Ringkasan Berita:
- Konvoi ratusan sepeda motor diduga rombongan perguruan silat menyerang warga Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Jombang, hingga menyebabkan kerusakan rumah dan kendaraan pada Minggu dini hari.
- Kericuhan bermula saat warga pulang dari acara hiburan HUT Kemerdekaan RI. Bentrokan terjadi di sekitar gapura desa sebelum massa masuk ke permukiman warga.
- Dua warga mengalami luka-luka dan sejumlah kendaraan rusak. Pemerintah Desa Plumbon Gambang telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.
Jombang (beritajatim.com) – Malam belum sepenuhnya beranjak ketika jarum jam mendekati pukul 01.00 dini hari. Udara dingin menyelimuti Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Suasana yang semula tenang perlahan berubah mencekam setelah suara deru ratusan sepeda motor memecah kesunyian.
Konvoi panjang itu melintas dengan suara bising. Bukan sekadar perjalanan biasa, rombongan yang diduga berasal dari salah satu perguruan silat tersebut justru berakhir dengan kericuhan. Warga yang tengah beristirahat dikejutkan oleh aksi penyerangan yang terjadi di sekitar gapura desa hingga merembet masuk ke permukiman.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (16/8/2026) dini hari. Sejumlah rumah dan kendaraan warga mengalami kerusakan, sementara dua warga harus mendapatkan perawatan medis akibat luka yang dialami dalam insiden tersebut.
Kejadian bermula ketika beberapa warga Desa Plumbon Gambang baru saja pulang setelah menghadiri kegiatan hiburan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Saat melintas di kawasan gapura desa, mereka tiba-tiba didatangi rombongan yang bergerak dari arah utara. Tanpa diduga, situasi berubah menjadi tegang ketika terjadi aksi penyerangan terhadap warga.
Kepala Desa Plumbon Gambang, Nurwakit, mengaku tidak mengetahui secara pasti awal mula keributan karena saat kejadian dirinya masih berada di dalam rumah. Namun, suara gaduh membuatnya keluar dan melihat situasi sudah tidak terkendali.
“Kronologi yang pasti tidak tahu karena saya di dalam rumah waktu itu. Tapi setelah ada ribut-ribut saya keluar, ternyata sudah masuk di dalam kampung saya,” ujar Nurwakit.
Menurutnya, rombongan tersebut diduga merupakan kelompok perguruan silat yang sebelumnya mengikuti kegiatan di wilayah Jombang. Awalnya jumlah mereka terlihat tidak terlalu banyak, namun perlahan terus bertambah hingga diperkirakan mencapai ratusan sepeda motor dan beberapa kendaraan besar.
“Rombongan konvoi-nya jelas kayanya seperti perguruan,” katanya.
Teriakan Minta Tolong Membuat Warga Keluar Rumah
Ketegangan semakin memuncak ketika seorang warga yang berada di sekitar gapura berlari masuk ke kampung untuk meminta bantuan. Teriakan tersebut membuat warga yang berada di dalam rumah keluar dan berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi.
Namun, suasana berubah semakin kacau. Rombongan tersebut diduga melakukan perusakan terhadap kendaraan warga menggunakan batu paving.
Warga yang merasa permukiman mereka telah diserang kemudian berusaha memberikan perlawanan.
“Baru di situlah warga keluar semuanya dan memberikan perlawanan semaksimal mungkin. Apa pun sudah enggak terkontrol warga, karena urusannya sudah masuk kampung dan menyerang permukiman,” jelas Nurwakit.
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat berubah menjadi kepanikan. Warga berusaha melindungi lingkungan mereka dari kericuhan yang terjadi di depan mata.
Motor Rusak, Kaca Pecah, Dua Warga Terluka

Akibat kejadian tersebut, sejumlah fasilitas milik warga mengalami kerusakan. Dua sepeda motor menjadi sasaran amukan, kaca mobil sedan pecah, dan kaca rumah warga ikut mengalami kerusakan.
Di lokasi kejadian, warga juga menemukan pecahan botol yang diduga merupakan sisa minuman keras. Selain itu, ditemukan pula sejumlah benda yang diduga digunakan dalam aksi penyerangan, seperti batu dan benda menyerupai kembang api atau mercon.
“Kerusakan yang parah itu motor dua tadi, terus satu kaca mobil sedan ini,” ungkap Nurwakit.
Tidak hanya menimbulkan kerugian materi, insiden tersebut juga menyebabkan dua warga mengalami luka-luka. Mereka adalah Didik Santoso dan Ulum.
Didik mengalami luka pada bagian tangan serta memar di kepala. Sementara Ulum harus menjalani perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Aura Syifa.
“Warga sementara yang diketahui dan fatal itu kemarin ke Sangkal Putung ada dua orang namanya Didi Santoso dan satu lagi namanya Ulum, sekarang masih opname di Rumah Sakit Aura Syifa,” terang Nurwakit.
Desa Laporkan Kejadian, Warga Minta Tidak Terulang
Pemerintah Desa Plumbon Gambang memastikan insiden tersebut telah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Setelah kejadian, pemerintah desa langsung melakukan koordinasi bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas hingga pagi hari sekitar pukul 06.00.
Nurwakit menegaskan pihak desa tidak menerima jika warganya menjadi korban aksi kekerasan yang masuk hingga ke lingkungan permukiman.
“Kami selaku pemerintah jelas tidak terima karena warga kami seperti itu. Jadi saya melaporkan ke pihak berwajib,” tegasnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, perbedaan atau persoalan antar kelompok seharusnya tidak sampai menyeret masyarakat yang tidak terlibat menjadi korban.
“Itu yang saya sayangkan, yang sangat prihatin. Kenapa perguruan sampai masuk ke dalam kampung dan menyerang warga kami” pungkasnya.
Malam di Plumbon Gambang meninggalkan luka dan keresahan. Di balik suara mesin yang meraung dan langkah warga yang berhamburan keluar rumah, tersisa harapan agar kedamaian kembali hadir dan kampung tidak lagi menjadi tempat pertarungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. [suf]





Comments are closed.