Sebuah novel tipis setebal 154 halaman menarik saya untuk berpikiran soal hewan. Buku klasik ini ditujukan sebagai bacaan anak-anak, tapi saya rasa orang dewasa patut untuk membacanya. Novel karangan Hugh Lofting bertajuk The Story of Doctor Dolittle (Gramedia, 2023) berkisah tentang seorang dokter bernama John Dolittle yang menyukai kehidupan bersama hewan-hewan.
Awalnya ia adalah dokter manusia, tetapi karena kecintaannya yang besar terhadap hewan, ia mulai mempelajari bahasa mereka dan akhirnya mampu berbicara dengan berbagai jenis binatang. Kemampuan unik ini membuatnya lebih memilih merawat hewan daripada manusia, sehingga rumahnya dipenuhi oleh aneka satwa yang menjadi sahabat sekaligus pasiennya. Dalam salah satu paragraf, ia pernah berujar: Tapi saya lebih menyukai hewan daripada orang-orang terbaik.
Cerita memasuki inti saat petualangan besar terjadi. Doctor Dolittle melakukan perjalanan dari Inggris ke Afrika untuk membantu menyembuhkan penyakit yang menyerang populasi monyet di sana. Bersama hewan-hewan kesayangannya—termasuk anjing Jip, burung beo Polynesia, dan babi Guinea Gub-Gub—ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari badai laut hingga pertemuan dengan suku-suku lokal.
Dalam perjalanan itu, ia menunjukkan bahwa kasih sayang, komunikasi, dan rasa hormat terhadap hewan dapat membuka jalan menuju persahabatan lintas spesies.
Novel ini pada akhirnya bukan hanya mengangkat kisah petualangan penuh imajinasi, tetapi juga sebuah alegori tentang pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam, utamanya hewan. Sang penulis, Hugh Lofting menekankan bahwa hewan memiliki nilai dan suara yang layak didengar sama halnya dengan manusia.
Setelah membaca buku karangan Hugh Lofting, saya jadi teringat peristiwa awal Januari lalu,saat mengikuti acara nyadran makam di Dusun Krecek, Temanggung. Karena memakan waktu cukup lama, panitia saat itu memfasilitasi tempat penginapan bersama masyarakat untuk para peserta. Selama tinggal di sana, saya memperhatikan suasana di Dusun itu, termasuk tempat saya menginap. Hal paling membekas dalam pikiran saya hingga kini adalah relasi manusia dan hewan yang masih terbangun dengan amat intim.
Di Dusun Krecek masyarakatnya hidup berdampingan dengan hewan. Setiap rumah memiliki anjing, tak jarang juga sapi, kambing, dan ayam. Anjing biasanya akan membantu majikannya ke ladang dan ikut meramaikan suasana rumah. Untuk sapi dan kambing, pemilik tidak menggembalakan di lapangan atau tempat yang dipenuhi rumput. Dua hewan itu ada di kandang, dibuatkan menempel dengan rumah inti. Induk semang saya punya enam belas kambing, letak kandangnya menempel dengan kamar tempat saya tidur. Jadi, suara kambing jelas terdengar, samar-samar saya juga bisa mencium baunya.
Semua pengalaman itu mengingatkan saya untuk merenungi kehidupan di Kota. Di wilayah dengan pemukiman padat, manusia sangat jarang bertemu hewan. Kalaupun menjumpai biasanya sudah dibungkus plastik alias dalam keadaan mati, siap diolah. Kalau tidak begitu, paling ‘banter’ nonton di YouTube atau melihat gambar di buku-buku. Manusia tak lagi punya kedekatan untuk mendengar suara, mencium aroma, mengelus tubuh hewan, apalagi hidup berdampingan secara nyata.
Ada rasa khawatir, jika pola itu terus dibiarkan, agaknya ekosistem bisa bermasalah. Bila manusia tidak punya pengalaman langsung dengan hewan, tak ada kedekatan terjalin yang melibatkan indera, situasi ini secara tidak langsung mengkondisikan manusia untuk melihat hewan hanya sebatas produk ekonomi, bukan subjek yang turut berkontribusi dalam menjaga keseimbangan alam. Padahal hewan punya peran penting dalam keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem.
Para ahli ekologi sepakat hewan adalah bagian dari rantai kehidupan yang menjaga keseimbangan alam, mulai dari penyerbukan, pengendalian hama, hingga menjaga siklus energi dan nutrisi. Hilangnya peran hewan dalam ekosistem akan menimbulkan risiko besar bagi keberlangsungan hidup manusia maupun alam. Para ahli ekologi menyebut fenomena ini sebagai ‘ecological collapse’ atau keruntuhan ekosistem, karena setiap spesies memiliki fungsi yang saling terkait.
Risiko jika peran hewan hilang bisa menyebabkan krisis pangan. Misalnya bila penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu hilang, otomatis produksi buah, sayur, dan biji menurun drastis. Akibatnya, manusia menghadapi kelangkaan pangan dan harga meningkat. Selain itu, hilangnya satu spesies dapat memutus rantai energi. contohnya jika ikan kecil punah, maka ikan besar dan burung laut kehilangan sumber makanan.
Kesadaran ini makin tebal muncul dalam pikiran saya saat menonton serial di Netflix berjudul Our Planet (2019). Serial dokumenter alam ini menghadirkan visual yang menakjubkan tentang keindahan bumi sekaligus rapuhnya ekosistem yang menopang kehidupan. Dokumenter ini juga memperlihatkan bagaimana hewan, dari yang terkecil hingga yang terbesar, memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Hewan bukan hanya sekadar penghuni bumi, tetapi juga penopang utama keberlangsungan hidup manusia.
Lebah dan kupu-kupu misalnya, menjadi penyerbuk yang memungkinkan tumbuhan menghasilkan buah dan biji, sementara predator seperti singa atau burung hantu menjaga populasi mangsa agar tidak melampaui batas. Ketika satu spesies punah, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya hewan itu sendiri, melainkan merambat ke seluruh rantai ekosistem. Hilangnya lebah berarti berkurangnya tanaman yang bisa tumbuh, yang kemudian mempengaruhi hewan herbivora, lalu predator, hingga akhirnya manusia yang bergantung pada hasil bumi.
Dokumenter ini juga turut menyoroti kerusakan besar yang diakibatkan oleh manusia. Deforestasi menghapus habitat jutaan spesies, polusi plastik mencemari lautan dan membunuh biota laut, perubahan iklim mencairkan es kutub dan mengganggu pola migrasi hewan, dan perburuan berlebihan mempercepat kepunahan. Semua tindakan ini memperlihatkan betapa rapuhnya jaring kehidupan yang terjadi saat ini. Agaknya semua masalah itu berakar dari hilangnya kedekatan manusia dengan hewan. Kedekatan itu terputus karena tatanan kota yang tidak ramah pada alam, kapitalisme, dan antroposentris akut yang menjalar dalam hidup manusia.




Comments are closed.