Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Lauk Bukan Sembarang Lauk! Nila dan Lele Jadi Jagoan Penggerak Ekonomi Budidaya

Lauk Bukan Sembarang Lauk! Nila dan Lele Jadi Jagoan Penggerak Ekonomi Budidaya

lauk-bukan-sembarang-lauk!-nila-dan-lele-jadi-jagoan-penggerak-ekonomi-budidaya
Lauk Bukan Sembarang Lauk! Nila dan Lele Jadi Jagoan Penggerak Ekonomi Budidaya
service

26 Maret 2026 18.00 WIB • 2 menit

Lauk Bukan Sembarang Lauk! Nila dan Lele Jadi Jagoan Penggerak Ekonomi Budidaya


Indonesia tidak hanya kaya akan hasil tangkap, tetapi juga semakin mapan dalam mengelola ekosistem budidaya.

Bila kita melihat dari data Badan Pusat Statistik 2024, data produksi menunjukkan tren yang menarik di mana konsumsi masyarakat terhadap protein ikan air tawar tetap menjadi penopang utama.

Sementara itu komoditas pesisir terus dipacu untuk kebutuhan ekspor.

Ikan Nila mencatatkan dirinya sebagai primadona dengan total produksi nasional mencapai 1,56 juta ton. Jawa Barat masih memegang takhta sebagai produsen terbesar dengan sumbangan 275 ribu ton, disusul oleh Sumatra Utara dan Jawa Timur.

Popularitas Nila yang tinggi di pasar domestik ini membuatnya tampil sebagai komoditas paling stabil yang menggerakkan ekonomi para pembudidaya lokal.

Andalan Lauk Rakyat dari Tanah Jawa dan Sumatera

Di sektor ikan konsumsi harian, Lele tetap menjadi jawara dengan total produksi 1,15 juta ton secara nasional.

Jawa Barat kembali memimpin dengan 305 ribu ton, diikuti oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedekatan lokasi budidaya dengan pusat konsumsi di Pulau Jawa membuat rantai pasok ikan berkumis ini sangat efisien.

Sementara itu, untuk Ikan Patin, Sumatra Selatan muncul sebagai pemain kunci dengan produksi mencapai 101 ribu ton.

Wilayah Sumatra memang memiliki karakteristik perairan sungai yang sangat mendukung pertumbuhan Patin dalam skala besar, sehingga mampu memenuhi permintaan baik untuk pasar lokal maupun industri filet ikan.

Rumput Laut dan Udang Juga Mesin Devisa dari Laut

Jika di darat kita punya Nila dan Lele, di wilayah pesisir Indonesia mengandalkan Rumput Laut dan Udang sebagai mesin devisa.

Rumput Laut mencatatkan angka produksi fantastis sebesar 9,8 juta ton. Sulawesi Selatan masih belum tergoyahkan sebagai produsen utama, disusul oleh Nusa Tenggara Barat yang juga menunjukkan pertumbuhan masif.

Udang, yang menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan, mencatatkan total produksi 958 ribu ton.

Kalau kita lihat secara geografis, Jawa Timur dan Jawa Barat masih mendominasi sektor ini dengan teknologi tambak yang semakin intensif.

Keberhasilan produksi udang pun turut menjadi indikator penting bagi daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Potensi Kakap dan Kerapu yang Mulai Melaju

Meski secara volume belum sebesar ikan air tawar, komoditas laut seperti Kakap dan Kerapu menunjukkan posisi strategis dengan nilai ekonomi tinggi.

Data BPS mencatat produksi Kakap nasional mencapai 9.853 ton, dengan Kepulauan Riau muncul sebagai produsen utama yang menyumbang 2.453 ton.

Wilayah kepulauan ini memang memiliki karakteristik perairan yang sangat mendukung bagi budidaya kakap dalam skala ekspor. Sementara itu, untuk Ikan Kerapu, total produksi nasional berada di angka 16.063 ton.

Menariknya, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi pemain kunci dengan produksi mencapai 1.574 ton, disusul oleh Kepulauan Riau sebesar 1.421 ton dan Bali sebanyak 1.249 ton.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.