Wed,2 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Mengenal KH Anwar Iskandar, Anggota Ahwa Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

Mengenal KH Anwar Iskandar, Anggota Ahwa Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

mengenal-kh-anwar-iskandar,-anggota-ahwa-muktamar-ke-35-nu-di-tambakberas
Mengenal KH Anwar Iskandar, Anggota Ahwa Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
service

Jombang, NU Online

Nama KH Anwar Iskandar muncul dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ulama asal Banyuwangi itu terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), forum yang beranggotakan ulama dan tokoh NU yang dipercaya untuk menjalankan fungsi khusus dalam organisasi, termasuk memilih Rais Syuriyah.

Keterpilihan tersebut menambah panjang rekam jejak Kiai Anwar di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia kini menjabat Wakil Rais Aam PBNU masa khidmat 2022-2027. Sebelumnya, ia meniti perjalanan organisasi dari tingkat pelajar hingga menduduki sejumlah posisi strategis di NU.

Mengutip NUOnline Kiai Anwar lahir di Berasan, Muncar, Banyuwangi, pada 24 April 1950. Ia tumbuh dalam keluarga pesantren. Ayahnya, KH Iskandar, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum. Dari pesantren keluarga itu, kecintaan Anwar terhadap ilmu agama mulai tumbuh. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke sejumlah pesantren di Jawa. 

Salah satu fase penting dalam perjalanan keilmuannya berlangsung ketika ia belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Di Lirboyo, Kiai Anwar berguru kepada KH Mahrus Ali. Pengalaman belajar tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya sebagai ulama. Pendidikan Kiai Anwar tidak berhenti di lingkungan pesantren. Pada 1970, ia pindah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan sarjana Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selain di bidang pendidikan, ia juga aktif di organisasi. Pengalaman keorganisasian Kiai Anwar dimulai sejak usia muda. Ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ketika menjadi mahasiswa, ia kemudian bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan terlibat dalam kepengurusan hingga tingkat nasional.

Pengalamannya di organisasi kepemudaan berlanjut ketika ia dipercaya memimpin Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kediri selama dua periode.

Karier Kiai Anwar di struktur NU kemudian terus berkembang. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kediri dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur. Puncaknya, ia dipercaya menduduki posisi Wakil Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2022-2027. Dalam Muktamar NU ke-35, pengalaman panjang tersebut kembali membawanya ke posisi penting sebagai anggota Ahwa.

Di luar struktur NU, Kiai Anwar juga memiliki peran penting dalam kepemimpinan keagamaan nasional. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), menggantikan KH Miftachul Akhyar. Anwar kembali dipercaya memimpin MUI untuk periode 2025-2030. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI pada 22 November 2025 melalui dewan formatur yang dibentuk dalam munas tersebut.

Kiprahnya juga pernah bersinggungan dengan ruang politik dan kenegaraan. Ia terlibat dalam sejumlah peran publik, termasuk di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Kehidupan keluarga Anwar juga tidak terlepas dari tradisi pesantren. 

Kiai Anwar menikah dengan Nyai Qoni’atus Zahro, putri KH Sa’id, pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyah Jamsaren, Kediri pada 1975. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai satu putra dan lima putri. Pada 1990, Kiai Anwar menikah kembali dengan Nyai Hj Yayan Handayani asal Bogor. Pernikahan tersebut dikaruniai tiga putra dan satu putri yang kemudian menetap dan turut mengelola Pondok Pesantren Al-Amien.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.