Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Kenapa Iduladha tak semeriah dan banyak tradisi seperti Idulfitri?

Kenapa Iduladha tak semeriah dan banyak tradisi seperti Idulfitri?

kenapa-iduladha-tak-semeriah-dan-banyak-tradisi-seperti-idulfitri?
Kenapa Iduladha tak semeriah dan banyak tradisi seperti Idulfitri?
service

● Dibandingkan Idulfitri, perayaan Iduladha jauh kalah meriah.

● Jika dilihat dari maknanya, Iduladha bahkan bisa dinilai lebih mendalam.

● Yang penting bukan masalah meriahnya, tapi bagaimana kita bisa menerapkan nilai luhur dalam Iduladha.


Euforia masyarakat, baik secara langsung maupun di media sosial, gegap gempita setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri. Pusat perbelanjaan dan para brand pun menawarkan ragam promo yang menggugah nafsu belanja masyarakat.

Namun menjelang Iduladha, kita tidak merasakan kemeriahan yang sama. Meski sama-sama hari besar umat Islam yang bahkan tak kalah sakral, gaung Iduladha di ruang publik sering kali tidak sebesar Idulfitri.

Dulu, penyembelihan hewan kurban menjadi pengalaman sosial yang sangat terasa di lingkungan sekitar. Warga berkumpul, bekerja bersama, memasak bersama, lalu membagikan daging kepada tetangga dan masyarakat yang membutuhkan.

Iduladha ibarat hanya menjadi pestanya para peternak hewan kurban saja.

Kini banyak masyarakat urban memilih layanan kurban digital atau menyerahkan seluruh proses kepada lembaga tertentu. Perlahan, Iduladha kehilangan sebagian nuansa komunal yang dulu membuatnya terasa hangat dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tak banyak promo khusus “lebaran haji” dan traffic percakapannya di media sosial pun cenderung lebih singkat. Kita hanya bisa tahu waktu lebaran haji sudah dekat jika sudah banyak pedagang hewan kurban dadakan di pinggir jalan.

Padahal, secara spiritual, Iduladha memiliki makna yang sangat mendalam: tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Lalu mengapa Idulfitri justru terasa lebih ramai?

Makna berkurban Iduladha

Iduladha berkisah tentang pengorbanan Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya Nabi Ismail karena perintah Allah yang membawa pesan tentang pengorbanan hakiki umatnya terhadap tuhannya.

Iduladha mengandung pesan sosial yang kuat. Daging hewan yang disembelih bukan untuk dinikmati sendiri sepenuhnya, tetapi untuk dibagikan kepada mereka yang berhak: keluarga, kerabat, tetangga, dan terutama fakir miskin. Idul Adha mengajarkan tentang melepaskan, berbagi, dan mendistribusikan rezeki kepada sesama.

Meski tak semeriah dan merasa ‘wajib’ untuk mudik, bukan berarti tak ada tradisi Iduladha di masyarakat Indonesia. Toron adalah contoh tradisi mudik orang Madura di momen Iduladha.

Inti dari Idul Adha adalah pengorbanan (kurban) dan ibadah haji yang fokusnya bukan bersenang-senang, melainkan berbagi daging kurban ke sesama. Suasananya lebih khidmat, tenang, dan berpusat di area masjid/tempat penyembelihan, bukan di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.

Sedangkan Idulfitri bermakna kelulusan kita setelah beribadah puasa di bulan Ramadan. Karena itu ketika hari lebaran tiba, kita merasa berhak merayakannya karena sudah “lulus” memurnikan diri.


Read more: Melihat kembali film “Mudik” dan gambaran beban sosial saat pulang kampung


Idulfitri lebih mudah dikomodifikasi

Karena dianggap sebagai self reward atas menahan nafsu selama sebulan itulah, Idulfitri bisa menjelma menjadi peristiwa sosial dan ekonomi berskala besar dengan aktivitas mudik, membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas sebagai wujud atas kemenangan yang telah dicapai. Masyarakat jadi lebih konsumtif sebagai bentuk euforia.

Ditambah lagi, secara aturan negara, Idulfitri juga diberkahi dengan adanya tunjangan hari raya dan libur panjang. Dua hal ini tak ada di Iduladha.

Berbagai variabel yang terdapat pada momen Idulfitri tersebut menunjukkan konsumsi saat Lebaran tidak lagi sekadar soal kebutuhan praktis, tetapi juga menyangkut identitas sosial dan emosional.

Dalam perspektif perilaku konsumen, praktik seperti membeli pakaian baru atau menyiapkan perayaan besar sering kali menjadi bentuk symbolic consumption yaitu konsumsi untuk membangun makna dan citra sosial.


Read more: Melawan taktik baru ‘pre-order’ produk Ramadan-Idulfitri dengan adab belanja khas Islam


Karena sudah menjadi kebiasaan berskala nasional, praktik keagamaan seperti Idulfitri kini semakin beririsan dengan gaya hidup dan pasar.

Sementara itu, nilai dan makna dalam Iduladha cenderung pada momen refleksi diri, meningkatkan rasa kesederhanaan, dan menerapkan rasa toleransi antar sesama.

Inti perayaannya bukan pada kemeriahan visual, melainkan pada pengorbanan dan distribusi sosial melalui kurban. Nilai-nilai seperti keikhlasan dan berbagi memang penting, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi konten yang menarik perhatian media sosial.

Alhasil, nilai-nilai yang terkandung Iduladha tak seluwes Idulfitri untuk dikomodifikasi. Industri lebih mudah membuat kampanye tentang belanja Ramadan yang bisa dikaitkan dengan konsumerisme dibanding membicarakan pengendalian diri atau solidaritas sosial.

Tidak ada yang salah meski tidak semeriah Idulfitri

Iduladha membawa pesan yang lebih tenang ketimbang Idulfitri. Kepedulian sosial yang melekat dari Iduladha membuat kita untuk menahan dari keinginan pribadi.

Jangan salah, perputaran ekonomi pada hari Iduladha juga tidak bisa dikatakan kecil. Ada jutaan transaksi jual-beli hewan kurban dengan lebih dari 608 ton bungkus plastik untuk dibagikan yang terjadi di momen ini.

Dalam setiap lebaran haji atau idul adha, tidak hanya daging yang meningkat konsumsinya tapi juga plastik kresek yang tidak ramah lingkungan

Plastik kresek yang higienitasnya tak terjamin seperti ini kerap digunakan untuk membungkus daging kurban. PORNSIT SONGSITTICHOKE/shutterstock

Untuk meningkatkan nilai pengorbanan dalam Iduladha, ada baiknya jika kita mawas diri terhadap persoalan lain yang jarang dibahas seperti food waste atau makanan terbuang. Sebab tak sedikit ada orang yang menerima daging terlalu banyak sampai akhirnya disimpan terlalu lama atau bahkan dibuang.


Read more: Pentingnya mengendalikan konsumsi dan berbagi secara berkelanjutan saat Iduladha


Perilaku konsumsi berlebihan dan sistem distribusi yang tidak efisien dapat meningkatkan jumlah limbah makanan. Akan lebih baik jika kita bisa sukarela memberikan daging kepada yang membutuhkan sekalipun daging tersebut merupakan jatah warga ataupun sebagai penyumbang hewan kurban.

Tidak ada yang salah jika Iduladha tak bisa semeriah Idulfitri. Yang terpenting adalah teladan dalam Iduladha yang mencakup nilai religius, kesadaran terhadap perilaku berlebih, dan memantik rasa tanggung jawab sosial yang bisa membuat kita jadi individu yang lebih baik dan cinta terhadap saudara-saudara kita yang kurang mampu.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.