Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. “Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,” katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung. Yang tersisa di pasar, harganya melonjak. Sebelumnya satu tandan pisang kepok dihargai Rp25.000 hingga Rp35.000 di tingkat petani. Kini bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000. Di Pasar Alok Maumere, pedagang sudah menjual satu tandan hingga Rp150.000 hingga Rp200.000. Ini adalah wabah penyakit darah pisang, dan ia sedang bergerak cepat. Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan betapa cepatnya penyebaran itu. Pada April 2024, serangan baru mencakup 25,62 hektar dari total 1.348 hektar lahan pisang di kabupaten ini. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 366,62 hektar dari total lahan yang kini menyusut menjadi 1.142 hektar. Area yang berhasil dikendalikan hanya 57,46 hektar, atau sekitar 15 persen dari yang terserang. Produksi pisang Sikka sendiri sudah anjlok drastis: dari 823.132 kuintal pada 2020 menjadi hanya 125.892 kuintal pada 2024. Penyebabnya adalah bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang. Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Nusa Nipa Maumere, menjelaskan bahwa bakteri ini memblokir aliran air dan nutrisi di dalam tanaman, memunculkan gejala layu dan pembusukan internal yang tampak seperti darah kehitaman di dalam buah. “Rsc memblokir aliran air dan nutrisi, sehingga muncul gejala layu dan pembusukan internal,” ujarnya. Penyebarannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. Bakteri ini tidak hanya menular…This article was originally published on Mongabay
Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya
Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya





Comments are closed.