Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinya

Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinya

nasib-anak-anak-dan-kaum-muda-marginal-di-indonesia:-rentan-terdampak-iklim-tapi-tidak-menyadarinya
Nasib anak-anak dan kaum muda marginal di Indonesia: Rentan terdampak iklim tapi tidak menyadarinya
service

● Anak-anak dan kaum muda marginal kerap menganggap dampak krisis iklim yang datang perlahan sebagai kewajaran.

● Ini mencerminkan empat bentuk ketidakadilan iklim yang mereka alami sebagai kelompok rentan.

● Keadilan iklim menuntut keterlibatan kaum muda melalui ruang partisipasi yang aman, berdampak, dan berbasis pengalaman nyata.


Bagi banyak anak dan kaum muda dari keluarga miskin dan marginal, krisis iklim tidak selalu hadir sebagai peristiwa dramatis seperti bencana. Ia muncul dalam bentuk cuaca yang makin panas, kabut asap yang mengganggu pernapasan, air bersih yang makin mahal, atau genangan permanen yang membuat ruang bermain dan lingkungan tempat tinggal mereka perlahan berubah.

Studi partisipatif PUSKAPA bersama anak-anak dan kaum muda di Jakarta, Pekalongan, Jawa Tengah, dan Pontianak, Kalimantan Barat tahun 2024 menunjukkan bahwa anak-anak dan kaum muda sebenarnya peka terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka. Namun, tidak semua dari mereka menyebut pengalaman itu sebagai “perubahan iklim”, apalagi “ketidakadilan iklim”.

Mereka menganggap kondisi tersebut normal karena keterbatasan akses terhadap bahasa politik, ruang partisipasi publik kaum muda belum siap, serta dominasi masalah ekonomi yang lebih mendesak.

Krisis iklim tidak selalu berupa bencana mendadak

Sebagian besar dampak yang diceritakan anak dan kaum muda dalam studi ini termasuk dalam kategori slow onset climate change, yaitu perubahan iklim yang terjadi perlahan dan bertahap.

Suhu panas yang makin terasa dapat mengubah pola hidup, mengganggu istirahat, dan berdampak pada kesehatan. Air bersih yang makin sulit dan mahal membuat keluarga harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk kebutuhan dasar.

Dampak-dampak kecil ini kemudian menumpuk. Anak-anak kehilangan ruang bermain. Kaum muda merasa asing di lingkungan sendiri. Keluarga beradaptasi sendiri dengan membeli air, mengubah rutinitas, atau menerima bahwa panas adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.


Read more: Bencana membuat anak rentan putus sekolah. Apa solusinya menurut riset?


Pengalaman ini dekat dengan konsep “kekerasan perlahan” atau slow violence. Kekerasan semacam ini bekerja secara bertahap, berlangsung lama, dan sering kali paling keras menghantam kelompok rentan.

Karena tidak dramatis, kekerasan iklim sering tidak masuk dalam perhatian publik dan kebijakan. Padahal, bagi anak dan kaum muda marginal, dampaknya sangat konkret.

ketidakadilan iklim, anak-anak, remaja, kaum muda

Kondisi sungai di dekat tempat tinggal peserta dari Pontianak, tempat anak-anak dan remaja asyik bermain. PUSKAPA/Author provided.

Empat bentuk ketidakadilan iklim

Studi ini menemukan bahwa pengalaman anak dan kaum muda marginal mencerminkan sedikitnya empat bentuk ketidakadilan iklim:

1. Ketidakadilan prosedural

Ketidakadilan ini terjadi ketika pemerintah tidak memberikan informasi yang cukup dan tidak melibatkan masyarakat—terutama anak-anak dan kaum muda—dalam pengambilan keputusan, program, aksi, dan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan iklim.

2. Ketidakadilan distributif

Ketidakadilan distributif mengacu kepada kondisi ketika sumber daya, intervensi, dan bantuan yang diterima masyarakat tidak sepadan dengan kemampuan mereka menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan.

3. Ketidakadilan rekognitif

Ketidakadilan ini diakibatkan oleh kecenderungan pemerintah yang meremehkan dampak perubahan iklim bertahap, dengan asumsi bahwa masyarakat mampu pulih tanpa bantuan pemerintah.

4. Ketidakadilan antargenerasi

Minimnya perhatian pemerintah dalam menanggulangi perubahan iklim dan mengembangkan strategi adaptasi jangka panjang merupakan bentuk ketidakadilan antargenerasi terhadap anak-anak dan kaum muda.

Meski mengalami berbagai bentuk ketidakadilan iklim, anak-anak dan kaum muda umumnya tidak mengidentifikasi pengalaman tersebut sebagai bentuk ketidakadilan. Situasi ini dapat dibaca sebagai bentuk ketidakadilan epistemik. Ini terjadi karena anak-anak dan kaum muda tidak memiliki sarana, alat tafsir, dan sumber daya konseptual untuk memahami dan mengekspresikan pengalaman mereka dalam bingkai dan struktur sosio-politik yang setara.

Ketika perubahan iklim hanya dibingkai sebagai proses alamiah yang tidak dapat dihindari, masyarakat merasa tidak memiliki alasan untuk menuntut solusi dari pemerintah.

Alhasil, masyarakat menangani dampak perubahan iklim ditangani secara mandiri dan konsekuensinya ditanggung bersama. Namun, adaptasi semacam ini tidak mengatasi akar masalah dari perubahan iklim yang dapat menyisakan dampak negatif berkepanjangan.


Read more: Bertahan di tengah pasang-surut iklim: Kerentanan di balik ketangguhan perempuan dan orang muda pesisir


Kebijakan iklim masih terlalu sempit

Banyak intervensi iklim pemerintah (maupun masyarakat) dan kebencanaan masih bertumpu pada rekayasa teknis, seperti pembangunan tanggul, pompa, atau drainase.

Kita memang membutuhkan infrastruktur yang andal. Namun, tanpa pemahaman tentang kehidupan warga, solusi teknis bisa menciptakan masalah baru: memindahkan risiko, mengganggu ruang hidup, atau tidak menjawab persoalan sosial ekonomi yang dialami warga.

Kita juga menghadapi keterbatasan data. Banyak definisi, indikator, dan dataset iklim belum mampu menangkap kekerasan perlahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Data mungkin dapat menunjukkan wilayah rawan banjir atau suhu yang meningkat, tetapi belum tentu menangkap dampaknya terhadap jam belajar, biaya air, kesehatan kulit, beban pengasuhan, rasa aman, atau hilangnya ruang bermain anak.


Read more: Kampanye lingkungan bagi Gen Z: Perlu contoh nyata, bukan perintah apalagi ceramah


Melibatkan kaum muda bukan sekadar mengundang mereka

Partisipasi bermakna menuntut perubahan cara kerja.

Keterlibatan anak muda dalam solusi perubahan iklim.

Sebuah gambaran tentang lingkungan ideal yang dibayangkan oleh para peserta selama kegiatan partisipatif di Jakarta. PUSKAPA/Author provided.

Pertama, anak dan kaum muda perlu diberi ruang untuk mulai dari pengalaman mereka sendiri. Anak dan kaum muda dapat merasa rendah diri ketika diajak terlibat dalam kegiatan oleh orang dewasa.

Meyakinkan anak dan kaum muda bahwa pengalaman dan pengetahuan keseharian mereka sangat berharga merupakan salah satu langkah pertama untuk mendorong kepercayaan diri mereka.

Kedua, mereka perlu dibantu menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan struktur yang lebih besar.

Dengan mengenalkan hak-hak mereka sebagai warga negara, anak dan kaum muda jadi paham dengan lembaga-lembaga pemerintah yang berperan dalam memenuhi hak-hak tersebut, termasuk hak untuk hidup layak dan aman dari ancaman perubahan iklim.

Ketiga, ruang partisipasi harus aman. Anak dan kaum muda harus bebas dari tekanan, ekspektasi, atau perasaan tidak nyaman dalam menjalani proses kegiatan. Pastikan bahwa mereka melakukan kegiatan atas dasar keinginan diri sendiri dan tanpa paksaan.

Keempat, partisipasi harus berpengaruh. Selain menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan struktur yang lebih besar, anak dan kaum muda harus diberikan saluran untuk mengubah keresahan mereka ke dalam aksi nyata.

Keterlibatan mereka dapat dimulai dalam skala yang kecil, seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, sampai skala yang lebih besar, seperti aktif berorganisasi di dalam komunitas pecinta lingkungan.

Dari “bertahan” menuju keadilan

Anak dan kaum muda marginal sudah lama beradaptasi dengan krisis iklim. Namun, kemampuan mereka untuk bertahan tidak boleh menjadi pembenaran untuk mengabaikan ketidakadilan yang mereka alami.

perubahan iklim, dampak, remaja

Peneliti menjelaskan perubahan iklim kepada peserta anak dan remaja dalam salah satu kegiatan di Pontianak, Kalimantan Barat. PUSKAPA/Author provided.

Pemerintah perlu mendefinisikan perubahan iklim secara lebih luas. Sementara masyarakat sipil dan aktivis perlu memperkuat kesadaran kritis kaum muda.

Lalu bagi akademisi dan peneliti, tantangannya adalah mengembangkan metode yang lebih kreatif, partisipatif, dan bertanggung jawab.


Read more: Slow violence : Dampak jangka panjang perubahan iklim bagi anak dan kaum marginal



Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.