Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Misteri “Garis Melengkung” di Peta: Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Benar-benar Lurus?

Misteri “Garis Melengkung” di Peta: Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Benar-benar Lurus?

misteri-“garis-melengkung”-di-peta:-mengapa-perbatasan-papua-dan-papua-nugini-tidak-benar-benar-lurus?
Misteri “Garis Melengkung” di Peta: Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Benar-benar Lurus?
service

16 Februari 2026 08.36 WIB • 2 menit

Misteri “Garis Melengkung” di Peta: Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Benar-benar Lurus?


Jika kita memperhatikan peta Pulau Papua, pemandangan yang paling mencolok adalah sebuah garis vertikal yang membagi pulau tersebut menjadi dua bagian besar. Garis tegak lurus ini membentang dari utara ke selatan pada koordinat 141 derajat Bujur Timur. Namun, jika Anda memperbesar peta di wilayah selatan, ada sebuah anomali geografis yang sangat unik. Garis yang semula lurus sempurna itu tiba-tiba meliuk mengikuti aliran sungai sebelum akhirnya kembali ke jalur lurus menuju laut.

Liukan eksotis Sungai Fly di pedalaman Papua Nugini. Inilah aliran air raksasa yang menjadi penentu batas kedaulatan di timur Indonesia.| David Hosea  CC BY 4.0

Lengkungan ini bukanlah sebuah kesalahan cetak atau ketidaksengajaan kartografi. Fenomena ini adalah hasil dari diplomasi kolonial abad ke-19 yang melibatkan salah satu sungai raksasa di dunia, yaitu Sungai Fly.

Jejak Kapal HMS Fly dan Kepentingan Inggris

Nama sungai ini diambil dari sebuah kapal korvet milik Angkatan Laut Inggris yang bernama HMS Fly. Pada tahun 1842, Kapten Francis Blackwood memimpin ekspedisi pertama untuk mengeksplorasi muara sungai tersebut. Sungai Fly bukanlah aliran air biasa. Ia merupakan sistem sungai terbesar di wilayah Oseania dengan debit air yang sangat masif. Bahkan, lebar muaranya saja mencapai 56 kilometer.

HMS Fly dalam misi eksplorasi. Sebuah simbol navigasi yang meninggalkan warisan sejarah pada peta wilayah selatan Papua. | National Library of Australia digital collections

info gambar

HMS Fly dalam misi eksplorasi. Sebuah simbol navigasi yang meninggalkan warisan sejarah pada peta wilayah selatan Papua. | National Library of Australia digital collections

Pada masa kolonial, terjadi negosiasi intens antara pemerintah Belanda yang menguasai wilayah barat dan Inggris yang menguasai wilayah timur. Inggris memiliki kepentingan strategis untuk menguasai seluruh badan Sungai Fly. Mereka membutuhkan akses patroli tanpa batas untuk memantau aktivitas suku-suku di pedalaman serta mencegah konflik antar-suku yang saat itu masih marak. Jika perbatasan tetap dipaksakan lurus pada garis 141 derajat, maka patroli kapal Inggris akan sering masuk ke wilayah Belanda secara ilegal.

Sistem “Barter” Wilayah: Dari Sungai Fly ke Sungai Torasi

Kesepakatan unik akhirnya tercapai antara kedua kekuatan kolonial tersebut. Belanda setuju untuk membiarkan garis perbatasannya melengkung ke arah barat (masuk ke wilayah Indonesia saat ini) agar seluruh aliran Sungai Fly berada di bawah kendali penuh Inggris. Keputusan ini secara teknis membuat luas wilayah Belanda di Papua sedikit berkurang.

Sebagai bentuk kompensasi atas wilayah yang hilang, Inggris bersedia menggeser garis batas di bagian paling selatan ke arah timur. Perbatasan di area muara kemudian ditarik mengikuti aliran Sungai Torasi (Bensbach). Pergeseran kompensasi inilah yang menyebabkan titik paling timur Indonesia sebenarnya terletak di muara Sungai Torasi, bukan tepat di garis 141 derajat Bujur Timur. Pertukaran wilayah ini menunjukkan betapa krusialnya bentang alam sungai dalam menentukan kedaulatan negara di masa lalu.

Urat Nadi di Jantung Rimba yang Terjaga

Hingga saat ini, wilayah perbatasan ini menjadi salah satu daerah dengan biodiversitas tertinggi di dunia. Sungai Fly tetap mengalir bebas tanpa ada satu pun bendungan yang menghambatnya. Bagi masyarakat lokal, batas negara di sungai ini terasa sangat cair. Mereka adalah saudara serumpun yang sering melintas hanya dengan perahu tradisional untuk mengunjungi kerabat atau berdagang.

Peta aliran Sungai Fly | Wikimedia commons

info gambar

Peta aliran Sungai Fly | Wikimedia commons


Keberadaan Sungai Torasi di sisi Indonesia juga menjadi bagian penting dari ekosistem Taman Nasional Wasur. Wilayah ini merupakan tempat persinggahan ribuan burung migran dari Australia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.