Mubadalah.id – Perempuan terutama ibu-ibu biasanya mendapat stigma sebagai orang yang suka menggosip atau ghibah. Dalam beberapa video pendek baik di tik-tok, reels, atau media sosial lainnya banyak konten yang menunjukkan ibu-ibu sedang bergosip. Dunia digital kita hari ini menganggap perempuan sebagai agen yang mudah memercayai dan menyebarkan berita hoaks.
Jika kita tarik kembali ke sejarah awal umat manusia, perempuan (Hawa) seringkali dianggap sebagai pihak yang menyebabkan ia dan Adam diusir dari surga karena “berita bohong” yang ia percaya. Hal ini seakan-akan mengindikasikan bahwa sedari awal, perempuan dan berita bohong merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Lalu bagaimana sesungguhnya Islam merekam sejarah perempuan (Hawa) dalam merespons berita bohong atau hoaks?
Perempuan dan Hoaks dalam Islam
Berita bohong yang menyebabkan Adam dan Hawa turun ke bumi merupakan yang pertama kali terjadi dalam sejarah manusia. Nenek moyang umat manusia, Adam dan Hawa menjadi korban atau konsumen berita hoaks iblis.
Sebermula sejarah, perempuan yang selalu berada dalam posisi subordinatif selalu saja dihubungkan dengan perempuan pertama yang diciptakan, Hawa. Dalam banyak kisah disebutkan Hawa merupakan penyebab utama turunnya Adam dari surga, setelah iblis, tentu saja. Banyak orang meyakini bahwa melalui Hawa-lah, iblis berhasil menggoda Adam. Tak jarang hal ini sering dihubung-hubungkan dengan proses penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam yang bengkok.
Kata bengkok perlu kita garis bawahi sebab kata tersebut mengindikasikan banyak hal bagi perempuan, salah satunya misalnya mengenai sifat-sifat perempuan yang mudah “patah” sehingga harus mendapatkan perlakuan berbeda dari laki-laki. Kata tersebut juga menjadi legitimasi tersendiri bagi banyak orang untuk mengintimidasi dan merendahkan perempuan, semisal menyatakan bahwa perempuan merupakan makhluk yang kurang akal.
Hadis-hadis yang menyatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam seperti mengamini hal tersebut. Beberapa ulama menyatakan pendapat yang cukup berbeda dengan menyatakan bahwa hadits-hadits tersebut tidak dapat kita pahami sebagai arti lahir, tetapi sebagai kiasan. Hal ini cukup berbeda dengan yang termaktub dalam al-Qur’an. Beberapa ayat yang menceritakan tentang kisah Adam dan Hawa ini tersebar dalam beberapa surah. Di antaranya, QS. Al-Baqarah [2]: 36, QS. Thaha [20]: 115, dan QS. Thaha [20]: 120-121.
Tafsir
Al-Baqarah [2]: 36 menceritakan tentang penurunan Adam dan Hawa dari surga karena digelincirkan bisikan setan. Kata digelincirkan di sini menunjukkan bahwa ketika itu mereka tidak sepenuhnya sadar ketika itu. Dalam ayat lain disebutkan bahwa Adam ketika itu tengah lupa (QS. Thaha [20]: 115). Sementara itu, iblis memanfaatkan kelemahan Adam untuk menjermuskannya. Setan menemukan bahwa naluri ingin mempertahankan hidup serta kekuasaan dapat menjadi pintu masuk untuk menggodanya (QS. Thaha [20]: 120-121).
Adapun penyebab percayanya Adam kepada berita bohong oleh iblis adalah karena iblis bersumpah atas nama Tuhan. Hal ini terlah termaktub dalam QS. Al-A’raf [07]: 21-22. M. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa iblis tidak hanya membisikkan atau merayu tetapi juga bersumpah. Ulama memahami lafadz qâsama berarti saling bersumpah.
Dengan menggunakan arti ini, hal itu memiliki maksud bahwa di antara kedua belah pihak saling bersumpah. Sebagian kalangan menolak pendapat ini dengan mengajukan pendapat yang lain yang lebih masuk akal. Lafadz qâsama berartikan dengan berulang-ulang bersumpah atau sumpah yang terucap berulang-ulang kali. Ini berarti bahwa iblis berupaya sekuat tenaga untuk menjerumuskan Adam dan Hawa, sekaligus mengisyaratkan bahwa sebenarnya hati keduanya tidak cenderung melakukan maksiat.
Bukan Perempuan
Dari ayat-ayat yang tersebut dapat kita pahami bahwa terdapat sedikit kekeliruan sebagian orang dalam memahami kisah Adam dan Hawa. Ayat-ayat tersebut tidak menceritakan Hawa – perempuan – sebagai “pintu” setan untuk menggoda Adam.
Yang terjadi justru setan menggunakan kelemahan yang manusia miliki berupa nafsu berkuasa dan hidup abadi. Penekanan Hawa sebagai pihak yang bersalah dalam hal ini jelas tidak ada. Penyetaraan posisi Adam dan Hawa sebagai objek berita bohong dalam ayat-ayat di atas lebih tampak. Mereka berada dalam posisi yang setara.
Proses penciptaan antara keduanya bukan merupakan alasan utama bagi Adam atau Hawa untuk “mudah” percaya pada berita bohong. Alasan utama mereka percaya justru terletak pada kalimat yang iblis ucapkan dengan mengatasnamakan Tuhan.
Dalam konteks digital hari ini, sebetulnya bukan identitas perempuan lah yang menjadikan seseorang mudah percaya pada berita bohong, melainkan pengetahuan dan akses pada informasi yang kredibel yang membuat mereka mudah percaya. Ketika AI menyamarkan segala hal seakan-akan nyata dan benar, kita perlu ketelitian yang terbangun atas dasar wawasan dan akses yang merata. []
The post Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital appeared first on Keadilan dan Kesetaraan Gender – Mubadalah.





Comments are closed.