Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Niagara SW60+

Niagara SW60+

niagara-sw60+
Niagara SW60+
service

Oleh: Dahlan Iskan

Vonis 10 tahun penjara untuk Nadiem Makarim datang saat saya di Niagara: seru. Sejak kasus itu disidangkan sudah terjadi polemik sangat bermutu di forum terbatas grup WA wartawan tua, SW60+. Niagara SW60+

Saya mengikuti polemik itu. Utamanya antara mantan Pemred TEMPO Bambang Harimurti (BHM) dengan mantan wartawan Kompas Arya Gunawan.

bank BJB

BHM cenderung membela mantan menteri pendidikan dan kebudayaan di zaman Jokowi periode kedua itu.

Arya tujuh tahun di Kompas, selulusnya dari ITB. Lalu pindah ke BBC London, lima tahun di sana. Setelah itu anak Jambi turunan Jambi-Minang itu bekerja untuk UNESCO di Wina, Austria. Sekarang Arya tinggal di Jakarta.

Saking bermutunya saya sampai ingin menyiarkan isi polemik itu di Disway. Tapi pembicaraan di grup WA adalah ranah ”pribadi” grup WA. Tidak boleh ke luar grup. Saya sedang cari cara untuk bisa membagi isi polemik itu kepada pembaca Disway. Saya ingin minta izin mereka: apakah boleh.

Perdebatan di situ ”sangat hukum” dan ”sangat jurnalisme”. Mulai dari perdebatan apa itu fakta persidangan dan apa itu asumsi. Juga soal mensrea, presumption of innocence, antara fitnah dan analisa interpretasi berbasis fakta, apa itu penghakiman pers dan konflik kepentingan.

Sebelum itu saya sudah membaca banyak tulisan Agustinus Edy Kristianto, juga mantan wartawan. Agustinus adalah penulis yang paling kritis membahas kasus Cromebooks. Sebelum itu pun ia sudah sangat kritis membahas soal GoTo dan investasi Telkom di dalamnya. Juga soal permainan saham, merger, dan laporan keuangannya.

Polemik itu sangat baik bagi saya: agar tidak bisa terlalu menikmati keindahan Niagara. Maka di taman dekat Niagara ini saya lebih banyak membaca dari pada menatap ke air terjun kembar di depan sana.

Banyak pendapat wartawan tua lainnya juga saya baca. Tapi fokus utama saya tetap pada polemik BHM dan Arya Gunawan.

Inilah grup WA yang seru. Selama jadi anggotanya saya hanya posting dua kali. Dua-duanya tidak ada hubungan dengan kasus Nadiem Makarim.

Postingan pertama hanya memberi dorongan keberanian kepada seorang wartawan tua yang oleh dokter diminta segera operasi empedu.

Yang kedua soal kekhawatiran saya di awal terbentuknya ”grup Wartawan 60+” ini: jangan-jangan hanya akan seperti grup WA lainnya. Yakni lebih banyak untuk posting doa-doa, ajakan salat tahajud dan mengingatkan sudah waktunya salat subuh.

Saya minta grup baru itu tidak mengizinkan postingan seperti itu. Bukan saya anti tapi sudah banyak mendapatkan hal yang sama di grup yang lain. Biar beda grup isinya sama.

Doa, ajakan tahajud dan salat subuhnya bukan tulisan sendiri melainkan hanya reposting ajakan yang sama dari grup lain.

Membaca itu rasanya seperti mendengarkan bacaan Quran dari sebuah masjid, yang setelah saya masuki tidak ada orang; ternyata itu rekaman digital yang berbunyi sendiri bila jam salat tiba.

Banyak anggota grup yang ternyata setuju. Bahkan ucapan selamat tahun pun harus diatur. Kalau anggota grup mengucapkan selamat ultah pada semua yang ulang tahun alangkah monotonnya. Anggota grup ini 193. Berarti tiap dua hari ada yang ulang tahun. Ucapan ulang tahun sebaiknya disampaikan langsung ke nomor pribadi bersangkutan.

Dari luar grup saya baca postingan wartawan hebat kelas dunia: Tom Wright. Tom, wartawan asal Inggris yang tinggal di Hong Kong, membela Nadiem.

Anda sudah tahu siapa Tom: wartawan yang berhasil menjadi finalis penghargaan Pulitzer dalam investigasi korupsi terbesar di dunia 1MDB di Malaysia itu. Begitu hebat investigasi Tom. Sampai lintas negara. Sampai kakap sekelas perdana menteri Tun Najib, istri, dan kroninya runtuh. Masuk penjara.

Tom lantas menulis buku terkenal yang Anda pasti sudah membacanya: Billion Dollar Whale. Buku itu ditulis di Jakarta. Tom yang masih muda itu, belum 50 tahun, memang memulai karir wartawannya di Jakarta: sebagai koresponden harian The Wall Street Journal.

Tom tergolong wartawan whale hunter: pemburu ikan paus. Buruannya kelas kakap dengan risiko kakap pula.

Saat ini Tom sedang diperkarakan oleh tokoh politik-keuangan Thailand. Itu terkait investigasi Tom di judi online di Kamboja dan praktik penipuan di dalamnya. Sang tokoh langsung meletakkan jabatan sebagai menteri keuangan sehari setelah Tom menyiarkan hasil investigasinya.

Tom membela Nadiem Makarim. Nadiem ia sebut sebagai korban upayanya memberantas korupsi di Kemendikbud.

Tom heran mengapa Google tidak bersuara. Padahal Nadiem partner terpercaya Google.

Tom menulis: saatnya Google bersuara. Google sudah disebut divonis pengadilan terkait dengan suap saat Kemendikbud membeli 1,1 juta Chromebook yang merugikan negara, menurut hakim, Rp 1,5 triliun.

Nadiem tidak hanya dijatuhi hukuman 10 tahun menjara dan langsung masuk tahanan lagi, juga harus mengembalikan uang ke negara Rp 800 miliar lebih sedikit –sedikitnya itu banyak banget bagi Anda: Rp 9,59 miliar.

Tom seperti curiga Google tidak mau angkat bicara untuk melindungi bisnisnya di Indonesia.

Wartawan tua ternyata banyak yang tidak mau pensiun. Terus menulis. Tulisan mereka bagus-bagus. Banyak yang saya copy untuk saya simpan.

Niagara SW60+

Di Niagara ini pun saya menulis. Bukan menikmati pemandangannya. Padahal saya harus menulis: bahwa Niagara yang di sisi Kanada ini jauh lebih ramai dari Niagara yang di sisi Amerika.


Pemandangan Air Terjun Niagara dari sisi Kanada memperlihatkan American Falls di kiri dan Horseshoe Falls di kanan, yang menjadi daya tarik utama kawasan wisata lintas negara itu.–

Dari sisi Amerika kita hanya bisa melihat sisi samping air terjun Niagara. Amerika sampai membangun jembatan wisata. Jembatan itu hanya sampai di tengah sungai: agar wisatawan mau ke ujung jembatan untuk bisa melihat air terjun dari posisi yang lebih baik. Tapi tetap saja tidak sebaik kalau dilihat dari wilayah Kanada.


Jembatan Rainbow Bridge yang menghubungkan Amerika Serikat dan Kanada membentang di atas Sungai Niagara. Dari kawasan ini wisatawan dapat berjalan kaki melintasi perbatasan kedua negara.-

Maka saya menyeberang ke Kanada –jalan kaki melewati jembatan antar negara di atas sungai yang namanya juga Niagara.

Jembatannya sendiri diberi nama ”Rainbow Bridge”: dari jembatan ini memang bisa melihat pelangi yang muncul di jatuhan air terjun Niagara.

Begitu sampai di daratan Kanada jelas sekali: air terjun itu memang menghadap ke Kanada. Dua-duanya. Air terjun Niagara itu dua. Berdekatan. Yang besar dan yang besar sekali. Yang lurus dan yang membentuk huruf U. Itulah sebabnya turis yang ke Niagara-nya Kanada jauh lebih banyak dari turis di Niagara-nya Amerika.

Niagara memang indah. Tapi polemik antara BHM dan Arya Gunawan di SW60+ lebih indah. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.