang sekadar sebagai angka dalam statistik kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Anak ini tumbuh dalam kerentanan yang berlapis,” tutur Arifah dengan nada bicara yang berat di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Sejak berusia tiga tahun, korban harus menerima kenyataan pahit ketika kedua orang tuanya berpisah. Ia kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya. Namun, lingkungan tempat tinggal yang semestinya menjadi ruang aman justru tidak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

Kerentanan korban semakin diperparah ketika ia sempat menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren. Di lingkungan tersebut, ia menjadi korban perundungan karena tidak memiliki sepasang sepatu yang bagus. Tekanan itu membuatnya memilih keluar dari pesantren dan akhirnya putus sekolah.

Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para pelaku. Peristiwa bermula ketika seorang pemuda mendekati korban di sebuah taman kota dan meminta nomor teleponnya. Keesokan harinya, pelaku mengajak korban membeli kue. Saat ajakan itu ditolak, pelaku justru mengancam akan menyebarkan sebuah video.

“Korban tidak berani menolak, dan tidak berani bercerita,” kata Arifah.

Rasa takut membuat korban memilih memendam seluruh peristiwa yang dialaminya. Ia tidak berani melapor kepada polisi maupun menceritakan kejadian tersebut kepada kakek dan neneknya karena mengaku kerap dipukul di rumah. Akibatnya, korban merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk mencari pertolongan.

Kasus ini akhirnya terungkap secara tidak sengaja setelah sang kakek melaporkan cucunya hilang karena tidak pulang selama tiga hari. Saat korban kembali ke rumah untuk mengambil pakaian, ia langsung diajak ke kantor polisi untuk mencabut laporan kehilangan. Di hadapan penyidik dan pendamping dari Dinas PPPA setempat, korban akhirnya menceritakan seluruh kekerasan seksual yang dialaminya, termasuk dugaan keterlibatan 27 pelaku.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Arifah segera menggelar rapat tertutup bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bupati, dan Kapolres Sampang.

“Fokus utama kita adalah perlindungan total dan pemulihan trauma bagi korban. Penanganan hukumnya pun harus berjalan transparan,” tegas Arifah.

Hingga kini, kepolisian telah menangkap 13 pelaku. Proses penangkapan masih menghadapi kendala karena para pelaku, yang mayoritas merupakan anak putus sekolah, tergabung dalam satu grup WhatsApp. Mereka diduga saling berbagi informasi untuk menghindari penangkapan dan menggunakan nama panggilan atau alias sehingga menyulitkan proses pelacakan. Dari puluhan pelaku tersebut, dua orang dipastikan telah berusia dewasa.

Arifah menyampaikan bahwa kementerian bersama pemerintah daerah kini berupaya memperkuat pembinaan terhadap anak-anak putus sekolah di Sampang. Sementara, korban telah ditempatkan di lokasi yang aman dan menjalani proses pemulihan untuk kembali merajut masa depan yang sempat dirampas secara paksa.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.