Jakarta, Arina.id—Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi berlaku pada Rabu (8/4/2026). Kesepakatan ini menghentikan 40 hari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang sempat mendorong Kawasan Timur Tengah ke ambang konflik lebih luas.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) berharap kesepakatan gencatan senjata bisa menghentikan kekerasan secara permanen.
“Berharap ini menjadi permanen. Gencatan senjata ini diikuti dengan penghentian kekerasan secara menyeluruh,” kata Gus Yahya saat konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (10/4).
Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun harus dihentikan karena mengancam kemanusiaan secara luas. “Ini harus didukung dan disyukuri,” jelasnya.
Gus Yahya juga mengapresiasi peran aktif Pakistan dalam memediasi Iran dan Amerika Serikat hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
“Apresiasi kepada pemerintah Pakistan yang telah berupaya menjadi penengah dalam komunikasi antara pihak-pihak yang berkonflik,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan kepada negara-negara Teluk yang hingga saat ini tidak membalas serangan terhadap Iran, serta tidak bersedia menjadikan wilayahnya sebagai basis serangan.
“Mengapresiasi negara-negara Teluk yang tidak membalas serangan, bahkan menolak wilayahnya dijadikan basis untuk menyerang Iran,” katanya.
Menurutnya, perang dan kekerasan di mana pun dan apa pun alasannya merupakan bencana kemanusiaan yang harus dicegah.
“Dan kita upayakan dihentikan sesegera mungkin,” ujarnya.
Gus Yahya menilai konflik tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat, tetapi juga pada dunia secara luas. Dampak tersebut dirasakan oleh berbagai negara dan masyarakatnya.
“Semua negara terdampak dan semuanya berjibaku menghadapi dampak ini,” pungkasnya.





Comments are closed.