Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut. “Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026). Dia baru menanam sorgum pada Januari karena musim hujan terlambat. Untuk tumbuh bagus, satu lubang maksimal ditanam empat benih sorgum dengan jarak tanam 40×20 cm. Penanaman baiknya dilakukan saat hujan turun menerus. Bila setelah dua hari ditanam tidak ada hujan, maka benih sorgum akan dimakan belalang dan semut. Jika ditanam ulang, bulirnya tidak akan besar. “Bila tumbuh empat daun, artinya panen akan berhasil,” ucapnya. Siprianus menanam sorgum sejak 2017, sepulang dari Malaysia. Di lahan itu juga, ditanami jagung dan padi. Pemasukannya saat panen sekitar Rp10 juta. “Uang dari sorgum untuk kebutuhan lainnya, sementara hasil padi dan jagung untuk harian. Selepas panen, kami mancing untuk penghasilan tambahan,” ucapnya. Siprianus Belawa Kolah sedang penen sorgum di kebunnya di Likotuden, Desa Kawalelo, Flores Timur, NTT. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Bonifasius Soge Kolah, anggota kelompok petani sorgum Likotuden Herin Lela, menyatakan masyarakat mulai menanam sorgum sejak 2015. “Tahun ini, kami menanam agak terlambat,” jelasnya, Selasa (19/5/2026). Luas lahan sorgum di Likotuden sekitar 26 hektar yang dikembangkan 40 petani. Tahun 2025, hasil panen mencapai sekitar 32 ton dan 2026 diprediksi 35-40 ton. Sorgum yang dijual gelondongan tanpa dirontok atau disosoh, dihargai Rp9 ribu per kilogram. “Lahan saya satu hektar lebih. Tahun lalu produksi 1,8 ton,…This article was originally published on Mongabay
Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan
Flores Perlu Kembangkan Sorgum Sebagai Bahan Pangan





Comments are closed.