Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi

Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi

ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi
Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi
service

“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat berarti menjaga manusia… Menjaga bumi.” Begitu puisi  Ahmad Syafiq, anak muda dari Aceh Tengah, mengungkapkan kekecewaan, ketika aksi di Hari Bumi. Dia bergabung bersama muda mudi dari berbagai daerah ikut aksi di Jakarta. Siang itu, 24 April lalu, sekelompok muda menyusuri Jalan Gatot Subroto, Jakarta, siang, sambil membawa nisan. Bukan ke tempat pemakaman umum, mereka justru bergerak ke Gedung DPR di Senayan. “RIP Hak Atas Kehidupan” “RIP Hak Atas Lingkungan yang Baik & Sehat’” “RIP Hak Atas Pangan dan Air” Begitu  antara lain tulisan tertera di nisan. Spanduk pun terbentang. “Bumi Hanya Satu” Mereka tiba di depan Gedung DPR sekitar 15.17 WIB. Bagi mereka, kondisi bumi yang kian hari memburuk membuat sulit merayakan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Karena itu, aksi simbolik di depan DPR untuk menuntut keadilan iklim jadi pilihan. “Kami, anak muda adalah korban dari kebijakan,” kata Muhammad Iqbal, peserta aksi. Menurut dia, suhu di Indonesia makin panas, bahkan pernah 36 derajat. Cuaca yang ekstrem dan tidak menentu membuatnya harus panas-panasan saat ke kampus di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kondisi ini, katanya, tidak tercipta secara alami tetapi  hasil serangkaian kebijakan dan ulah manusia, seperti alih fungsi lahan, penggundulan hutan masif hingga…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.