Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Terungkap Spesies Baru Terong Berduri dari Kalimantan, Sejak Lama Jadi Obat Tradisional Dayak

Terungkap Spesies Baru Terong Berduri dari Kalimantan, Sejak Lama Jadi Obat Tradisional Dayak

terungkap-spesies-baru-terong-berduri-dari-kalimantan,-sejak-lama-jadi-obat-tradisional-dayak
Terungkap Spesies Baru Terong Berduri dari Kalimantan, Sejak Lama Jadi Obat Tradisional Dayak
service

Terungkap Spesies Baru Terong Berduri dari Kalimantan, Sejak Lama Jadi Obat Tradisional Dayak


Indonesia kembali menambah daftar kekayaan hayatinya. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN berhasil mengungkap spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan. Spesies baru tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri.

Penamaan spesies ini diambil dari wilayah asal penemuannya sekaligus nama para peneliti yang terlibat, yakni Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri. Penelitian ini juga melibatkan Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Siti Susiarti.

Memiliki Ciri Berbeda dari Kerabat Terdekatnya

Menurut Muhammad Rifqi Hariri, spesies ini memiliki sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya dari spesies terdekatnya, terutama Solanum lasiocarpum. Beberapa ciri yang ditemukan antara lain ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang yang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” kata Rifqi.

Tim peneliti juga melakukan analisis DNA menggunakan penanda ITS untuk memastikan perbedaannya secara genetik. Hasilnya menunjukkan bahwa Solanum kalimantanense memiliki perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.

Peneliti BRIN, Esthi L. Agustiani, menjelaskan bahwa pendekatan integratif menjadi bagian penting dalam proses identifikasi spesies baru tersebut. “Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” ujarnya.

Dikenal sebagai Terong Asam atau Terong Dayak

Menariknya, tanaman ini sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat lokal di Kalimantan. Tutie Djarwaningsih mengatakan masyarakat menyebut tanaman ini sebagai terong asam atau terong dayak dan telah memanfaatkannya sebagai bahan pangan sehari-hari.

Buahnya banyak ditemukan di pasar terapung di Banjarmasin dan umum diolah menjadi sayuran. Selain sebagai bahan pangan, tanaman ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, masyarakat menggunakan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat” untuk pengobatan kanker. Pemanfaatan oleh masyarakat lokal ini menjadi salah satu bukti bahwa banyak pengetahuan tradisional yang belum sepenuhnya terdokumentasi dalam riset ilmiah modern.

Tumbuh di Berbagai Kondisi Alam Kalimantan

Berdasarkan penelitian BRIN, Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh di berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam. Tanaman ini juga mampu hidup pada rentang ketinggian yang cukup luas, yakni sekitar 9 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut.

Sebaran spesies ini saat ini ditemukan di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Namun, hasil kajian awal menunjukkan populasinya diduga terbatas sehingga berpotensi masuk kategori rentan atau vulnerable menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa banyak spesies di Indonesia yang kemungkinan belum terdokumentasi secara ilmiah, meski telah lama hidup dan dimanfaatkan masyarakat setempat.

Indonesia Masih Menyimpan Banyak Spesies yang Belum Terungkap

Hasil penelitian tentang Solanum kalimantanense telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026. Penemuan ini menambah daftar panjang spesies baru flora Indonesia yang berhasil diidentifikasi para peneliti BRIN dan kolaboratornya.

BRIN mencatat sedikitnya 29 jenis baru flora Indonesia berhasil dideskripsikan secara ilmiah sepanjang 2025 hingga awal 2026. Spesies baru tersebut berasal dari berbagai kelompok tumbuhan seperti Rafflesia, Begonia, Homalomena, Rhododendron, Nepenthes, hingga anggrek.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa penemuan spesies baru bukan proses yang sederhana. Menurutnya, dibutuhkan penelitian panjang mulai dari ekspedisi lapangan hingga analisis laboratorium dan publikasi ilmiah internasional.

“Penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama,” kata Arif.

Penemuan Solanum kalimantanense kembali menunjukkan bahwa hutan-hutan Indonesia masih menyimpan banyak kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap. Di tengah ancaman perubahan lingkungan dan hilangnya habitat alami, dokumentasi ilmiah terhadap spesies-spesies lokal menjadi langkah penting untuk mendukung konservasi sekaligus memperkuat pemahaman tentang biodiversitas Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.