Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Psikolog Bagikan Tips Merespons Pertanyaan ‘Kapan Nikah’ saat Silaturahim Lebaran

Psikolog Bagikan Tips Merespons Pertanyaan ‘Kapan Nikah’ saat Silaturahim Lebaran

psikolog-bagikan-tips-merespons-pertanyaan-‘kapan-nikah’-saat-silaturahim-lebaran
Psikolog Bagikan Tips Merespons Pertanyaan ‘Kapan Nikah’ saat Silaturahim Lebaran
service

Jakarta, NU Online

Pertanyaan yang muncul saat momen silaturahim Idul Fitri atau Lebaran, jika ditanggapi dengan tepat, dapat mempererat hubungan dan menghadirkan suasana kekeluargaan. Termasuk pertanyaan yang kerap dianggap mengganggu privasi, seperti soal pernikahan, pasangan, anak, hingga komentar fisik.

Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Lu’luatul Chizanah, memberikan alternatif cara merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Menurutnya, penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyiapkan respons yang tepat, alih-alih langsung melabelinya sebagai pertanyaan toksik.

“Respons yang tepat adalah yang bersifat asertif dan tidak menyerang orang lain. Ketimbang menjawab dengan ‘bukan urusanmu’ atau ungkapan sejenis, kita bisa menyampaikan pertanyaan retoris, misalnya, ‘wah iya, ada saran?’,” ujarnya saat diwawancarai NU Online, Jumat (20/3/2026).

Menurutnya, respons tersebut dapat menjadi cara untuk menilai keseriusan atau kepedulian pihak yang bertanya, termasuk apakah mereka siap memberikan solusi atau sekadar basa-basi.

“Terakhir, jangan lupa berikan senyuman paling elegan yang bisa kita tampilkan,” tambahnya.

Luluk menjelaskan, pertanyaan yang menyentuh ranah privasi sebenarnya merupakan bagian dari budaya kebersamaan yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerap kali, pertanyaan tersebut digunakan sebagai pembuka percakapan untuk menciptakan keakraban.

“Namun, seiring pergeseran nilai sosial, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kurang relevan dalam konteks kehidupan saat ini,” paparnya.

Dampak terhadap kesehatan mental

Luluk menambahkan, seseorang dapat merasa terintimidasi atau tidak nyaman saat menerima pertanyaan pribadi jika tidak memiliki kesiapan mental dan respons yang memadai.

“Ketika seseorang tidak siap menghadapi pertanyaan tersebut, dapat muncul perasaan terintimidasi. Apalagi jika disampaikan di hadapan banyak orang, hal itu bisa menimbulkan rasa dipermalukan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak tersebut bisa lebih berat bagi individu dengan kerentanan psikologis, seperti mereka yang memiliki harga diri rendah, gangguan kecemasan, atau persoalan mental lainnya.

“Jika tidak diatasi dengan baik, kondisi ini dapat mendorong penghindaran sosial, yakni keengganan untuk bersosialisasi karena dianggap berisiko secara psikologis,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.