Warga sekitar Kawasan Industri Bantaeng tiap hari bergumul dengan debu dan deru smelter nikel yang menggerus lingkungan dan kesehatan mereka. Proyek “strategis” yang dibanggakan pemerintah sebagai jalan menuju sejahtera itu justru menyajikan sengsara yang seakan tak ada habisnya.
Ambo

Satu sore di Oktober 2025, asap hitam mengepul tebal dari cerobong salah satu smelter nikel di Kecamatan Pa’jukukang, Bantaeng, Sulawesi Selatan. Terbawa angin, asap itu menjalar pelan di bawah langit kelabu, menyusup ke permukiman dan mengusik kehidupan warga.
Bagi warga setempat, ini pemandangan sehari-hari. Sejak pemerintah terkena demam hilirisasi, investor asing gencar membangun smelter nikel di Pa’jukukang. Ini utamanya berlangsung di area 3.200an hektare yang melintasi enam desa, yang ditetapkan sebagai Kawasan Industri Bantaeng (KIBA). Hidup warga jungkir balik karenanya.
Misalnya Ambo Enre, warga Desa Papanloe di Pa’jukukang yang berusia 77 tahun. Rumah panggungnya kini diapit dua kompleks smelter nikel berbeda, yang beroperasi siang dan malam tanpa jeda.
“Kalau perusahaan datang dan lihat sendiri, mungkin mereka tahu bagaimana kami hidup di bawah asap,” kata Ambo.
“Kalau angin ke arah sini, mata perih, napas berat.”
Dua tahun lalu, istrinya terpaksa pindah ke rumah anak mereka yang hanya berjarak 10 meter karena sakit-sakitan. “Dia batuk terus, sesak napas,” ujar Ambo.
Ambo telah menempati rumah tersebut sejak 2005. Di sana, ia menyaksikan langsung segala perubahan yang mengguncang Pa’jukukang.



Pada 2013, Grup Huadi asal Cina yang jadi investor utama KIBA mulai melakukan pembebasan lahan. Menurut Balang Institute dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), prosesnya sarat intimidasi.
PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia, bagian dari Grup Huadi, memulai pembangunan smelter mereka di Pa’jukukang pada 2014, meski mereka baru menyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) pada 2015.
Awal 2016, KIBA masuk daftar proyek strategis nasional (PSN), yang berarti ia mendapat setumpuk keistimewaan dari pemerintah, termasuk dalam hal perizinan dan pembebasan lahan.
Smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia lantas diresmikan pada awal 2019. Satu per satu smelter lain pun dibangun, termasuk milik PT Hengsheng New Energy Material Indonesia, PT Unity Nickel Alloy Indonesia, PT Dowstone Energy Material Indonesia, PT Huadi Wuzhou Nickel Industry, PT Yatai Huadi Alloy Indonesia, dan PT Huadi Yatai Nickel Industry. Berdasarkan penelusuran Jatam, semua perusahaan tersebut ada di bawah Grup Huadi.
Desa Papanloe yang dulu begitu sejuk dan rindang, kata Ambo, lalu jadi begitu gersang.
Di masa lalu, Ambo dan warga lain hidup dengan bertani, menanam cabai, sayur, dan singkong di lahan kecil belakang rumah. Kini tanah itu keras, tertutup debu.
“Sudah tidak ada lagi tanah yang bisa ditanami,” kata Ambo.

Terlebih lagi, rumah panggung Ambo kian tak layak huni. Tiang-tiang kayunya mulai lapuk. Dindingnya berlubang. Atap sengnya berkarat dan bocor.
Namun, Ambo tak berniat pergi.
“Saya tetap di sini. Ini rumah saya,” katanya pelan tapi tegas, sambil menatap langit-langit rumah yang dibalut terpal cokelat penuh debu.
“Saya lahir di sini, tumbuh di sini, dan kalau waktunya tiba, saya juga mau dikubur di sini.”

Raba
Tak jauh dari rumah Ambo Enre, Raba Intang, 80 tahun, menyapu lantai rumah batu milik anaknya. Tangan tuanya memegang erat batang sapu ijuk, mengayunkannya perlahan. Debu cokelat beterbangan di atas lantai semen yang sudah berubah warna.
“Bagus mi ini, sudah tidak sampai 15 kali menyapu tiap hari. Karena pabrik di belakang rumah belum beroperasi lagi,” kata Raba dengan logat Makassar kental.
Sejak 15 Juli 2025, Grup Huadi memang menghentikan operasi sebagian smelternya di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) seiring anjloknya harga produk olahan nikel karena kondisi pasokan berlebih di pasar global.
Menurut catatan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), tiga perusahaan Grup Huadi yang menyetop aktivitas pabriknya adalah PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia, PT Huadi Wuzhou Nickel Industry, dan PT Huadi Yatai Nickel Industry. Imbasnya, lebih dari 1.000 pekerja dirumahkan.
Pada 17 November, PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia mendadak mengirimkan surat kepada Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Bantaeng, yang intinya mengabarkan mereka akan memecat 510 pekerjanya pada 21 November sebagai langkah “efisiensi” dengan dalih “mengalami kerugian”.
Serikat Buruh Industri Pertambangan (SBIPE) KIBA segera mengetahui kabar ini. Mereka berunjuk rasa pada 19 November.
“Gelombang PHK terbaru ini memperkuat kekhawatiran SBIPE terhadap pola pelanggaran yang terus diulang oleh perusahaan: mengklaim kerugian tanpa bukti, melakukan PHK massal, dan menghindari kewajiban pembayaran hak-hak pekerja,” kata SBIPE KIBA.
Nasib buruh yang penuh kerentanan menambah daftar nestapa yang dihadapi warga Bantaeng sejak hadirnya kawasan industri.

Sebelumnya, saat semua pabrik masih beroperasi, Raba bilang debu terus datang tanpa henti dan melekat di berbagai sudut rumah.
“Tidak ada waktu tanpa bersih-bersih. Pagi, siang, malam sampai sebelum tidur,” kata Raba, yang mengenakan daster cokelat bertulisan “Luois Viutto” saat diwawancara.
“Kalau semua jalan lagi, debu balik lagi. Kami yang kena duluan.”

Sebelum pindah ke rumah anaknya, Raba tinggal di rumah panggung kayu di sebelah. Kondisinya memprihatinkan. Atap sengnya berlubang seperti habis dihantam hujan batu. Dindingnya menghitam. Tiang kayunya miring dan membusuk.
“Saya sudah tidak sanggup tinggal di situ. Kalau malam, suara bising pabrik tembus sampai kamar. Belum lagi bau,” katanya.
Setelah pindah, polusi suara dan bau bisa sedikit teratasi. Namun, Raba tetap rentan mengalami masalah kesehatan.
“Batuk-batuk sudah biasa di sini,” ujar Raba.
Hingga kini, belum ada langkah konkret dari pemerintah maupun perusahaan untuk menanggulangi setumpuk dampak negatif dari operasi pengolahan nikel masif di KIBA, meski semakin banyak pohon meranggas, udara kian berat dihirup, dan ruang hidup warga terus tergerus.

Warga hanya bisa menanggung segalanya dalam diam, menyaksikan lahan pertanian mereka berubah menjadi kawasan industri, dan deru mesin menggantikan suara jangkrik dan gemercik air irigasi.
“Tidak ada yang ganti rugi. Tidak pernah ada ‘uang debu’ yang dijanjikan itu,” kata Raba.
Debu kembali datang sore itu. Di halaman rumah, sapu ijuk Raba kembali bekerja. Ia mengayunkannya ke lantai berulang kali, seperti Sisifus yang terus mendorong batu ke puncak bukit hanya untuk melihatnya jatuh lagi.
Sulfa

Di seberang jalan Desa Borongloe, juga di Pa’jukukang, sebuah gang kecil membawa saya ke sekolah berselimut debu. Tiang gerbangnya kusam. Papan namanya nyaris tak terbaca karena lapisan tebal berwarna cokelat.
Itu adalah SMP Negeri 3 Pa’jukukang. Jaraknya tak sampai 200 meter dari smelter nikel milik PT Hengsheng New Energy Material Indonesia, yang beroperasi sejak 2023.

Pagi itu, pelajaran pertama baru dimulai. Di lapangan tanah yang dikelilingi pohon pisang dan ilalang, belasan siswa mengisi jam olahraga dengan bermain kasti.
Bola karet melayang. Anak-anak berlari mengejar. Seorang guru berdiri di pinggir lapangan, tampak sibuk mencatat di buku kecil. Di saat yang sama, dua cerobong menjulang di latar belakang, sibuk memuntahkan asap ke awang-awang.
Tak ada satu pun siswa yang memakai masker. Mereka sudah terbiasa, kata guru itu, dengan asap dan debu serta bau sulfur nan menyengat yang tiap hari datang.
“Lempar mi!” teriak seorang siswa. “Lari ko!” sahut yang lainnya.
Tawa pecah di antara debu beterbangan.
Di pinggir lapangan, tiga siswi mengambil jeda: Resky, Latifa, dan Sulfa. Napas mereka tersengal. Latifa sesekali batuk.
“Jangan mi foto-foto pabrik, Kak. Mending foto kami saja,” ujar Sulfa sambil tersenyum.
“Biasanya banyak mi juga orang datang foto-foto, tapi tetap ji sekolah ini berdebu dan ribut kalau belajar ki.”

Di ruang kelas berdinding kuning pudar, Tanti—bukan nama sebenarnya—sibuk membuat diagram di papan tulis dengan masker terpasang di wajah. Tak ada poster edukatif atau kutipan motivasi di dinding. Yang tampak hanya bercak-bercak debu yang menempel seperti hiasan abadi.
“Kalau pulang, baju saya sudah tidak putih lagi, pasti berubah kecokelatan,” ujarnya.
Ventilasi setiap ruangan kini ditutup plastik, niatnya agar debu tak banyak masuk. Tapi percuma. Tiap pagi, sebelum belajar, siswa dan guru harus menyapu dulu kelas yang semalaman dihinggapi partikel halus dari kompleks smelter.
“Kalau debunya parah, kami liburkan siswa,” kata Ibrahim, kepala sekolah itu.
Tak hanya kelas, lab sekolah pun kini terbengkalai. Menyerupai karpet, debu menumpuk tebal di atas meja dan dinding lab. “Sudah tidak bisa dipakai lagi [lab-nya],” kata seorang guru.

Dengan luas 7.480 meter persegi, sekolah ini hanya memiliki 31 siswa yang terbagi ke tiga kelas. Dulu, sebelum pabrik-pabrik nikel berdiri, jumlah siswa pernah mencapai 50. Kini, banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke pusat kota yang lebih bersih.
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang terbatas membuat sekolah ini tak memiliki petugas kebersihan. Semua dikerjakan bergantian oleh guru dan siswa. Namun, sebesar apa pun usaha mereka, debu itu selalu datang kembali, bersama suara mesin dan dentuman pabrik yang tak pernah berhenti.
Jam pelajaran sekolah berganti. Sulfa dan teman-temannya berlari menuju ruang kelas, melintasi tembok pembatas sekolah dengan tulisan “Sekolah Ramah Anak (SRA)”.
Tulisannya tampak pudar, sama seperti harapan warga akan kehidupan yang lebih baik di tengah kepungan debu dan deru mesin pabrik di sekitar mereka.

Catatan: Project Multatuli telah meminta komentar Grup Huadi melalui email dan formulir di situs perusahaan, tapi belum mendapat tanggapan hingga cerita foto ini tayang.




Comments are closed.