Mon,7 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Wa Gulupanda dan 7 Anaknya, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Legenda Wa Gulupanda dan 7 Anaknya, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

legenda-wa-gulupanda-dan-7-anaknya,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tenggara
Legenda Wa Gulupanda dan 7 Anaknya, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
service

7 September 2026 17.00 WIB • 2 menit

Legenda Wa Gulupanda dan 7 Anaknya, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara | Magnific AI


Legenda Wa Gulupanda adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang seorang ibu yang berpisah dengan ketujuh anaknya dan berhasil berjumpa kembali di kemudian hari.

Berikut kisah dari legenda Wa Gulupanda dalam artikel berikut.

Legenda Wa Gulupanda dan 7 Anaknya, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Dikutip dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, alkisah pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah seorang laki-laki bernama La Bakara. Dirinya memiliki enam orang istri yang tinggal bersama.

Namun sayang dari keenam istrinya itu, La Bakara masih belum dikaruniai seorang pun anak. Akhirnya La Bakara memutuskan untuk menikah kembali dengan seorang putri cantik bernama Wa Gulupanda.

Setelah menikah, La Bakara pergi merantau ke negeri orang. La Bakara bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

Saat La Bakara pergi, ternyata Wa Gulupanda sudah dalam kondisi hamil. Beberapa bulan kemudian, akhirnya putri cantik ini melahirkan anak mereka.

Tidak hanya satu, Wa Gulupanda melahirkan bayi kembar tujuh. Alangkah bahagianya Wa Gulupanda atas kelahiran anak-anaknya tersebut.

Namun kebahagian ini ternyata tidak dirasakan oleh keenam istri lainnya. Bukannya senang, mereka justru iri dengan Wa Gulupanda.

Akhirnya keenam istri La Bakara bekerja sama untuk mencelakai Wa Gulupanda. Pada saat Wa Gulupanda sedang sibuk beraktivitas, keenam istrinya ini memasukkan ketujuh bayi tersebut ke dalam sebuah guci.

Setelah itu, mereka membawa guci itu ke pinggir pantai. Di sana mereka meninggalkan guci tersebut begitu saja.

Sebagai gantinya, keenam istri La Bakara kemudian meletakkan tujuah buah sendok dari kayu di atas tempat tidur. Wa Gulupanda yang kemudian mengetahui hal ini tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian, La Bakara pulang dari perantauan. Dia pun menanyakan kondisi Wa Gulupanda serta anak-anaknya.

Namun keenam istri La Bakara lainnya berkata jika Wa Gulupanda hanya melahirkan tujuh buah sendok. Mereka pun menunjukkan sendok yang ada di atas tempat tidur.

Alangkah kecewanya hati La Bakara yang sudah menunggu kehadiran anak sejak lama. La Bakara kemudian memasukkan istrinya ke dalam selokan dan mengurungnya di sana.

Kembali ke pinggir pantai, ternyata ada seorang nenek tua yang menemukan guci berisi ketujuh bayi Wa Gulupanda. Nenek tua tersebut bernama Wa Kinamboro.

Wa Kinamboro dikenal sebagai nenek tua yang gemar memakan anak manusia. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk merawat ketujuh bayi yang dia temukan sebelum dimakan semua nantinya.

Seiring berjalannya waktu, ketujuh anak Wa Gulupanda mulai tumbuh remaja. Untungnya mereka tahu latar belakang sebelumnya dari cerita suami Wa Kinamboro yang baik hati.

Pada saat Wa Kinamboro sedang mencari perbekalan di hutan, sang suami menyuruh ketujuh anak itu untuk melarikan diri. Akhirnya berangkatlah ketujuh anak Wa Gulupanda ke pulau tempat orang tua mereka tinggal.

Sesampainya di sana, ketujuh anak ini bertemu dengan La Bakara. Dari kejauhan, mereka juga melihat Wa Gulupanda yang terkurung.

Ketujuh anaknya ini yakin jika Wa Gulupanda adalah sang ibu yang diceritakan suami Wa Kinamboro. Di sisi lain, La Bakara tidak sadar jika ketujuh anak yang ada di hadapannya merupakan keturunannya.

Akhirnya ketujuh anak ini memberikan uang untuk menebus Wa Gulupanda. La Bakara yang sudah tidak peduli menerima tawaran itu dan melepaskan Wa Gulupanda.

Wa Gulupanda akhirnya kembali berjumpa dengan ketujuh anaknya. Mereka pun pergi meninggalkan pulau tersebut.

Melihat kebersamaan Wa Gulupanda, barulah La Bakara sadar jika mereka adalah darah dagingnya. Namun semua itu sudah terlambat dan La Bakara hanya bisa menyesali perbuatannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.