Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Ketidakadilan Gender di Balik Krisis Air

Ketidakadilan Gender di Balik Krisis Air

ketidakadilan-gender-di-balik-krisis-air
Ketidakadilan Gender di Balik Krisis Air
service

Krisis air global bukan sekadar persoalan menipisnya cadangan air tanah atau mengeringnya sungai akibat perubahan iklim. Di balik fenomena ekologis ini, terdapat realitas sosial yang timpang: perempuan dan anak perempuan adalah kelompok yang paling menderita, namun paling sedikit dilibatkan dalam mencari solusi.

Laporan terbaru dari PBB dan organisasi kemanusiaan seperti World Vision menyingkap bagaimana krisis air memperlebar jurang ketidakadilan gender. Bagi jutaan perempuan, air bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan penghalang besar bagi pendidikan, ekonomi, hingga keselamatan nyawa mereka.

Perubahan iklim bekerja seperti mesin kemiskinan yang diskriminatif. Data menunjukkan bahwa kenaikan suhu global sebesar 1 derajat Celcius berdampak jauh lebih destruktif pada rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan. Pendapatan mereka berisiko merosot hingga 34% lebih dalam dibandingkan rumah tangga yang dipimpin laki-laki.

Ketimpangan ini berakar pada beban domestik yang tak berbayar. Secara kolektif, perempuan di seluruh dunia menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengambil air. Di tengah cuaca ekstrem, waktu yang dihabiskan untuk tugas ini terus membengkak—rata-rata bertambah 55 menit per minggu. Setiap menit yang terbuang untuk mencari air adalah menit yang hilang untuk bersekolah, mengasuh anak, atau menjalankan aktivitas ekonomi produktif.

Dampak krisis air merembet ke sektor pendidikan dan kesehatan publik. Di 40 negara berpenghasilan rendah, akses sanitasi yang buruk telah memaksa sekitar 10 juta remaja putri untuk absen dari sekolah. Tanpa fasilitas toilet yang layak dan air bersih untuk manajemen kebersihan menstruasi, hak mereka atas pendidikan pun terabaikan.

Lebih jauh lagi, Helen Hamilton, pakar kebijakan kesehatan masyarakat dari WaterAid, memperingatkan adanya ancaman kekerasan berbasis gender. Ketika sumber air semakin jauh ke wilayah terpencil akibat kekeringan, perempuan terpaksa menempuh perjalanan panjang yang berbahaya, meningkatkan risiko mereka menjadi korban kekerasan di tengah perjalanan.

Perempuan sebagai Pengelola, Bukan Sekadar Korban

Meski sering ditempatkan sebagai korban, perempuan sebenarnya memegang kunci solusi. UNESCO menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perempuan dilibatkan secara aktif dalam tata kelola air.

Salah satu bukti nyata keberhasilan ini terlihat di Rumate, Kenya. Melalui program yang diinisiasi World Vision, para perempuan yang sebelumnya menghabiskan empat jam sehari mencari air, kini dilibatkan langsung dalam pembangunan infrastruktur dan pengeboran sumur. Hasilnya transformatif: angka malnutrisi pada anak-anak menurun drastis karena akses air bersih terjamin, sementara para ibu mulai memiliki waktu luang untuk membangun usaha mikro.

Parvin Ngala, Direktur Global Air di World Vision, menegaskan bahwa norma sosial selama ini sering kali abai dalam menghargai jerih payah perempuan dalam mengakses air. Padahal, ketika akses terhadap air diberikan secara adil dan perempuan diberikan hak suara dalam pengambilan keputusan, seluruh komunitas akan mendapatkan manfaat kesehatan dan ekonomi yang lebih baik.

Memperjuangkan hak air bagi perempuan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dasar. Ini adalah fondasi utama dalam membangun ketahanan bangsa di tengah masa depan alam yang semakin tidak menentu. Air bersih harus dipandang bukan sebagai kemewahan, melainkan hak asasi yang menjadi pintu masuk bagi kesetaraan kesempatan bagi semua gender.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.