Wed,26 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Penghambat perempuan dalam STEM bukan kurikulum, tapi standar “kepantasan” yang timpang

Penghambat perempuan dalam STEM bukan kurikulum, tapi standar “kepantasan” yang timpang

penghambat-perempuan-dalam-stem-bukan-kurikulum,-tapi-standar-“kepantasan”-yang-timpang
Penghambat perempuan dalam STEM bukan kurikulum, tapi standar “kepantasan” yang timpang
service

● Norma dan ekspektasi sosial memicu rendahnya partisipasi perempuan di bidang STEM.

● Ini bukan soal talenta yang hilang, tetapi rangkaian proses yang memang menyulitkan perempuan untuk berpartisipasi.

● Solusinya tidak bisa parsial—perlu perencanaan struktur, aturan main, mekanisme, dan prosedur operasional.


Rendahnya partisipasi perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) bukan karena kurikulum, tapi lebih banyak disebabkan oleh norma sosial dan stereotip gender terhadap perempuan yang jamak berlaku di Indonesia.

Norma ini mungkin tidak selalu terdengar sebagai “larangan”, bahkan acap kali muncul dalam kalimat sederhana: “jaga nama baik,” “tidak sopan kalau membantah,” “lebih aman di rumah.”

Namun, dari sinilah jalur STEM bagi perempuan menyempit. Perempuan bukan kurang mampu, tetapi ekspektasi sosial yang memaksa mereka mengecilkan suara, membatasi gerak, dan menahan ambisi agar tetap dianggap “baik”.

Domestikasi perempuan—sebagai pengasuh, menjaga diri, dan tidak terlalu muncul—membentuk cara anak perempuan membayangkan masa depannya. Mulai dari apa yang aman, apa yang terhormat, hingga apa yang realistis untuk dikejar. Hal ini termasuk di STEM yang menuntut perempuan untuk mengungkapkan gagasan, bepergian, dan tampil di depan umum.

Inilah yang disebut sebagai kurikulum tersembunyi yang seakan mengajarkan publik bagaimana memandang perempuan. Ini bukan tentang materi pelajaran, melainkan pelajaran sosial tentang siapa yang dianggap pantas tampil, bergerak, memimpin, dan bersuara.


Read more: Kenaikan partisipasi perempuan di bidang STEM lambat: terhambat sejak hulu hingga hilir


‘Gerbang-gerbang’ yang tidak ramah perempuan

Ketika partisipasi perempuan di bidang STEM rendah, kita sering menyebutnya sebagai “kebocoran pipa” (pipeline). Seolah-olah, ada talenta yang bocor di tengah jalan.

Namun metafora ini kurang tepat. Jalur STEM bukan aliran mulus yang tiba-tiba bocor. Ia lebih menyerupai rangkaian gerbang yang harus dilewati satu per satu—yang seringnya lebih mudah dilewati laki-laki daripada perempuan.

1) Suara dan visibilitas

STEM terbiasa memperdebatkan bukti, menguji klaim, dan menelaah metode.

Namun di banyak ruang kelas, pemberian umpan balik baik dari guru ataupun murid kepada anak perempuan sering tidak konsisten.

Maksudnya, guru memuji prestasi akademis perempuan tetapi perempuan yang berani berdebat, menyanggah, atau tampil percaya diri, kerap dianggap berisiko, “terlalu agresif” atau “terlalu berani”.

Jika kita membiasakan anak perempuan untuk mengecilkan suara, menghindari sorotan, atau takut berargumentasi, kita justru sedang menjauhkan mereka dari praktik inti kerja ilmiah: bernalar terbuka, menguji gagasan, dan mempertahankan klaim dengan bukti.

Tanpa ruang yang aman untuk melatih keterampilan ini, banyak siswa perempuan berprestasi memilih jalur yang “lebih aman” secara sosial.

2) Mobilitas dan jejaring

Pengalaman STEM berkembang seiring waktu dan pengalaman. Ia bertumbuh melalui laboratorium, kerja lapangan, kompetisi, konferensi, proyek kolaboratif, dan komunitas. Pengalaman ini membuka akses pada mentor, memperluas jejaring, dan membangun rasa percaya diri.

Namun, bagi perempuan, pergerakan mereka ke banyak tempat dan pada jam-jam tertentu kerap dibatasi oleh kekhawatiran keamanan, tuntutan kepantasan, atau kecemasan reputasi.


Read more: Masalah pakaian, ‘catcalling’, budaya patriarki: 3 faktor penghambat karier perempuan pegiat konservasi alam


3) Waktu dan beban pengasuhan

Ketika perempuan (bahkan sejak remaja) memikul lebih banyak pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan, waktu untuk belajar malam, mengikuti pelatihan, terlibat dalam proyek, atau membangun jejaring menjadi lebih terbatas.

Mereka bukan hanya berisiko kelelahan, tetapi juga kehilangan peluang yang sering berlangsung di luar jam sekolah atau jam kerja.

4) Kredibilitas dan seleksi kepemimpinan

STEM bergantung pada kredibilitas: siapa yang dianggap sah sebagai “ahli” dan layak memimpin.

Ketika perempuan hanya dianggap sebagai pendukung, masyarakat akan lebih jarang meminta keahlian mereka, lebih mudah meragukan kemampuan mereka, dan lebih lambat menghargai mereka.

Kesenjangan kredibilitas ini tampak di kelas, kampus, dan tempat kerja. Misalnya dalam hal siapa yang ditunjuk memimpin atau siapa yang pendapatnya diikuti.

Perubahan dimulai dari sekolah

Jika kita ingin lebih banyak perempuan berkarier di bidang STEM, kita memerlukan desain institusional (perencanaan struktur, aturan main, mekanisme, dan prosedur operasional), bukan sekadar ungkapan motivasi “perempuan pasti bisa”.

Artinya, sekolah harus membangun rutinitas yang konsisten memberi ruang aman bagi perempuan untuk bersuara, bergerak, dan memimpin—tanpa “biaya sosial” yang mesti ditanggung.

1) Jadikan penalaran kebiasaan kelas

Bangun rutinitas mingguan untuk siswa menjelaskan strategi, membandingkan cara, menantang ide dengan bukti, lalu merevisi kesimpulan secara terbuka.

Fokusnya bukan pada siapa yang cepat menjawab, tetapi pada siapa yang bisa menjelaskan mengapa jawabannya masuk akal.

2) Jadikan kepemimpinan keterampilan bersama

Sekolah dapat menetapkan peran bergilir, yaitu bergilir memimpin diskusi, memeriksa bukti, merangkum, bertanya secara kritis, agar kepemimpinan menjadi keterampilan yang dipelajari bersama, bukan posisi yang “otomatis” dimiliki siswa laki-laki.

Melalui pergantian peran, semua siswa bisa berlatih menjadi pemberi alasan dan pengambil keputusan kecil di kelas.

3) Audit interaksi kelas

Sekolah dapat meminta guru menerapkan pemantauan sederhana: siapa yang paling sering dipotong saat berbicara, siapa yang lebih sering mendapat pertanyaan lanjutan, dan siapa yang dipuji karena penalaran (bukan sekadar kepatuhan).

Gunakan catatan ini untuk memperbaiki pola interaksi—misalnya dengan aturan giliran bicara, memberi jeda beberapa detik sebelum menunjuk siswa (wait time), serta memastikan pertanyaan dibagikan lebih merata.

Tujuannya memperbaiki sistem kelas, bukan menyalahkan individu.

4) Dekatkan figur STEM

Undang profesional lokal, alumni, atau mahasiswa bidang STEM dari sekitar sekolah. Ketika siswa perempuan melihat contoh yang nyata dan dekat, mereka lebih mudah membayangkan diri mereka berada di bidang STEM.

5) Rancang partisipasi yang aman di luar kelas

Kegiatan STEM di luar sekolah (klub, lomba, kunjungan lab) harus disertai dukungan logistik dan perlindungan yang jelas: pendampingan yang memadai, akomodasi aman, komunikasi orang tua yang transparan, serta protokol tanggung jawab (duty-of-care).

Jangan memindahkan beban “risiko” ke keluarga—terutama keluarga yang sensitif pada reputasi dan kepantasan.

Dilanjutkan oleh kampus dan tempat kerja

Kampus dan tempat kerja bisa ikut mengurangi hambatan partisipasi perempuan dalam STEM melalui beberapa kebijakan:

1) Mendanai mobilitas dengan aman dan jelas

Sediakan dana perjalanan untuk riset, praktik kerja, kerja lapangan, konferensi, dan proyek lintas kota—disertai aturan pendampingan, pilihan akomodasi yang aman, serta prosedur perlindungan yang jelas (izin orang tua/wali bila diperlukan, kontak darurat, mekanisme pelaporan).

Ini penting karena banyak kesempatan STEM di Indonesia terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Padahal, mahasiswa dan pekerja berasal dari berbagai daerah.

2) Mengakui lintasan karier yang tidak selalu mulus

Perbaiki kriteria seleksi beasiswa, rekrutmen, dan promosi agar tidak merugikan mereka yang mengambil jeda pengasuhan, cuti melahirkan, atau tanggung jawab keluarga.

Ukur kinerja secara proporsional dan berbasis capaian, bukan semata lamanya berada di satu pekerjaan.

3) Membangun jalur kembali yang nyata

Sediakan skema kembali bekerja/belajar setelah jeda pengasuhan atau cuti. Ini mencakup pelatihan penyegaran, akses proyek awal yang aman, penugasan bertahap, dan mentoring aktif.

Pastikan proses seleksi transparan dan berbasis bukti, sehingga keputusan tidak bergantung pada jaringan informal atau persepsi reputasi.

Mustahil mendorong daya saing STEM apabila negara terus memelihara sistem yang menyaring perempuan keluar dari jalur keahlian. Tanpa intervensi pada kurikulum tersembunyi, retorika kesetaraan gender dalam STEM hanyalah ilusi.


Read more: Partisipasi perempuan dalam STEM: Dunia perlu lebih banyak Marie Curie



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.