Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Penghuni Pertama di Pulau Wawonii, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Kisah Penghuni Pertama di Pulau Wawonii, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

kisah-penghuni-pertama-di-pulau-wawonii,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tenggara
Kisah Penghuni Pertama di Pulau Wawonii, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
service

19 Februari 2026 14.00 WIB • 2 menit

Kisah Penghuni Pertama di Pulau Wawonii, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara


Pulau Wawonii merupakan salah satu pulau yang berada di Laut Banda, Sulawesi Tenggara. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara tentang kisah penghuni pertama yang mendiami Pulau Wawonii tersebut dulunya.

Simak kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Tenggara tersebut dalam artikel berikut ini.

Kisah Penghuni Pertama di Pulau Wawonii, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Dikutip dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), alkisah pada zaman dahulu Pulau Wawonii belum dihuni oleh manusia seperti saat sekarang. Dulunya ada sekelompok manusia yang berasal dari Bungku yang berlabuh di Pulau Wawonii.

Kelompok ini dipimpin oleh Ladune. Dia juga membawa anak dan keluarganya menuju pulau tersebut.

Sesampainya di sana, Ladune memutuskan untuk menetap di sana. Mereka kemudian mulai bermukim dan beraktivitas di Pulau Wawonii.

Suatu hari, kelompok Ladune tiba-tiba diserang oleh rombongan siput putih. Kejadian ini membuat mereka meninggalkan Pulau Wawonii dan mengungsi menuju Soropia.

Tidak lama setelah Ladune dan keluarganya pergi, datang pula sekelompok manusia lain ke Pulau Wawonii. Kelompok yang dipimpin oleh Lansamalangi ini datang dari Kulisusu ke pulau tersebut.

Sesampainya di sana, Lansamalangi memerintahkan semua anggotanya untuk menyisir Pulau Wawonii. Dia ingin tahu apakah sudah ada manusia yang terlebih dahulu datang ke sana sebelum dirinya.

Anggota Lansamalangi kemudian berpencar mengitari Pulau Wawonii. Setelah berkeliling, Lansamalangi melihat ada tungku bekas memasak di pulau tersebut.

Dari temuannya ini, Lansamalangi menyimpulkan bahwa sudah ada manusia sebelumnya yang sempat menghuni Pulau Wawonii. Namun Lansamalangi berkeinginan untuk menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang menghuni pulau tersebut.

Lansamalangi kemudian mengeluarkan goloknya dan menanamnya di bawah kayu anta-anta. Setelah itu, dia bersama kelompoknya kembali ke Kulisusu.

Sesampainya di Kulisusu, Lansamalangi mengumpulkan semua anggota keluarganya. Dia kemudian membawa anggota keluarganya tersebut untuk menetap di Pulau Wawonii.

Di tengah perjalanan, Lansamalangi melihat kepulan asap di Pulau Wawonii. Ternyata Ladune dan keluarganya kembali ke Pulau Wawonii setelah serangan siput putih tidak terjadi lagi.

Muncul perdebatan antara Ladune dan Lansamalangi begitu dia sampai di sana. Kedua pemimpin ini berdebat jika mereka merupakan penghuni pertama di Pulau Wawonii.

Setelah berdebat cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk sama-sama menetap di sana. Pada suatu hari, Ladune dan Lansamalangi pergi berjalan menuju hulu Sungai Ndolomo.

Di sana mereka menemukan sebuah perkampungan yang dipimpin oleh Kobimoa. Muncul kembali perdebatan di antara mereka bertiga tentang siapa yang pertama kali menghuni pulau tersebut.

Menurut kepercayaan masyarakat, Kobimoa dipercaya sebagai raja pertama di Wawonii. Dulunya terjadi sebuah perkelahian di tengah masyarakat ketika memilih raja atau pemimpin di antara mereka.

Tidak lama kemudian, muncul pengawal Kobimoa, yakni Latungga yang pulang dari laut. Latungga pulang mencari ikan di laut sambil membawa kobi.

Kobi sendiri merupakan wadah untuk menyimpan ikan yang terbuat dari bambu dan dianyam berbentuk silinder. Latungga yang baru pulang dari laut kemudian melihat pertikaian di antara masyarakat.

Ketika Latungga mendekat, tiba-tiba keluar seorang bayi laki-laki dari kobi yang dia bawa. Ajaibnya lagi, bayo tersebut bisa berbicara pada orang-orang yang tengah bertikai.

Bayi tersebut menyuruh orang-orang untuk berhenti bertikai antara satu sama lain. Bayi tersebut kemudian berkata jika dia diutus untuk menjadi raja di tengah mereka.

Sejak saat itu, bayi tersebut diberi nama Kobimoa. Nama ini bermakna sebagai manusia yang keluar dari kobi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.