Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Kejanggalan Api Karhutla yang Terus Merekah di Palangka Raya

Kejanggalan Api Karhutla yang Terus Merekah di Palangka Raya

kejanggalan-api-karhutla-yang-terus-merekah-di-palangka-raya
Kejanggalan Api Karhutla yang Terus Merekah di Palangka Raya
service

Aroma sangit dan kepulan asap tipis mulai menyelinap di antara celah vegetasi gambut Kota Palangka Raya sejak awal Juni 2026. Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya menetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhitung mulai 1 Juni 2026.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi awal menghadapi lonjakan suhu udara dan musim kemarau yang mengeringkan hamparan lahan gambut.

Alih-alih padam, memasuki bulan Juli ritme kebakaran justru bergerak kian agresif. Dalam rentang pertengahan hingga akhir Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat akumulasi luasan lahan yang terbakar telah mencapai 11,5 hektare.

Angka tersebut terbagi dalam puluhan titik kejadian kebakaran yang tersebar di wilayah perkotaan hingga pinggiran kota.

Eskalasi paling mencolok terjadi ketika sembilan titik api membara secara bersamaan dalam kurun waktu satu hari.

Sembilan lokasi tersebut meliputi kawasan pemukiman dan vegetasi semak belakankar di Jalan Banteng, Jalan Alam Lestari, Jalan Gustaf Erang, Jalan Kahuripan ujung, Jalan G. Obos Lanjutan, Jalan Tjilik Riwut Km 23, Jalan Karanggan, Jalan Buluh Merindu, serta Jalan Tjilik Riwut Km 13.

Pemandangan api yang menyala bersamaan di berbagai sudut kota ini malah memunculkan kecurigaan. Ancaman karhutla di Palangka Raya bisa jadi bukan potensi musiman, tetapi mungkin saja sengaja dibakar.

Perjuangan Pemadaman di Medan Gambut

Pengerjaan pemadaman karhutla menghadapi tantangan berlapis. Karakteristik tanah gambut di Palangka Raya membuat api tidak hanya merayap di permukaan semak belukar, tetapi juga menyusup masuk ke dalam lapisan dalam tanah yang kering.

Luapan api di atas permukaan bisa saja dipadamkan, tetapi bara di bawah tanah sering kali tetap menyala dan memicu timbulnya titik api baru saat terhempas angin kencang.

Sebagian besar titik kebakaran terakumulasi di Kecamatan Jekan Raya yang dikenal sebagai wilayah paling rawan, disusul oleh Kecamatan Pahandut.

Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan yang melingkupi personel BPBD Kota Palangka Raya, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Manggala Agni, hingga para relawan pemadam kebakaran swadaya.

“Sebagian besar kejadian Karhutla saat ini terjadi di lahan milik masyarakat. Kondisi di lapangan cukup menantang karena sumber air untuk pemadaman cukup sulit dijangkau,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi.

Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Lokasi-lokasi yang terjangkau kendaraan, tim darat menjangkau titik api dengan membawa selang serta pompa air. Sementara jika akses darat terkunci oleh rawa dan vegetasi tebal, unit helikopter pengebom air (water bombing) dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari udara.

Keterlibatan masyarakat di tingkat tapak dipandang sebagai kunci utama penanganan dini sebelum api membesar dan meluas tak terkendali.

“Kami berharap masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membakar lahan dan segera melapor jika ada kejadian kebakaran,” imbuh Budi.

Antara Faktor Alam vs Ulah Manusia

Dalam praktik pengolahan lahan di Kalimantan Tengah, metode pembakaran sering kali dipilih karena dinilai paling murah dan cepat untuk membersihkan lahan sebelum ditanami atau diperjualbelikan.

Pola pengulangan kejadian kebakaran di lokasi yang sama dari tahun ke tahun memperkuat indikasi adanya keterlibatan manusia. Faktor cuaca kering hanyalah pemantik, sementara pemicu utamanya kerap berasal dari tindakan pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab.

Baik spekulan lahan perorangan maupun unit usaha yang memanfaatkan celah kemarau untuk menghemat biaya pembersihan tanah, sama-sama memberikan kontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana lingkungan ini.

Tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran, siklus tahunan kebakaran ini akan terus berulang tanpa henti.

Rusaknya Alam Gambut Turut Merusak Kesehatan Publik

Ekosistem gambut Kalimantan Tengah merupakan salah satu penyimpan cadangan karbon alami terbesar di dunia. Ketika gambut terbakar, karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun terlepas ke atmosfer dalam bentuk emisi gas rumah kaca.

Kerusakan ekosistem gambut turut merusak kesehatan publik. Selain itu, keanekaragaman hayati lokal dan tatanan hidrologi alami juga ikut rusak, menjadikan lahan tersebut semakin rentan terhadap banjir di musim hujan dan kebakaran di musim kemarau.

Dampak karhutla dirasakan secara langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Asap hasil pembakaran lahan gambut mengandung partikel halus (PM2.5) serta senyawa beracun yang berbahaya jika terhirup.

Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan, menjadi konsekuensi nyata yang harus ditanggung warga.

Selain ancaman kesehatan, asap tebal yang membumbung juga mengganggu jarak pandang dan keselamatan lalu lintas, melumpuhkan aktivitas mobilitas warga, serta mengancam kelancaran roda ekonomi daerah.

Beban ekonomi keluarga meningkat akibat biaya berobat dan penurunan produktivitas kerja, sementara lingkungan tempat tinggal mereka diselimuti kabut asap yang mengancam kehidupan harian.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.