Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. MBG Tetap Dibagikan Selama Ramadhan, Ahli Gizi Soroti Risiko Ultra-Processed Food

MBG Tetap Dibagikan Selama Ramadhan, Ahli Gizi Soroti Risiko Ultra-Processed Food

mbg-tetap-dibagikan-selama-ramadhan,-ahli-gizi-soroti-risiko-ultra-processed-food
MBG Tetap Dibagikan Selama Ramadhan, Ahli Gizi Soroti Risiko Ultra-Processed Food
service

Jakarta, NU Online

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadhan. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen agar layanan pemenuhan gizi anak tidak terputus, meski menghadapi sejumlah tantangan teknis dan operasional.

Angga Rizqiawan, dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, menilai keputusan tersebut pada dasarnya positif. Namun, ia menekankan bahwa pelaksanaan MBG di bulan puasa membutuhkan penyesuaian yang matang.

“Umumnya MBG diberikan pada waktu makan siang. Sementara pada bulan puasa, dengan mayoritas sasaran menjalankan ibadah puasa, waktu tersebut menjadi kurang relevan untuk dikonsumsi saat itu,” ujar Angga kepada NU Online, Selasa lalu.

Tantangan Menu Kering dan Ultra-Processed Food

Menurutnya, apabila menu disesuaikan menjadi makanan kering untuk dibawa pulang, tantangan utama adalah memastikan makanan tidak didominasi produk ultra-processed food (UPF). Komposisi menu tetap harus memenuhi prinsip gizi seimbang dan keberagaman pangan secara konsisten selama kurang lebih 30 hari.

Ia juga menyoroti aspek daya terima. Jika makanan ditujukan untuk berbuka, sebagian anak mungkin lebih memilih makanan yang disiapkan keluarga, sehingga kontribusi MBG terhadap asupan harian bisa bervariasi.

“Yang terpenting bukan sekadar program tetap berjalan, tetapi bagaimana program tetap bermanfaat,” tegasnya.

Selain itu, format makanan kering berpotensi menyulitkan pemenuhan zat gizi tertentu seperti serat, vitamin, dan mineral. Beberapa produk kering juga cenderung lebih tinggi gula atau garam sehingga pemilihan jenis pangan harus dilakukan secara cermat agar tetap selaras dengan prinsip gizi seimbang.

Monitoring dan Evaluasi Perlu Adaptif

Angga menegaskan bahwa dalam tahapan intervensi gizi, kepatuhan konsumsi dan ketercapaian sasaran merupakan aspek krusial. Pada konteks Ramadhan, mekanisme pemantauan berpotensi lebih sulit sehingga perlu skema monitoring yang realistis dan adaptif.

Beberapa indikator yang dapat dipantau antara lain:

  • Asupan zat gizi, melalui recall 3×24 jam atau food record secara berkala.
  • Status gizi, seperti berat badan, tinggi badan, dan IMT menurut umur.
  • Kondisi fungsional, seperti keluhan lemas, konsentrasi belajar, serta frekuensi sakit atau ketidakhadiran siswa.

Ia mencontohkan evaluasi dapat dilakukan sebelum, pertengahan, dan setelah Ramadhan untuk melihat dampak program terhadap status gizi dan fungsi belajar anak.

“Dengan pendekatan ini, penilaian menjadi lebih seimbang, tidak hanya menilai program diberikan, tetapi juga program berdampak,” jelasnya.

Penyesuaian Waktu dan Logistik

Angga menambahkan, kebutuhan gizi harian anak tetap sama saat berpuasa maupun tidak. Yang berubah adalah waktu makan serta penyesuaian porsi dan frekuensi konsumsi agar kebutuhan gizi terpenuhi dalam rentang waktu lebih singkat antara berbuka dan sahur.

Penyesuaian waktu distribusi, misalnya mendekati waktu berbuka atau melalui skema konsumsi di rumah, layak dipertimbangkan. Namun, hal tersebut harus dibarengi dengan pertimbangan keamanan pangan, kelayakan distribusi, daya terima, serta kepatuhan konsumsi.

Ia juga mengingatkan risiko standar gizi jika bahan MBG dibawa pulang tanpa monitoring ketat, termasuk memastikan bahan benar diprioritaskan untuk anak dan dikonsumsi sesuai tujuan program.

Perlu Siklus Perbaikan Berkelanjutan

Jika kebijakan ini berlanjut setiap tahun, Angga menilai penting adanya siklus monitoring, evaluasi, perbaikan berkelanjutan. Beberapa aspek yang perlu diperkuat antara lain:

  • Monitoring dan evaluasi terprogram serta transparan.
  • Keamanan pangan dan higiene sanitasi.
  • Pembinaan kapasitas pelaksana.
  • Mekanisme pelaporan dan umpan balik dari sekolah, orang tua, dan siswa.

“Dengan perbaikan tersebut, program dapat semakin kuat dari sisi manfaat, tata kelola, dan penerimaan masyarakat,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.