Jakarta, Arina.id — Akademisi sekaligus filsuf muda Indonesia, Fahruddin Faiz, menjelaskan pandangan filsuf Yunani Aristoteles mengenai tiga jenis persahabatan. Menurutnya, tidak semua hubungan pertemanan dibangun di atas fondasi yang sama. Ada persahabatan yang lahir karena kesenangan, manfaat, hingga nilai kebajikan.
Dalam sebuah kajian, Fahruddin Faiz menyebut Aristoteles membagi persahabatan ke dalam tiga kategori utama, yakni friendship based on pleasure, friendship based on usefulness, dan friendship based on virtue.
“Yang pertama friendship based on pleasure. Yang kedua, friendship based on usefulness dan yang ketiga, friendship based on virtue,” ujarnya dala tayangan Mengaji Hening diakses Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, persahabatan yang didasarkan pada kesenangan (based on pleasure) merupakan hubungan yang terjalin karena seseorang merasa nyaman, senang, dan menikmati kebersamaan dengan temannya.
“Bersahabat itu ada yang karena pleasure-nya, senangnya, nikmatnya. Pak, saya itu senang kalau bareng teman-teman saya ini. Ah, itu based on pleasure. Jadi, saya mau bersahabat karena ada rasa senang yang diberikan,” katanya.
Menurut Fahruddin Faiz, tipe persahabatan seperti ini lazim ditemukan dalam pergaulan sehari-hari, terutama pada masa muda ketika beban hidup belum terlalu kompleks.
“Kalau kita ngumpul itu, Pak, wah asyiknya luar biasa, Pak. Jadi, kita bersahabat karena rasa senang. Ndak ingin apa-apa, ndak ingin motif apa, manfaat apa, ndak, Pak. Ngumpul saja kita sudah senang,” tuturnya.
Namun, ia menilai persahabatan yang hanya bertumpu pada rasa senang memiliki kelemahan. Ketika situasi hidup berubah dan kebersamaan tidak lagi menghadirkan kenyamanan seperti sebelumnya, hubungan pertemanan semacam itu berpotensi merenggang.
“Pada saatnya kalau isinya ndak senang itu mungkin ya ndak terlalu menarik lagi persahabatan itu,” ujarnya.
Ia mencontohkan perubahan dinamika pertemanan ketika seseorang memasuki fase dewasa. Saat masih mahasiswa, kata dia, pembicaraan antar teman cenderung sederhana dan menyenangkan. Akan tetapi, setelah masing-masing memiliki kehidupan sendiri, situasi menjadi berbeda.
“Kemarin sih asyik-asyik aja, senang-senang karena masih mahasiswa belum terlalu banyak masalah. Masalahnya sepele-sepele. Mungkin makan warung di mana dan ngopi di kafe mana,” katanya.
“Tapi sekarang sudah dewasa semua, sudah punya anak, berkeluarga semua. Yang dibahas sudah kerja di mana, terus anaknya berapa. Akhirnya yang jomblo jadi mengkeret, yang belum dapat pekerjaan ndak berani muncul dan lain sebagainya. Jadi gak asyik lagi,” lanjutnya.
Karena itu, Fahruddin Faiz menegaskan bahwa persahabatan yang hanya berlandaskan kesenangan dapat runtuh ketika kondisi hidup berubah.
“Dulu menyenangkan karena setara semua, tapi sekarang sudah beda-beda ceritanya. Akhirnya ndak semenyenangkan dulu. Itu kalau persahabatannya masih hanya based on pleasure, di titik tertentu bisa bubar,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehidupan manusia bersifat dinamis sehingga hubungan pertemanan tidak mungkin selamanya diisi dengan suasana menyenangkan.
“Karena situasi hidup itu dinamis, macam-macam. Ndak mungkin senang terus,” ujarnya.
Menurutnya, persahabatan yang lebih kuat justru terbentuk ketika seseorang siap hadir dalam situasi suka maupun duka.
“Kalau sejak awal dasarnya tidak, ini pokoknya kita susah senang bersama, ya gak usah malu, gak usah segan di antara kita sendiri sesama teman. Situasi apa pun yuk kita bareng-bareng,” kata Fahruddin Faiz.
Ia menilai sikap tersebut menunjukkan hubungan persahabatan yang lebih mendalam dibanding sekadar hubungan yang dibangun atas dasar kesenangan sesaat.
“Nah, ini tidak lagi based on pleasure kalau kayak gini,” ungkapnya.





Comments are closed.