
Ya Rasulallah, kami ingin bermuhasabah, kami ingin menghitung diri.
Kami ingin wadul ke haribaan njenengan.
Bukan hanya tentang nasib diri. Tapi sekaligus ingin konsultasi bagaimana supaya negara kami ini juga mau bermuhasabah ya Rasul…
Tapi kami pesimis Ya Rasul. MUHASABAH tidak dikenal di NEGARA kami, apalagi sampai dipakai dalam benak para pengurusnya yang bernama pemerintah.
Negara, karena DNA-nya sekuler, hanya mengenal ‘evaluasi‘. Evaluasi hanya diukur dengan parameter kata yang tidak ada unsur Gusti Allah-nya sama sekali: yaitu utilitarian.
Sementara muhasabah, berjangkar pada Tauhid yang jelas dan kuat. Ukurannya adalah MASLAHAT: kebermanfaatan tata aturan dan pelaksanaannya harus menentukan keselamatan kami di hadapan Allah di akhirat Ya Rasul.
Negara tidak punya urusan warganya selamat di akhirat karena urusannya hanya dunia. Yang penting warganya bayar pajak. Tapi Negara menuntut kesetiaan warganya yang paling tinggi, di atas kesetiaan kepada Allah.
Sekarang kami sudah terlanjur bernegara Ya Rasul.
Sementara banyak tingkah laku negara yang diwujudkan pengurusnya yang seharusnya dihisab dengan muhasabah. Karena kesetiaan kami di Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib hanya kepada Allah dan engkau Ya Rasul. Shohibu baiti.
Bagaimana ini Ya Rasulallah?





Comments are closed.