Sun,19 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Komunitas Lubuk Ilmu Rembang, Sastra Bangun Ekosistem Literasi Jadi Media Kreativitas Generasi Muda

Komunitas Lubuk Ilmu Rembang, Sastra Bangun Ekosistem Literasi Jadi Media Kreativitas Generasi Muda

komunitas-lubuk-ilmu-rembang,-sastra-bangun-ekosistem-literasi-jadi-media-kreativitas-generasi-muda
Komunitas Lubuk Ilmu Rembang, Sastra Bangun Ekosistem Literasi Jadi Media Kreativitas Generasi Muda
service

Rembang, NU Online

Komunitas Lubuk Ilmu Rembang mengadakan Festival Sastra Rembang di Taman Budaya Sambongan, Sulang Rembang pada, Ahad (21/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 75 peserta lomba cipta puisi, baca puisi, cerpen, dan monolog. Sastra hadir sebagai ruang perjumpaan lintas kalangan sekaligus upaya merawat semangat literasi generasi muda di tengah derasnya arus digital. 

Ketua Komunitas Lubuk Ilmu, Danang Pamungkas menyampaikan, festival tersebut dirancang sebagai ruang refleksi bagi generasi muda agar tetap merayakan sastra dalam berbagai bentuk. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah inklusif yang mempertemukan pelajar, guru, buruh pabrik, hingga seniman untuk menghidupkan kembali ekosistem literasi berbasis narasi lokal dan sejarah daerah. 

“Kami ingin menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar buku tua berdebu, tetapi sesuatu yang hidup, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Danang kepada NU Online, Senin (22/6/2026).

Menurut Danang, tujuan utama festival ini adalah menggali sekaligus meningkatkan bakat sastra generasi muda serta menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk menyuarakan cerita-cerita unik dari daerahnya sendiri. Ia menegaskan bahwa festival tidak hanya berhenti pada seremoni, melainkan diarahkan untuk menghasilkan karya nyata.

Salah satu target yang ingin dicapai adalah penerbitan buku antologi bersama hasil workshop yang nantinya akan dibahas secara formal. Langkah tersebut diharapkan dapat melahirkan penulis-penulis baru dari Rembang dan sekitarnya.

Keberadaan Sastra bagi Generasi Masa Kini

Bagi Danang, anggapan bahwa gen z lebih dekat dengan media sosial dibandingkan buku, ia menilai fenomena tersebut bukan ancaman, melainkan pergeseran medium.

“Anak muda sekaran bukannya tidak suka membaca atau bercerita. Mereka hanya mengonsumsinya melalui format yang berbeda, seperti takarir, utas media sosial, video pendek, atau platform digital lainnya,” imbuhnya.

Karena itu, tantangan bagi pegiat literasi adalah menghadirkan sastra dalam format yang mampu masuk ke ruang digital. Menurutnya, media sosial dan buku tidak perlu dipertentangkan karena keduanya dapat saling melengkapi.

Ia menyebut, konsep storytelling sebagai kunci agar sastra tetap relevan di kalangan anak muda. Bentuk-bentuk seperti sastra digital, musikalisasi puisi, komik, hingga adaptasi karya sastra ke konten media sosial dinilai menjadi cara sastra berbicara dalam “bahasa” Generasi Z.

“Ketika mereka menyadari bahwa kegalauan, ambisi, dan pencarian jati diri mereka tertuang secara indah melalui sastra, maka relevansi itu akan tercipta dengan sendirinya,” sahut Danang.

Danang juga menilai, sastra memiliki peran penting di tengah maraknya hoaks, disinformasi, dan konten instan yang beredar cepat di dunia digital. Sastra, menurutnya, dapat menjadi ruang jeda yang melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus memperdalam kepekaan rasa.

“Membaca atau menulis sastra membantu Generasi Z menyaring informasi dengan lebih bijak, memperluas perspektif, dan tidak mudah terprovokasi oleh riuhnya dunia digital,” tandasnya.

Lebih jauh, ia menekankan, sastra memiliki nilai kemanusiaan yang luhur sekaligus fungsi katarsis atau pelepasan emosi. Melalui tokoh dalam cerita maupun bait puisi, generasi muda dapat menemukan refleksi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi, termasuk isu kesehatan mental.

“Sastra membuat mereka merasa tidak sendirian dalam berjuang. Selain itu, sastra yang berpijak pada konteks lokal membantu generasi muda tetap memiliki akar budaya dan kepekaan sosial yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan Festival Sastra Rembang 2926  dapat menjadi pemantik jangka panjang bagi tumbuhnya ekosistem literasi yang lebih inklusif. Ia ingin melihat kolaborasi antara komunitas, sekolah, dan pegiat seni semakin erat sehingga Rembang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga produsen karya sastra yang diperhitungkan di tingkat nasional.

Mazka, salah satu peserta lomba cipta puisi dan cerpen, menilai, Festival Sastra Rembang 2026 menjadi ruang inspirasi sekaligus wadah berkreasi bagi generasi muda.

“Saya melihat banyak pelajar yang antusias. Mata mereka berbinar-binar ketika tampil atau menyaksikan pembacaan puisi dan monolog. Semangat seperti itu harus dirawat,” ungkap Mazka.

Menurutnya, Komunitas Lubuk Ilmu memiliki peran penting dalam menyediakan ruang bagi anak-anak muda yang memiliki minat terhadap dunia literasi. Ia bahkan menyebut festival tersebut sebagai “oase di tengah padang pasir,” jawabnya.

Mazka mengaku sempat mendengar cerita seorang peserta pelajar yang kesulitan menemukan teman sebaya dengan minat membaca dan menulis. Bagi peserta tersebut, festival sastra menjadi ruang berharga untuk menemukan lingkungan yang mendukung perkembangan dirinya.

“Anak-anak yang mencintai sastra beruntung menemukan jati diri mereka. Namun keberuntungan itu tidak akan berarti jika mereka tidak memiliki ruang untuk berekspresi dan berkembang. Tanpa ruang tersebut, potensi besar mereka bisa hilang dan kita berisiko kehilangan penulis atau sastrawan masa depan,” sambungnya.

Mazka juga meyakini bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial yang melingkupi penulisnya. Menurutnya, sastra merepresentasikan kondisi sosial, sistem nilai, norma, hingga berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

“Seorang penulis menyerap kenyataan hidup di sekitarnya dan menuangkannya ke dalam karya. Di Indonesia, bahan baku itu sangat melimpah karena berbagai persoalan sosial selalu hadir, mulai dari korupsi, kemiskinan, perusakan lingkungan, diskriminasi, hingga lemahnya penegakan hukum,” katanya.

Meski demikian, ia menilai karya sastra tidak selalu mampu memberikan dampak langsung terhadap perubahan sosial. Pengalamannya menulis cerpen bertema kerusakan Pegunungan Kendeng sejak 2016 menunjukkan bahwa kritik melalui karya sastra belum tentu mampu menghentikan persoalan yang dikritisi.

Karena itu, ia memandang aktivitas menulis fiksi lebih sebagai sarana menyalurkan emosi, mulai dari kemarahan, kesedihan, hingga frustrasi terhadap berbagai persoalan yang ditemui sehari-hari

Peserta lainnya, Mylka, menilai Festival Sastra Rembang bukan sekadar ajang memamerkan karya, melainkan ruang bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa tentang sastra.

“Saya ingin menjadikan kesempatan ini sebagai tempat belajar dengan mengeksekusi ide saya. Saya mengikuti lomba cerpen yang diadakan Komunitas Lubuk Ilmu untuk kedua kalinya karena saya percaya tidak ada kata berhenti untuk belajar,” kata Mylka.

Ia melihat Rembang memiliki energi literasi yang sedang bertumbuh dan ingin menjadi bagian dari gerakan tersebut. Selain itu, festival juga memberinya kesempatan untuk memperoleh perspektif baru dari peserta lain.

Menurut Mylka, sastra menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh konten digital, yakni ruang untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang bergerak sangat cepat.

“Saya tidak anti-media sosial, bahkan menggunakannya untuk berbagi tulisan. Namun sastra adalah tempat saya kembali ketika perlu mengingat bahwa kedalaman makna lebih penting daripada kecepatan yang sia-sia,” paparnya.

Ia meyakini sastra akan tetap relevan selama mampu beradaptasi dengan cara Generasi Z mengonsumsi konten. Menurutnya, banyak anak muda masih menikmati cerita, hanya saja medium yang digunakan telah berubah, mulai dari platform digital hingga buku harian daring.

“Selama masih ada orang yang ingin memahami dirinya sendiri dan orang lain melalui cerita, sastra akan tetap hidup. Kita sebagai Generasi Z memiliki peran untuk menjaga agar sastra tidak mati begitu saja,” tegas Mylka.

​​​​​​​Bagi Mylka, sastra mengajarkan seseorang untuk tidak puas hanya pada permukaan persoalan. Melalui novel, puisi, maupun cerpen, berbagai isu seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, dan konflik budaya dapat dipahami dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

​​​​​​​“Sastra membantu saya melihat bahwa isu sosial bukan sesuatu yang abstrak. Ia hidup di sekitar kita, dan kata-kata adalah alat untuk menamainya,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.