Butuh waktu satu pekan bagi pesepeda dari Komunitas Chemonk, gowes dari Tugu Monas hingga tiba di Kota Jambi. Tujuan akhir mereka adalah Batang Toru, Sumatera Utara. Mengayuh sepeda sepanjang 1.700 kilometer ini bagian kampanye penyelamatan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dalam ekspedisi yang bertajuk Hutan Merdeka.
Sudah separuh perjalanan yang mereka selesaikan saat tiba di Kota Jambi. Jawahir, satu di antara lima pesepeda yang ikut dalam ekspedisi ini, terlihat masih sangat bersemangat. “Ini perjalanan yang seru. Kalau lelah, ya pasti,” kata Jawahir, pada Minggu (9/8/2026).
Bagi pria berambut panjang ini, perjalanan melintasi Sumatera kali ini sesungguhnya tidaklah mudah. Selain kontur jalan yang bergelombang dan tanjakan, kemacetan parah di beberapa titik, faktor cuaca juga sangat menantang.
“Kami harus menghadapi rute sumatera di bawah terik matahari yang tidak biasa. Itu cukup menantang. Tapi secara umum kita cukup enjoy, masih bisa bercanda di jalan,” terangnya.
Rekan seperjuangannya gowes, Fitri Utami, juga cukup menikmati gowes kampanye perlindungan hutan ini. Perempuan ini sangat antusias untuk melanjutkan perjalanan 800 kilometer lagi dari Kota Jambi ke Batang Toru. Bagi Fitri, ini adalah rute gowes terpanjang di hidupnya.
Kampanye yang jadi misi mereka dalam perjalanan ini menurutnya jadi motivasi tersendiri dan mendorongnya untuk terus kuat melanjutkan ekspedisi. “ Bisa bergabung dengan mereka melakukan campaign ini sangat membanggakan, bisa mengedukasi publik jaga hutan, karena bukan cuma manusia yang butuh, tapi juga satwa di dalamnya, itu habitatnya,” tutur Fitri.
Dua pesepeda lagi, Veri Sanovri dan Fadlan Syam, menyebut ekspedisi kali ini punya makna besar untuk kehidupan. Kampanye melindungi hutan pada ekspedisi Hutan Merdeka ini, untuk menghadirkan pemahaman ke publik, bahwa hutan harus dijaga bila manusia ingin hidup layak. Merusak hutan hanya akan menghadirkan bencana.
“Ini kampanye penting untuk mengingatkan kita semua bahwa bukan hanya manusia saja yang butuh hutan, tapi juga semua yang ada di dalam hutan itu, termasuk satwa seperti orangutan. Hutan rusak akan jadi bencana untuk semua,” ungkapnya.
Menurut Veri, selama gowes, dukungan publik pada mereka cukup bagus. Sejauh ini, katanya, tidak ada gangguan berarti. Bahkan Fadlan mengapresiasi pengendara di Sumatera yang memberikan kenyamanan kepada pesepeda di jalan lintas. Pada saat rombongan ini ditemui Minggu malam, hanya satu orang yang tidak bisa hadir, yakni Sihol, yang sedang memiliki keperluan lain.

Manager Komunikasi Satya Bumi, Restu Diantina Putri, pada Diskusi Publik yang digelar di Universitas Jambi, Sabtu (8/8/2026), mengungkap fakta kondisi Orangutan Tapanuli saat ini. Dia menyebut Orangutan Tapanuli merupakan kera besar terlangka di dunia. Jumlahnya hanya 716 individu pada survey yang dilakukan 2023.
Kondisi bentang alam yang menjadi habitatnya, yakni Batang Toru, sudah semakin terdegradasi. Rumah bagi Orangutan Tapanuli itu dikepung industri. Ada Tambang Emas PT Agincourt Resources, PLTA Batang Toru PT North Sumatera Hydro Energy, Perkebunan Sawit PT Sago Nauli, Perkebunan PTPN III, PT Toba Pulp Lestari (izin baru dicabut), Geothermal PT SOL, dan PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu.
“Ketujuh industri ini diindikasikan menyebabkan kerusakan yang parah di ekosistem Batang Toru. Banjir besar yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, tidak hanya menyebabkan korban pada manusia. Populasinya orangutan diperkirakan merosot 7 persen atau 58 individu pasca bencana hidrologis ini,” kata Restu.
Dia menyebut, Ekspedisi Hutan merdeka yang kini dilakukan, bagian dari upaya untuk mengingatkan semua pihak, baik pemerintah, pengusaha, masyarakat, dan yang lainnya, untuk peduli pada nasib hutan yang masih terus dieksploitasi demi kepentingan segelintir orang. Ada manusia, satwa, dan seisi alam yang dipertaruhkan saat terus menggerus hutan.
Terlebih untuk Orangutan Tapanuli, jelasnya, Batang Toru adalah rumahnya. “Tidak ada rumah kedua mereka, Penyelamatan Orangutan Tapanuli hanya dengan menjaga rumahnya, yaitu Batang Toru,” jelasnya.




Comments are closed.