Mubadalah.id – Pagi yang hangat, seusai menekuri beberapa unggahan perayaan Paskah di media sosial, saya membaca artikel Fox News di laman resminya. Sedianya, sebagai sempalan dari umat beragama, saya sekadar berupaya ikut men-tafakkur-i sukacita Paskah tahun ini.
Pada artikel yang saya baca itu, membenderang sebuah kabar perihal kian banyaknya masyarakat Amerika yang “kembali” memeluk agama Katolik. Mungkin, kata “kembali” yang saya pakai ini punya makna yang mirip dengan kata ‘ied yang melekat pada kata idulfitri kemarin.
Tentu, saya tidak punya cukup kapasitas untuk memberikan pembacaan yang akurat. Saya sekadar ingin membagikan perspektif personal saya pada fakta yang menyebut angka pemeluk Katolik anyar dari kalangan orang dewasa terus mengalami peningkatan.
Tak tanggung-tanggung, di Amerika Serikat, peningkatannya bahkan mencapai kisaran 30 persen. Para uskup di beberapa wilayah, seperti Cleveland, Ohio, Boston, Massachusetts, and Portland, Oregon, juga melaporkan hal serupa.
Sementara, di New Jersey, setidaknya 1.701 orang akan menyatakan iman Katolik mereka pada tahun 2026 ini. “Tahun lalu, kami memecahkan rekor jumlah jemaat baru dari kalangan orang dewasa. Tahun ini juga begitu,” ujar Uskup New Jersey, Robert Baron.
Kebangkitan Gereja
Baron menyebut jika tren bertambahnya pemeluk Katolik ini akan terus berlanjut. Pasalnya, di beberapa kampus seperti Texas A&M University, University of Notre Dame, serta Arizona State University, fenomena serupa juga muncul. Artinya, bukan lagi snapshot.
Katedral Notre Dame bahkan sampai menyebut tren log in saat ini sebagai yang paling besar dalam 25 tahun terakhir. Teranyar, gereja telah membaptis 125 orang, dan bersiap untuk segera melakukannya kepada 163 katekumen pada beberapa waktu mendatang.
Menurut Robert Baron, para pemeluk anyar iman Katolik tersebut kebanyakan berangkat dari rasa dahaga akan kebenaran (hungry of truth). Baron juga menyebut bahwa fenomena hari ini merupakan bagian dari respon atas tren ateisme yang berkembang di tahun 2000-an.
Saat itu, banyak generasi muda yang putus asa terhadap kondisi dunia. Kini, mereka kembali kepada agama. Hal itu berangkat dari refleksi akan jiwa manusia yang tak bisa merasa puas dengan apapun yang dunia tawarkan lantaran bersemayamnya nafsu yang menyala-nyala.
“Santo Agustinus pernah menyatakan, ‘Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri. Karenanya, jiwa kami akan selalu gundah sebelum benar-benar kembali kepada-Mu. Pernyataannya itu tetap benar hingga saat ini,” imbuh Baron.
Kembali kepada-Nya
Pengalaman yang mewujud di kalangan saudara-saudara Katolik di Amerika Serikat tentu merupakan kabar gembira bagi umat agama apapun. Selaku pemeluk Islam, saya menyambutnya sebagai refleksi diri untuk kembali bergiat memakmurkan masjid.
Alih-alih memahami fenomena aktual itu sebagai suatu ancaman atau kompetitor, saya—dan tentu umat Islam pada umumnya—lebih nyaman bersikap reflektif. Gereja, masjid, wihara, pura, atau tempat ibadah apapun barangkali memang sudah sewajarnya untuk kembali makmur.
Saya kira, pemeluk agama apapun akan bersepakat dengan ujaran Santo Agustinus tadi tentang kembali kepada-Nya. Islam, misalnya, memiliki kata raja’a beserta muradif-nya di dalam Alquran untuk menunjukkan seruan untuk kembali kepada-Nya itu.
Tentu, ini bukan bermaksud sekadar cocokologi atau semacamnya, melainkan sebuah sentilan personal untuk berani menggenggam akan kesiapan umat kembali kepada-Nya. Langkah kembali yang paling sederhana, ya tentu, datang ke rumah-Nya.
Saya rasa, kita tak perlu khawatir dengan penyusutan jumlah umat agama sendiri hanya karena umat agama lain terus bertambah. Selain urusan soal agama bersifat privat, hal yang semestinya kita khawatirkan adalah bagaimana kita memupuk keberagamaan kita sendiri.
Akhiran, sebagai seorang muslim, pelajaran yang saya petik dari Paskah tahun ini mungkin ialah ajakan untuk kembali kepada-Nya. Rutinitas keseharian dan kesibukan kapitalistik barangkali telah menjarakkan kita dari Sang Nya itu, entah sadar atau tidak.
Lekas kembali kepada-Nya, sebelum Sang Nya benar-benar tiba menjemput! []





Comments are closed.