Sat,9 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Rahasia Bertahun-tahun dalam Lipatan Baju Halifah, Jamah Haji Asal Gowa

Rahasia Bertahun-tahun dalam Lipatan Baju Halifah, Jamah Haji Asal Gowa

rahasia-bertahun-tahun-dalam-lipatan-baju-halifah,-jamah-haji-asal-gowa
Rahasia Bertahun-tahun dalam Lipatan Baju Halifah, Jamah Haji Asal Gowa
service

Makkah, NU Online
Ayah dan ibu Halifah tak pernah berhaji. Begitu pula kakek neneknya. Tak ada riwayat leluhur ke Tanah Suci. Mungkin mereka bukan tak ingin, tapi memang tak kuasa. Tak aneh jika mereka tak mewariskan harta kepada anak cucunya.

Namun, entah kenapa Halifah selalu ingin berhaji. Mungkin karena leluhurnya tak ada yang pernah berhaji sehingga hal itu jadi motivasi. Dia sendiri tak kuasa menjelaskannya karena keinginan berhaji tumbuh dan berkecambah sedari remaja. Saat itu, ada hal yang tak kuasa ditolaknya, tiba-tiba air mata meleleh jika ada tetangga berhaji.

“Hatiku selalu sedih, sedih dan menangis melihat tetangga berhaji. Kapan saya naik haji?” ungkap jamaah haji asal Gowa, Sulawesi Selatan tersebut, ”saya bukan pingin, tapi pingin sekali naik haji,” lanjutnya ditemui di pondokannya di sebuah hotel di Sektor 3 Wilayah Syisyah, Kota Makkah, Rabu (6/5/2026). Suaranya terbata-bata, tiba-tiba sudut matanya melelehkan air mata.

Impian berhaji sedari remaja itu pada akhirnya terselip, tersisih, terkucil, dalam kesibukan menjalani kehidupannya sebagai istri, ibu, dan kini sebagai nenek dari 6 cucu. Meski demikian, impian itu tak pernah mati, hanya berdamai dengan keadaan. Ia tersimpan dalam-dalam untuk sesekali muncul, diperjuangkan diam-diam, pelan-pelan. Lalu dipelihara dalam doa, diasuh kepasrahan selepas sembahnyangnya.

Halifah sehari-hari hanyalah pedagang kecil di Sekolah Dasar dekat rumahnya. Dia berjualan dari pagi sampai siang. Kemudian dia tetap berjualan di tempat yuang sama, untuk anak-anak yang belajar di kelas sore.

Dari sisa uang makan yang disisihkannya setiap hari, Halifah menabung pelan-pelan. Setelah terkumpul 25 juta, dia mendaftar haji pada usia 45 tahun. Dia masih ingat hari itu tanggal 27, bulan 1, tahun 2011. Dia naik pete-pete di rumahnya ke sebuah bank dan mendapatkan nomor porsi.

Impian dari Kantin SD
Setiap hari, kehidupan Halifah nyaris tak berubah selama bertahun-tahun. Pagi-pagi sekali dia sudah berada di lingkungan sekolah. Menyiapkan makanan, minuman, buah-buahan, hingga kopi untuk guru atau tamu sekolah.

Meski bukan tugasnya, dia sering membantu membersihkan sekitaraan sekolah, membuang sampah, dan memastikan lingkungan sekolah tetap nyaman bagi anak-anak.

“Di situlah hidup,” katanya sederhana.

Penghasilan total sekitar Rp5 juta per bulan—kadang lebih, kadang kurang. Namun, dari penghasilan itulah hidup banyak orang bertumpu. Halifah tak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga anak-anak dan cucu-cucunya.

Dia memang tak pernah menamatkan sekolah dasar. Akan tetapi, pengalaman hidup membuatnya percaya bahwa kemiskinan hanya bisa dilawan dengan pendidikan. Karena itu, kepada anak dan cucunya dia selalu mengulang kalimat yang sama: “Kita itu miskin, harus sekolah tinggi-tinggi.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan pengalaman hidup yang diperas dari kerja keras puluhan tahun.

Halifah memiliki dua anak laki-laki dan enam cucu—empat laki-laki dan dua perempuan. Cucu pertamanya kini kuliah keperawatan, sesuatu yang paling membuatnya bangga. Hampir setiap hari ia menyisihkan uang jajan untuk mereka: Rp30 ribu sampai Rp50 ribu untuk yang kuliah, Rp20 ribu untuk yang SMP dan SMA, serta Rp10 ribu untuk yang masih SD.

“Cucu-cucu dibantu semuanya,” katanya pelan.

Anak-anaknya bekerja seadanya. Anak pertama mencari nafkah dengan menjadi seorang gere atau tukang ojek. Sementara anak yang kedua bekerja sebagai tukang dekorasi pengantin. Dalam keadaan seperti itu, Halifah tetap menjadi penyangga keluarga.

Sementara suaminya sendiri sebagai kepala keluarga dalam kondisi sakit-sakitan. Bahkan lima tahun terakhir ini, kondisinya semsakin memburuk. Berat badannya turun dari semula sekitar 80 kilogram menjadi 55 kilogram.

“Sakit gondok beracun, sudah 16 kali ke dokter,” kenangnya.

Meski demikian, Halifah tetap menjalani sebagai ibu kantin dari pagi sampai sore. Tidak ada pilihan lain selain bertahan hidup dan menjaga keluarganya tetap berjalan.

Rahasia dalam Lipatan Baju

Di balik seluruh kesibukan dan beban hidup itu, Halifah menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui keluarganya sendiri: dia menabung untuk berhaji. Sedikit demi sedikit uang disisihkan, lalu disimpan di lipatan baju.

“Nabung diam-diam dalam lipatan baju, bertahun-tahun, Ji. Nabung sisa dari sisa makan, Ji,” katanya.

Dia mengaku sengaja merahasiakannya. “Kalau suami dan anak-anak tahu, banyak pengaruh.”

Bertahun-tahun menabung, Halifah membuka rahasia hidupnya dengan mengumpulkan seluruh keluarga, menyampaikan bahwa dirinya akan berangkat haji. Anak cucu dan suami kaget bukan main. Namun, semua tak ada yang menyalahkannya, melainkan menangis haru secara berjamaah.

Saat walimatus shafar dan keberangkatan tiba, rumahnya dipenuhi tetangga yang datang mengantar. Sekali lagi anak-anak cucu dan suaminya menangis. Sementara Halifah sendiri tak mampu membendung air mata. Begitu pula ketika sampai Tanah Suci Makkah, air mata haru tak bisa bisa ditahannya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.