Mon,18 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Dunia Sastra Prancis Melirik Indonesia

Ketika Dunia Sastra Prancis Melirik Indonesia

ketika-dunia-sastra-prancis-melirik-indonesia
Ketika Dunia Sastra Prancis Melirik Indonesia
service

Di tengah-tengah kondisi dunia yang sedang kacau balau, ada kabar baik dari jagat sastra global. Belum lama ini, pemerintah Prancis mengumumkan bahwa Indonesia telah resmi bergabung dengan jaringan internasional Choix Goncourt, sebagai negara anggota ke-51. Anggota perkumpulan ini berhak memilih karya yang menjadi nominasi untuk ‘Prix Goncourt’ di Prancis.   

Meski gengsinya tidak sebesar penghargaan Nobel Sastra, namun Prix Goncourt yang didirikan pada 1903, merupakan penghargaan terpenting dalam dunia sastra Prancis.  Sejak tahun 1998, Choix Goncourt memberikan kesempatan kepada para juri mahasiswa dari seluruh dunia untuk mengulas daftar nominasi resmi sekaligus membagikan pendapat mereka terhadap karya sastra kontemporer berbahasa Prancis.

Di Indonesia, sebanyak 13 mahasiswa jurusan sastra Prancis dari tujuh universitas terpilih menjadi anggota juri dan turut serta dalam pemilihan karya sastra Prancis kontemporer terbaik, sehingga menempatkan kaum muda Indonesia di pusat dialog sastra global. 

Ada empat buku yang diseleksi, yaitu “La Nuit au coeur” karya Nathacha Appanah, “Le Bei Obscur” karya Caroline Lamarche, “Koikhoze” karya Emmanuel Carrere, serta “La Maison vide” karya Laurent Mauvignier. Tiga mahasiswa Sastra Prancis mengaku genre buku-buku yang mereka kaji ini semua bagus, khususnya yang bertemakan perempuan. Kelak salah satu buku yang paling banyak mendapatkan tinjauan terbaik yang akan mendapatkan penghargaan Prix Goncourt. 

“Dari empat karya ini baru tiga yang kami baca untuk di-review. Ada yang bertemakan sejarah berbalut action, dan dua diantaranya mengangkat kehidupan perempuan,” ungkap Alaiya (21), mahasiswa Sastra Prancis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kepada Alif.id

Semangat literasi di kalangan generasi muda ini sungguh mengagumkan, dan hebatnya mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam memahami jalan cerita dalam bahasa Prancis, padahal tema-tema yang diangkat cukup serius.

“Sastra Prancis dengan beragam genre ini lengkap ada thriller-nya (kisah yang menegangkan) seperti dalam buku “Koikhoze” atau seperti yang ditulis oleh Nathacha Appanah, ia mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga. Ada beragam sudut pandang dan akhir ceritanya sangat di luar dugaan,” kata Nana (21) dengan antusias. Ia mahasiswa Sastra Prancis dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. 

Juri-juri dari Indonesia, tiga mahasiswa jurusan sastra Prancis. KiKa: Cinta, mahasiswi Unimed Medan, Nana mahasiswi UPI Bandung, dan Alaiya mahasiswi UNJ.

Peluang Indonesia untuk Dikenal dalam Jagat Sastra Global

Terpilihnya Indonesia sebagai anggota jaringan Prix Goncourt bukan tanpa alasan. Selain menjadi bagian dari program “Ayo Baca!” yang dicanangkan tahun lalu, pihak Prancis menilai minat pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk mempelajari bahasa Prancis sangat tinggi. Ini menjadi keuntungan bagi pasar buku-buku sastra Prancis.

“Suatu kehormatan besar bagi kami dari Akademi Goncourt dengan dukungan dari Kedutaan Besar Prancis, Pusat Kebudayaan Prancis, dan tujuh universitas, juga tentunya pemerintah Indonesia, yang telah membuka peluang bagi para mahasiswa untuk membaca karya-karya sastra Prancis. Kita saat ini sedang dalam era lebih mudah menghancurkan daripada membangun, maka sastra membawa pesan yang jelas bagi semua pihak untuk memulai dialog kemanusiaan antara kebudayaan dan masyarakat,” jelas Phillipe Claudel, Presiden Akademi Goncourt. 

Claudel datang ke Indonesia bersama istrinya dan Karina Hocine. Claudel dan Hocine adalah dua tokoh penting dalam sastra dan penerbitan di Prancis. 

Saat ditanyakan karya sastra dari Indonesia yang paling bagus dan menarik, dengan cepat ia menyebutkan salah satu karya Eka Kurniawan, “Cantik itu Luka”. Dalam bahasa Prancis karya Eka diterjemahkan menjadi “La Fille du Roi des Singes”.

“Buku terakhir yang saya baca sekitar dua bulan lalu adalah karya Eka Kurniawan yang berjudul “La Fille du Roi des Singes”, karya ini diterjemahkan dengan sangat indah,” ungkap Claudel kepada Alif.id 

Ia menambahkan, kehadiran Indonesia dalam jaringan Choix Goncourt akan membuka ruang-ruang baru bagi dialog, penerjemahan, dan penyebaran gagasan, dengan menempatkan para pembaca muda sebagai pusat hubungan budaya antara kedua negara. Selain Jakarta, Claudel yang sehari-hari aktif sebagai novelis dan sutradara, akan berkunjung ke Makassar International Writers Festival pada 14–17 Mei 2026. 

Tags:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.