Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Katib Syuriyah PBNU: Problem Masyarakat Kehilangan Berkah dalam Kehidupan

Katib Syuriyah PBNU: Problem Masyarakat Kehilangan Berkah dalam Kehidupan

katib-syuriyah-pbnu:-problem-masyarakat-kehilangan-berkah-dalam-kehidupan
Katib Syuriyah PBNU: Problem Masyarakat Kehilangan Berkah dalam Kehidupan
service

Semarang, NU Online Jateng

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Faiz Syukron Makmun menegaskan bahwa persoalan utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya harta, pendidikan, atau teknologi, melainkan pada hilangnya barokah dalam kehidupan. 

Hal itu disampaikannya dalam mau‘idhah hasanah pada acara Khataman Al-Qur’an PPTQ Roudlotut Tamyiz Mlatibaru yang dilaksanakan di halaman Pesantren Jalan Ngembun No. 195 Kelurahan Mlatibaru Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang pada Ahad (11/1/2026).

“Sekarang hari-hari ini yang hilang dari hidup kita itu barokah, hartanya orang sekarang, ilmunya orang sekarang, teknologinya orang sekarang, semua itu lebih hebat daripada zaman dahulu, tapi hilangnya barokah,” ujarnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Faiz tersebut mengawali tausiyahnya dengan menyampaikan rasa hormat dan kekaguman kepada para ulama, habaib, kiai, serta jamaah yang hadir. Ia mengaku terharu melihat semangat masyarakat perkotaan yang tetap istiqamah menghadiri majelis ilmu meski harus beraktivitas sekolah dan bekerja keesokan harinya.

“Ini pemandangan yang langka dan mahal. Malam Senin, besok sekolah dan kerja, tapi tidak ada yang pulang, tidak ada yang protes. Ini tanda masih hidupnya ruh cinta ilmu dan agama,” ujarnya.

Gus Faiz menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan alam semesta dengan keseimbangan (mizan). Prinsip keseimbangan tersebut, menurutnya, juga berlaku dalam kehidupan manusia. Ibadah, pekerjaan, dan aktivitas duniawi harus berjalan seimbang dan berada di jalan yang benar.

Menurutnya, sehebat apa pun fasilitas dan penampilan seseorang, tanpa arah hidup yang jelas, semua itu akan menjadi sia-sia.

“Mobil paling bagus, pesawat paling canggih, kalau tidak tahu arah, tidak akan sampai tujuan. Yang penting bukan bajunya, tapi jalannya,” tuturnya.

Ia kemudian menyoroti ironi kehidupan modern. Generasi saat ini, kata Gus Faiz, memiliki akses terhadap kekayaan, ilmu, dan teknologi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, ada satu hal yang justru semakin hilang, yakni barokah.

Kondisi tersebut ia ilustrasikan melalui kisah sederhana tentang aktivitas rumah tangga yang tampak sibuk, tetapi tidak efektif karena waktu lebih banyak habis untuk hal-hal yang tidak substansial.

“Dulu orang sedikit alat tapi cepat selesai. Sekarang alat lengkap, waktu habis, hasilnya minim. Itu tanda barokah dicabut,” jelasnya yang disambut tawa jamaah.

Fenomena hilangnya barokah, lanjut Gus Faiz, juga terlihat dalam berbagai profesi. Aparat keamanan yang justru merasa tidak aman, ahli hukum yang tersangkut persoalan hukum, hingga dakwah yang kehilangan ruh karena terlalu dikomersialkan, menjadi contoh nyata kondisi tersebut.

Dalam ceramahnya, Gus Faiz menyampaikan anekdot tentang perbandingan kambing dan anjing. Secara logika, anjing terlihat lebih unggul karena lebih cerdas, berpenampilan menarik, dan melahirkan lebih banyak anak. Namun dalam kenyataannya, populasi kambing justru jauh lebih besar dan tetap lestari meski setiap hari disembelih.

Ia mengutip hikmah dari kisah sufi besar Ibrahim bin Adham bahwa perbedaan tersebut terletak pada jalan hidup.

“Kambing itu tahu jalan. Maghrib pulang kandang, Isya tidur, bangun sepertiga malam terakhir. Anjing kebalikannya, malam begadang, pagi tidur. Salah jalan, hilang barokah,” terangnya.

Gus Faiz juga mengingatkan bahwa kemuliaan makhluk tidak semata ditentukan oleh nasab atau rupa, melainkan oleh ilmu dan kedekatan dengan orang-orang saleh. Ia mencontohkan anjing Ashabul Kahfi yang dimuliakan karena kebersamaannya dengan para wali Allah.

Selengkapnya klik di sini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.