Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kraton Jogja Angkat Orkestra Nusantara di Jakarta, “Gregah Nusa” Gaungkan Kebangkitan Budaya

Kraton Jogja Angkat Orkestra Nusantara di Jakarta, “Gregah Nusa” Gaungkan Kebangkitan Budaya

kraton-jogja-angkat-orkestra-nusantara-di-jakarta,-“gregah-nusa”-gaungkan-kebangkitan-budaya
Kraton Jogja Angkat Orkestra Nusantara di Jakarta, “Gregah Nusa” Gaungkan Kebangkitan Budaya
service

17 Mei 2026 19.33 WIB • 2 menit

Kraton Jogja Angkat Orkestra Nusantara di Jakarta, “Gregah Nusa” Gaungkan Kebangkitan Budaya


Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat membawa konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) ke Jakarta sebagai seruan kebangkitan budaya dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional. Tajuk “Gregah Nusa” dipilih sebagai simbol ajakan bangkitnya kesadaran kolektif bangsa melalui musik.

Konser ini akan digelar pada Sabtu (16/5/2026) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat mulai pukul 17.00 WIB. Yogyakarta Royal Orchestra akan menampilkan keberagaman musikal Nusantara dalam balutan orkestra modern dan instrumen tradisi.

Ketua Panitia, GKR Bendara menjelaskan bahwa “Gregah Nusa” bukan sekadar tema artistik. Istilah tersebut merepresentasikan semangat bangkit, bergerak, dan terjaga untuk kembali meneguhkan identitas bangsa.

“Gregah dalam bahasa Jawa berarti bangkit dan Nusa merujuk pada tanah air, sehingga konser ini menjadi seruan aksi untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas bangsa,” kata GKR Bendara, Sabtu (16/5/2026).

Ia menegaskan bahwa konser ini menjadi medium pelestarian budaya yang relevan dengan konteks modern. Musik dipilih sebagai bahasa universal untuk menggugah rasa kepemilikan terhadap keberagaman Indonesia.

“Melalui musik, kami ingin memantik semangat pemulihan dan kemajuan bangsa di tengah tantangan global,” katanya.

Alasan pemilihan Jakarta

GKR Bendara juga menjelaskan alasan pemilihan Jakarta sebagai lokasi konser YRO. Menurutnya, ibu kota menjadi ruang strategis untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam.

“Jakarta adalah pusat pertemuan berbagai latar belakang, sehingga nilai-nilai budaya Jawa dapat diakses secara lebih inklusif oleh masyarakat nasional,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa langkah ini bukan berarti meninggalkan Yogyakarta sebagai akar budaya. Justru, Keraton ingin membawa nilai-nilai luhur tersebut ke panggungn yang lebih luas.

“Ini adalah bentuk kontribusi aktif Keraton dalam merajut keberagaman nasional,” katanya. Dalam konsep pertunjukan, YRO menggabungkan orkestra Barat dengan instrumen tradisi Nusantara. Pendekatan yang digunakan bukan sekadar tempelan, melainkan penyelarasan sistem musikal yang berbeda.

“Penggabungan ini melibatkan konversi titi laras antara instrumen diatonis dan pentatonis, sehingga tercipta harmoni yang utuh,” ujarnya.

Membuka ruang eksplorasi baru

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut membuka ruang eksplorasi baru bagi musik tradisi. Hal ini sekaligus meningkatkan apresiasi publik terhadap alat musik lokal dalam skala pertunjukan besar.

“Ini membuktikan bahwa batas musikal dapat dilebur dan menghasilkan identitas baru yang khas Indonesia,” katanya.

GKR Bendara menilai Yogyakarta Royal Orchestra juga berperan sebagai agen diplomasi budaya. Orkestra ini tidak hanya melestarikan, tetapi juga memperkenalkan budaya Jawa ke tingkat global.

“YRO menjadi wajah modern tradisi Yogyakarta yang dapat diterima oleh publik internasional melalui format orkestra,” ujarnya.

Sementara itu, Project Manager konser, Bagus Pradipta menyebut tajuk “Gregah Nusa” sebagai metafora kebangkitan nasionalisme Indonesia. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan momentum sejarah berdirinya Boedi Oetomo.

“Gregah Nusa bermakna bangkitnya bangsa dari keterpurukan, yang menjadi simbolnawal pergerakan modern melawan kolonialisme,” ujarnya.

Keraton berharap konser ini memberi dampak nyata terutama bagi generasi muda. Tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan dorongan untuk melestarikannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.