Seiring dimulainya gelaran Piala Dunia 2026 yang dibuka 11 Juni 2026 dengan Mexico sebagai tuan rumah, perhatian publik tak hanya tertuju pada persaingan antarnegara di lapangan, tetapi juga pada pentingnya menjaga kesehatan para pemain melalui pola hidup sehat.
Meski Indonesia tidak ikut di Piala Dunia kali ini, ajang sepak bola terbesar dunia ini tetap menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan sepak bola nasional. Dari sudut pandang pelatih, kualitas teknik dan taktik tidak akan maksimal tanpa didukung kondisi fisik yang prima. Para pemain dituntut menerapkan gaya hidup disiplin mulai dari menjaga asupan gizi, berolahraga secara rutin, hingga menghindari kebiasaan merokok yang dapat menurunkan fungsi paru-paru dan daya tahan tubuh.
Pelatih klub Persiba Balikpapan Leonard Tupamahu mengatakan pemain bola harus disiplin meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok karena daya tahan prima adalah kunci penting seorang pesepak bola.
“Logika sederhana saya begini. Kalau saya saja yang tidak merokok ketika bermain bola bisa ngos-ngosan, apalagi pemain bola yang merokok. Penting pemain punya pola latihan, mempersiapkan dirinya, bukan hanya di tim saja tapi wajib menjaga kebugaran diri sendiri,” ujar Leonard kepada Prohealth, Jumat 19 Juni 2026.
Menurut mantan pesepakbola Bali United ini, kebiasaan merokok dapat berdampak negatif bagi performa pemain di lapangan karena berdampak langsung pada kesehatan paru-paru, jantung, dan daya tahan tubuh. Rokok dapat mengurangi kemampuan tubuh menyerap oksigen secara optimal, utamanya dalam pertandingan sepak bola yang menuntut kecepatan, kekuatan, dan intensitas tinggi selama 90 menit.
“Pemain bola itu paru-parunya menghirup oksigen lebih banyak untuk berlari dalam pertandingan. Kalau dia merokok lalu berakibat pada terganggunya cara dia bernafas atau hirup oksigen, sudah pasti akan mengganggu performanya di lapangan. Pemain bola itu sebelum musim tanding ada tes fisik untuk mengetahui VO2 Max si pemain,” tutur Leonard.
Merujuk pada laman halodoc.com, VO2 Max (Volume Oksigen Maksimal) merupakan indikator yang menunjukkan volume maksimal oksigen yang dapat diproses oleh tubuh manusia selama melakukan aktivitas fisik intensitas tinggi. Semakin tinggi angka VO2 Max seseorang, maka semakin baik pula kemampuan tubuhnya dalam menghasilkan energi untuk durasi yang lebih lama. Ini bukan sekadar angka bagi atlet profesional, melainkan juga cerminan kesehatan jantung dan pembuluh darah secara umum.
“Daya hirup oksigen dalam paru-paru. Kalau paru-parunya tidak bekerja secara maksimal karena si pemain merokok, bagaimana dia mau punya angka VO2 Max yang bagus? Sudah pasti merokok itu tidak baik untuk seorang pemain bola yang harus berlari intens selama pertandingan,” tegas Leonard.
Meski sebagai pelatih Leonard tidak punya aturan khusus terkait larangan merokok yang diterapkan pada para pemainnya, kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat terus ia gaungkan kepada anak-anak binaannya di Persiba. Karena, diakui Leonard, tak sedikit para pemainnya yang hingga kini masih menjadi perokok aktif.
“Kurang lebih sepertiga dari 30 pemain Persiba, mungkin sekitar 5 hingga 7 orang yang masih rutin merokok. Saya lihat mereka merokok. Saya hanya minta mereka jangan merokok di depan saya. Lebih bagus ya jangan merokok,” ujar Leonard.
Lantas, Leonard berkaca pada pengalaman pribadinya yang berhenti merokok di usia muda demi mengejar karir sebagai pesepak bola profesional. Ia mengenal rokok sejak usia lima tahun.
“Waktu saya masih TK, Om saya taruh rokok di atas televisi. Diam-diam saya coba merokok di atas genteng, ketahuan Mama. Ibu saya kan perawat, dimarahin habis-habisan. Kenal rokok lagi pas SD sama teman-teman, pasti siapkan permen atau daun jambu biar menyamarkan bau,” tutur Leonard.
Setiap pulang sekolah, kata Leonard, sang ibu sangat ketat memeriksa tangan dan mulutnya untuk memastikan ia tidak merokok. Namun, hal itu tak juga menghalanginya berhenti merokok.
“Kelas 1 SMP saya ingat sekali, saya masih merokok, tapi sudah mulai senang sepak bola karena melihat teman sekelas yang bagus sekali main bola. Juga mulai suka nonton timnas ada Aples Tecuari waktu itu. Saya putuskan untuk serius jadi pemain bola, saya harus berhenti merokok,” kata dia.
Bagi Leonard, keputusan berhenti merokok di usia remaja dilakukannya dengan tak banyak bergaul dengan lingkungan pertemanan yang mayoritas perokok. Ia menggembleng diri dengan kesibukan bermain bola. “Pulang sekolah, main bola di rumah sampai sore, atau ke klub bola. Dan nongkrong pun dengan sesama pemain bola yang tidak merokok,” ucap Leonard.
Meski begitu, Leonard tidak memungkiri lingkungan perokok tidak bisa sepenuhnya dihindari. “Ikan tidak harus dagingnya asin meski berenang di air laut kan? Saya tidak perlu sama dengan mereka yang merokok,” kata dia.
Leonard mengawali karier profesionalnya sebagai pesepak bola saat dipinang Persija Jakarta pada 2002. Dari Persija, kariernya terus berlanjut ke sejumlah klub seperti Persikabo, Arema Cronus, Persema Malang, Pelita Bandung Raya, Persiram Raja Ampat, Borneo FC, Bali United, dan PSS Sleman hingga akhirnya gantung sepatu pada Juli 2024. Setelah memutuskan pensiun, Leonard beralih profesi di dunia sepak bola dengan menjadi manajer klub PSS Sleman sebelum berkarier sebagai pelatih kepala di klub Persiba Balikpapan.
Hingga hari ini, Leonard tak pernah lagi menyentuh zat adiktif itu. Lingkungan sekitar yang positif juga menjadi faktor pendukung utama.
“Saya juga lihat contoh dari kedua orang tua saya yang dulunya juga perokok. Mereka putuskan berhenti dan tidak kembali lagi merokok. Mereka komit, saya pun begitu. Itu bukan diri saya lagi,” ujar Leonard.
Meski demikian, keputusan untuk berhenti merokok menurut Leonard merupakan perjuangan melawan diri sendiri setiap hari. “Buat pilihan sedini mungkin untuk tidak merokok, kita harus deal dengan diri kita. Gambar besar diri kita ini mau jadi apa, bertindaklah sesuai tujuan itu. Mau merokok atau hidup sehat? Percayalah kalau kamu tidak merokok itu akan lebih sehat. Sesederhana itu,” ujar Leonard.
Momentum Piala Dunia 2026 pun menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga tingkat dunia tidak hanya dibangun melalui latihan keras, tetapi juga melalui komitmen terhadap gaya hidup sehat yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.





Comments are closed.