Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Prediksi Rasulullah: Ruwaibidhah di Era Medsos, Siapa Itu?

Prediksi Rasulullah: Ruwaibidhah di Era Medsos, Siapa Itu?

prediksi-rasulullah:-ruwaibidhah-di-era-medsos,-siapa-itu?
Prediksi Rasulullah: Ruwaibidhah di Era Medsos, Siapa Itu?
service

Arina.id – Di antara hadits Rasulullah SAW yang terasa sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini adalah sabda beliau tentang datangnya orang-orang sosok Ruwaibidhah pada masa yang beliau sebut sebagai sanawat khadda’at atau “tahun-tahun penuh tipu daya“. 

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Pada masa itu pendusta dipercaya, sedangkan orang yang jujur didustakan. Pengkhianat diberi amanah, sedangkan orang yang amanah justru dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang yang bodoh atau tidak memiliki kapasitas, tetapi ikut berbicara dan mengatur urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini bukan sekadar prediksi tentang masa depan, melainkan peringatan agar setiap individu, khususnya umat Islam, selalu menjaga standar kebenaran, kejujuran, dan amanah di tengah perubahan zaman. Beberapa hal yang harus kita waspadai berdasarkan hadits ini adalah sebagai berikut:

1. Tahun-Tahun yang Penuh Tipu Daya

Mengawali peringatan ini, Rasulullah menggunakan istilah sanawat khadda’at, yaitu masa ketika kebohongan dan manipulasi menjadi sesuatu yang biasa. Pada masa seperti ini, penampilan lebih dihargai daripada isi, pencitraan lebih dipercaya daripada kenyataan, dan informasi yang diulang terus-menerus dianggap sebagai kebenaran meskipun sebenarnya dusta.

Fenomena seperti ini sangat mudah ditemukan pada era digital saat ini. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat masyarakat menerima kabar tanpa melakukan tabayun atau verifikasi. Berita bohong, fitnah, potongan video tanpa konteks, hingga opini yang dibungkus seolah-olah fakta dapat menyebar hanya dalam hitungan detik.

2. Pendusta Dipercaya, Orang Jujur Didustakan

Selanjutnya hadits ini menunjukkan terjadinya krisis kepercayaan. Orang yang pandai memoles kata-kata, memainkan emosi, atau membangun citra bisa memperoleh simpati masyarakat meskipun tidak berkata benar. Sebaliknya, orang yang jujur justru dicurigai, disalahkan, bahkan diserang.

Ini menjadi pelajaran bahwa ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah popularitas atau banyaknya pengikut, melainkan kesesuaian dengan fakta dan nilai-nilai syariat.

Karena itu, setiap diri dituntut berhati-hati sebelum mempercayai suatu informasi, terlebih jika informasi tersebut dapat merusak kehormatan seseorang atau memecah persatuan masyarakat.

3. Pengkhianat Dipercaya, Orang Amanah Dicurigai

Hadits ini juga menggambarkan rusaknya standar amanah. Orang yang memiliki rekam jejak buruk justru diberi kepercayaan, sedangkan mereka yang jujur dan menjaga integritas malah disingkirkan.

Amanah merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam. Rasulullah SAW dikenal masyarakat sebagai Al-Amin sebelum diangkat menjadi nabi. Artinya, kepercayaan lahir dari integritas, bukan dari kepandaian berbicara atau kemampuan membangun citra.

Jika masyarakat salah memilih orang yang dipercaya, maka berbagai persoalan akan muncul, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, hingga hilangnya keadilan.

3. Munculnya Ruwaibidhah

Bagian paling terkenal dari hadits ini adalah munculnya istilah Ruwaibidhah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ruwaibidhah adalah orang yang remeh, bodoh, atau tidak memiliki kapasitas dalam suatu bidang, tetapi berbicara tentang urusan publik yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Perlu dipahami bahwa hadits ini bukan melarang setiap orang menyampaikan pendapat. Islam menghargai musyawarah dan kebebasan menyampaikan nasihat.

Yang dikritik adalah ketika seseorang berbicara tanpa ilmu, tanpa kompetensi, tanpa tanggung jawab, tetapi pendapatnya justru dijadikan rujukan oleh masyarakat.

Di era media sosial, siapa pun dapat berbicara kepada jutaan orang. Hal ini merupakan kemudahan yang membawa manfaat sekaligus risiko. Banyak orang berbicara mengenai agama, kesehatan, ekonomi, hukum, maupun politik tanpa dasar ilmu yang memadai. 

Tidak sedikit masyarakat yang kemudian mengikuti pendapat tersebut hanya karena orang itu terkenal, memiliki banyak pengikut, atau pandai berbicara.

Padahal dalam Islam, setiap ilmu memiliki ahlinya. Urusan agama ditanyakan kepada ulama yang kompeten, urusan kesehatan kepada tenaga medis, urusan hukum kepada ahli hukum, dan demikian pula bidang-bidang lainnya.

Relevansi dengan Kehidupan Saat Ini

Peringatan rasulullah ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan kematangan dalam menyaring informasi. Kemudahan menyampaikan pendapat harus dibarengi dengan tanggung jawab moral.

Seorang individu tidak boleh mudah menyebarkan berita yang belum jelas, tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan informasi, serta tidak boleh menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran.

Kita juga diajarkan untuk menghormati keahlian. Tidak semua persoalan dapat dijawab oleh semua orang. Memberikan ruang kepada orang yang ahli merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan umat.

Hadits tentang Ruwaibidhah merupakan peringatan yang sangat relevan sepanjang zaman. Rasulullah mengingatkan bahwa kerusakan masyarakat tidak hanya terjadi karena banyaknya kebohongan, tetapi juga karena hilangnya standar dalam menilai siapa yang layak dipercaya dan siapa yang pantas didengar.

Oleh karena itu, penting di era saat ini menjaga kejujuran, memperkuat amanah, membiasakan tabayun, serta menghormati ilmu dan para ahlinya. Dengan demikian, kita akan terhindar dari fitnah, kebingungan, dan tipu daya yang telah diperingatkan Rasulullah lebih dari 14 abad yang lalu.

Dari hadits ini terdapat beberapa pelajaran penting di antaranya:

  1. Kejujuran harus tetap dipertahankan meskipun terkadang tidak populer.
  2. Amanah adalah fondasi utama dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
  3. Umat Islam wajib melakukan tabayun terhadap setiap informasi yang diterima.
  4. Setiap orang hendaknya berbicara sesuai ilmu dan kapasitasnya.
  5. Masyarakat harus lebih bijak memilih siapa yang dijadikan rujukan, bukan berdasarkan popularitas semata, tetapi berdasarkan ilmu, akhlak, integritas, dan rekam jejaknya. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.