Wed,20 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Nikel, si Biang Keladi Gastrokolonialisme Suku Asli Halmahera

Nikel, si Biang Keladi Gastrokolonialisme Suku Asli Halmahera

nikel,-si-biang-keladi-gastrokolonialisme-suku-asli-halmahera
Nikel, si Biang Keladi Gastrokolonialisme Suku Asli Halmahera
service

Artikel Parafrase (Versi SEO)

Pulau Halmahera, Maluku Utara, menyimpan cadangan nikel terbesar di Indonesia, mencapai 1,4 miliar ton. Logam ini kini jadi rebutan dunia karena menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Namun, di balik gemerlap industri hijau, ada cerita getir: suku asli O’Hongana Manyawa terancam kehilangan hutan, sumber pangan, dan budaya mereka.

Sejak era Orde Baru, hutan-hutan Halmahera mulai terkikis akibat izin pengelolaan komersial. Kini, ekspansi tambang nikel memperparah kerusakan. Suku O’Hongana Manyawa—penjaga hutan yang hidup dengan berburu dan meramu—dipaksa bergantung pada beras dan bantuan perusahaan tambang.

Hidete, salah satu tetua suku, mengaku rutin menerima beras dari perusahaan tambang yang beroperasi di area jelajahnya. Padahal, dulu mereka mengandalkan sagu, umbi-umbian, dan hasil buruan seperti rusa, babi, atau ikan sungai. Kini, hewan buruan makin langka akibat hutan yang ditebang dan air sungai tercemar limbah tambang.

Bukan hanya perusahaan, pemerintah pun ikut mendorong ketergantungan pangan nonlokal dengan program bantuan beras. Akademisi Universitas Halmahera, Radios Simanjuntak, menegaskan praktik ini berbahaya: suku yang semestinya mandiri dengan pangan hutan, malah diarahkan untuk meninggalkan tradisi leluhur. Jika dibiarkan, konservasi hutan Halmahera bakal terancam.

Di balik cerita sedih ini, megaproyek hilirisasi nikel terus melaju. Konsorsium perusahaan Indonesia, China, dan Prancis membangun smelter hingga pabrik baterai, dengan target produksi puluhan gigawatt jam (GWh). Namun, ambisi global ini memaksa Suku O’Hongana Manyawa meninggalkan jati diri mereka sebagai “penjaga hutan.”

Hilangnya hutan bukan sekadar deforestasi, tapi juga hilangnya nyawa, budaya, dan kedaulatan pangan. Sementara dunia mengejar energi hijau, masyarakat adat Halmahera justru kehilangan masa depan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.