Protein menjadi salah satu makronutrien yang dibutuhkan tubuh untuk bertahan hidup. Protein memainkan banyak peran dalam tubuh manusia. Protein digunakan dalam produksi otot dan jaringan struktural, serta produksi banyak hormon, molekul pengangkut, dan antibodi.
Protein bertindak sebagai sumber energi dan menyediakan asam amino esensial yang harus kita dapatkan dari makanan, karena tubuh kita tidak mampu memproduksinya sendiri, Bunda.
Protein terdiri dari asam amino. Tubuh manusia menggunakan sekitar 20 asam amino yang berbeda untuk membangun protein. Tubuh Anda dapat membuat beberapa asam amino sendiri, tetapi Anda harus mendapatkan 9 di antaranya, yang dikenal sebagai asam amino esensial, melalui makanan utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber protein dapat sangat bervariasi dalam jenis asam amino yang dikandungnya. Umumnya, protein hewani dikenal sebagai protein lengkap, artinya mengandung semua sembilan asam amino esensial.
Secara tradisional, daging dianggap sebagai sumber protein utama untuk anak-anak, tetapi ada banyak sumber protein beragam lainnya di luar sana. Dalam artikel kali ini, akan dibahas serba-serbi tentang protein hewani, bedanya dengan protein nabati, contoh sumber terbaik, hingga cara mengolah yang tepat. Simak informasinya berikut ini yuk, Bunda.
Mengenal apa itu protein hewani
Protein hewani adalah sumber nutrisi lengkap yang berasal dari hewan, menyediakan kesembilan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Makanan sumber hewani mengandung jumlah dan proporsi asam amino yang lebih seimbang relatif terhadap jaringan manusia, dibandingkan dengan makanan sumber nabati.
Misalnya, daging sapi mengandung 63-68 persen protein berdasarkan berat kering, tetapi sebagian besar makanan pokok yang berasal dari tumbuhan (kecuali kacang-kacangan) memiliki kandungan protein 12 persen (berdasarkan berat kering) dan kekurangan sebagian besar asam amino, termasuk lisin, metionin, dan sistein.
Oleh karena itu, konsumsi produk hewani dapat memenuhi kebutuhan asam amino manusia yang memadai, terutama anak-anak, sekaligus secara substansial mengurangi kebutuhan akan makanan nabati atau konsumsi pati dalam jumlah besar.
Perbedaan Protein Hewani dan Nabati
Apa bedanya protein hewani dan nabati? Telah disinggung sedikit sebelumnya bahwa yang membedakan adalah protein hewani mengandung kesembilan asam amino esensial.
Dilansir Healthline, meskipun beberapa protein nabati, termasuk protein kacang polong dan kedelai, juga merupakan sumber protein lengkap, banyak makanan nabati lainnya dianggap sebagai protein tidak lengkap.
Ini berarti makanan nabati seperti kacang-kacangan, kacang tanah, dan gandum kaya akan protein total tetapi kekurangan satu atau lebih asam amino esensial. Namun, Bunda dapat dengan mudah menggabungkan sumber protein nabati yang tidak lengkap ini untuk memenuhi kebutuhan tubuh Anda.
Misalnya, sandwich selai kacang adalah contoh lezat dari kombinasi yang menghasilkan sumber protein lengkap. Meskipun gandum yang digunakan untuk membuat roti rendah asam amino lisin, kacang tanah kaya akan asam amino tersebut, sehingga menghasilkan makanan atau camilan protein lengkap.
Manfaat protein hewani untuk anak
Protein hewani memiliki banyak manfaat untuk anak. Protein bermanfaat untuk pertumbuhan tubuh anak, bertindak sebagai bahan pembangun utama untuk pertumbuhan otot, jaringan, dan organ. Selain itu, protein menghasilkan antibodi yang membantu tubuh melawan kuman dan infeksi.
Tak hanya esensial untuk pertahanan tubuh, protein bekerja sama dengan kalsium untuk membangun tulang dan gigi anak yang sehat dan kuat. Protein, terutama hewani, juga membuat anak-anak kenyang lebih lama dan menyediakan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari.
Dikutip dari Only About Children, untuk anak usia 1-3 tahun, jumlah protein yang direkomendasikan adalah 14g/hari. Sebagai gambaran, 1 cangkir susu mengandung 8g protein dan sebutir telur mengandung 7g, yang berarti seorang anak secara teknis dapat memenuhi seluruh kebutuhan protein hariannya hanya dengan sarapan. Ini hanyalah kebutuhan diet minimum dan tidak memperhitungkan tinggi badan, berat badan, dan tingkat aktivitas anak.
Seiring bertambahnya usia anak, kebutuhan protein mereka meningkat seperti yang dapat dilihat di bawah ini.
- Usia vs Protein
- 1-3 tahun Protein: 14g
- 4-8 tahun Protein: 20g
- 9-13 tahun (laki-laki) Protein: 40g
- 9-13 tahun (perempuan) Protein: 35g
Untuk anak, carilah sumber makanan yang rendah lemak jenuh, tidak diolah, atau tinggi lemak tak jenuh dan omega-3 yang menyehatkan jantung, Bunda. Dikutip dari laman Ohio State University, beberapa contoh sumber protein hewani yang baik adalah:
- Daging unggas putih, seperti dada ayam atau kalkun.
- Ikan, terutama ikan berlemak seperti salmon, ikan kembung, makarel, sarden, dan tuna.
- Daging tenderloin babi.
- Potongan daging sapi tanpa lemak atau sangat tanpa lemak seperti sirloin atau potongan bulat, daging sapi giling tanpa lemak lebih dari 93 persen.
- Telur dan putih telur.
- Yogurt Greek tanpa lemak/rendah lemak, keju cottage, susu.
Perlu diingat bahwa beberapa protein hewani kurang bergizi dibandingkan yang lain. Misalnya, produk hewani ultra-olahan seperti sosis dan nugget ayam tinggi lemak dan natrium yang tidak sehat dan tidak ideal untuk kesehatan secara keseluruhan.
Cara terbaik mengolah sumber protein hewani
Memasak protein mengubah ikatan kimia dan membuatnya lebih mudah dicerna. Memasak daging juga membunuh bakteri berbahaya yang berpotensi menyebabkan penyakit bawaan makanan. Namun, beberapa metode pengolahan lebih baik daripada yang lain, Bunda.
Memanggang, merebus, membakar, mengukus, atau memasak daging dengan cara direbus perlahan adalah cara terbaik untuk menghindari penambahan lemak berlebih pada makanan. Menggoreng dengan minyak dapat membuat daging atau ikan kurang sehat. Misalnya, menggoreng ikan pada suhu tinggi dapat menurunkan kadar lemak sehat pada ikan berlemak.
Penelitian oleh American Institute of Cancer Research menunjukkan bahwa membakar dan memasak daging pada suhu tinggi menyebabkan terbentuknya senyawa yang dapat meningkatkan risiko kanker. Selain itu, seperti halnya makanan lainnya, menambahkan banyak mentega, keju, krim asam, bumbu perendam, atau garam akan memengaruhi nilai gizi keseluruhan hidangan.
Demikian pembahasan mengenai lemak hewani anak, dan cara terbaik mengolahnya. Semoga membantu dalam mempersiapkan asupan gizi terbaik untuk Si Kecil ya!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)





Comments are closed.