Kunang-kunang kerlap kerlip melintasi orang-orang yang sedang berkumpul di satu teras rumah di Desa Harapan Maju, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, penghujung tahun lalu. Mereka bercengkrama walau tak saling memandang rupa. Tak ada cahaya maupun lampu yang menyinari permukiman itu pada malam itu. “Listriknya sudah mati satu mingguan, kecuali nanti perusahaan datang untuk mengganti alat yang rusak, baru bisa hidup,” kata Minggus, warga Desa Harapan Maju. Dia duduk bersila di teras. Perusahaan yang Minggus maksud adalah operator genset komunal yang PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN), sediakan. Sudah tiga tahun, lampu-lampu dari 28 rumah di area yang disebut Paking itu pakai listrik genset komunal. Listrik tak hidup 24 jam di situ. “Ada listriknya dari 6.00 sore sampai 6.00 pagi, sisanya mati,” kata Minggus. Genset pun, sering rusak karena komponen perbaikan tak ada di sekitar desa itu. Alat perbaikan, harus pesan dari luar daerah hingga perlu waktu lama. “Sering alatnya rusak, sejak bulan-bulan berapa itu tahun 2024, sering (rusak) sampai sekarang ini.” Jawi, Ketua RT05 Desa Harapan Maju, membenarkan kondisi itu. Kendati listrik sering padam, katanya, genset turut membantu warga. Warga, tidak perlu bayar tagihan listrik. “Tapi ya seperti itu, sering rusak, hidupnya (listrik) tidak menentu.” Kondisi ini mereka sudah rasakan lebih tiga tahun lalu. Sebelumnya, kata Jawi, warga mendiami area Seboyo, sekitar 15 menit dengan perahu mesin ke hulu Sungai Mentarang. “Kalau di Seboyo, dulu kita pakai panel surya pribadi, pakai aki saja, itu hidup setiap saat, nanti kalau mati kita ganti air akinya tinggal beli saja,” katanya. Setelah perusahaan…This article was originally published on Mongabay
Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang
Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang





Comments are closed.