Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Rupiah anjlok, turis asing melonjak: Catatan kritis daya saing pariwisata nasional

Rupiah anjlok, turis asing melonjak: Catatan kritis daya saing pariwisata nasional

rupiah-anjlok,-turis-asing-melonjak:-catatan-kritis-daya-saing-pariwisata-nasional
Rupiah anjlok, turis asing melonjak: Catatan kritis daya saing pariwisata nasional
service

● Saat rupiah melemah, kunjungan wisatawan internasional bergairah.

● Situs pariwisata nasional termasuk titik unggulan seperti NTT ramai didatangi pelancong asing.

● Sayangnya, banyak anomali negatif yang terjadi di balik dinamika ini.


Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memang buruk bagi banyak orang. Tapi kondisi ini sebaliknya menjadi berkah tersendiri bagi sektor usaha tertentu, misalnya pariwisata yang melayani wisatawan asing.

Anjloknya nilai tukar menjadi “diskon tak terlihat” yang memikat pelancong asing. Dan benar saja, linimasa ramai konten warga negara asal Malaysia atau Singapura yang berbelanja ke Indonesia memanfaatkan momen ini.

Tentunya, durian runtuh juga dirasakan oleh destinasi pariwisata bintang lima nasional seperti Bali, Nusa Tenggara Timur (Labuan Bajo), Nusa Tenggara Barat (Mandalika). Dinas Pariwisata NTT mengkonfirmasi adanya lonjakan kedatangan turis Malaysia, Singapura, dan Prancis belakangan ini.

Namun di balik euforia ini, ada beragam paradoks yang perlu dicermati terhadap perkembangan pariwisata nasional.

Ketika wisata Indonesia menarik bagi turis asing hanya karena rupiah sedang lemah, ini bisa menjadi indikasi bahwa daya saing fundamental destinasi (seperti kualitas pengalaman, layanan, akses, reputasi) kita belum cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa bantuan faktor kurs.

Artinya, orang-orang datang karena harga sedang murah, bukan karena terpikat kualitas.


Read more: Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang


Tanda daya saing masih rendah

Sederhananya, saat kurs melemah, biaya perjalanan ke negara tersebut menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Sebagai simulasi, seorang wisatawan Australia dengan anggaran AU$5 ribu, jika ditukarkan ke rupiah menjadi Rp62,5 juta. Padahal tahun lalu nilainya hanya Rp50 juta.

Alhasil, dia memiliki kemewahan untuk bisa meng-upgrade perjalanannya mulai dari rencana durasi, titik tujuan, hotel, restoran, dan transportasi.

Kondisi ini memicu pertanyaan yang lebih mendasar. Ketika wisata premium kita ramai dikunjungi asing, apakah hal itu mencerminkan keberhasilan strategi kelas dunia, atau cuma efek Indonesia sedang ‘diskon’ karena rupiah lemah?

Apakah Indonesia sedang menjual pengalaman premium yang sesungguhnya, atau sekadar menjual kemewahan dengan harga diskon?

Dalam logika premium tourism atau tempat wisata premium, daya tarik sebuah titik wisata seharusnya bertumpu pada kualitas pengalaman, eksklusivitas, dan nilai otentik yang dirasakan wisatawan.

Tengok saja negara Swiss. Meski terkenal mahal, ia tetapi tetap didatangi wisatawan premium karena kualitas pengalaman yang ditawarkan.

Nilai tukar sejatinya merupakan faktor eksternal yang berada di luar kendali pelaku industri maupun pembuat kebijakan pariwisata. Kurs tak bisa kita andalkan untuk keberlanjutan jangka panjang.

Jika rupiah kembali menguat, maka kemungkinan titik-titik wisata Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang ini bakal kembali sepi pengunjung.

Keunggulan berbasis harga sangat berbeda dari daya saing yang lahir dari kualitas destinasi. Wisatawan premium menuntut aspek-aspek fundamental seperti kemudahan penerbangan langsung, jaminan ekologi berprinsip keberlanjutan lingkungan, hingga reputasi keamanan dengan standar pelayanan internasional yang konsisten.

Jika lonjakan turis terjadi akibat depresiasi mata uang, agaknya sulit untuk mengamini bahwa mereka datang karena terpikat oleh kualitas pengalaman asli destinasi pariwisata nasional.

Tetap berada dalam ancaman kerugian

Program DPSP agar Indonesia memiliki ragam situs pariwisata bernilai tinggi/high-value tourism) bukanlah kebijakan buruk. Tapi memang tidak mudah menghadirkan “Bali baru” yang sudah dibangun dan dipromosikan sejak puluhan tahun silam.

Celakanya, jika terus-menerus mengandalkan pelemahan kurs sebagai nilai tambah, destinasi super prioritas kita bakal menghadapi perang harga (race to the bottom). Ujung-ujunngnya kita mengorbankan kualitas layanan, merusak ekosistem karena berorientasi pada kuantitas pendatang, dan tidak memberi nilai tambah bagi perekonomian sekitar.

Karena secara teoretis, lonjakan kunjungan wisatawan akibat pelemahan rupiah bisa memberikan efek berganda atau multiplier effect pada roda perekonomian setempat yang mencakup pelaku UMKM, nelayan, dan pemandu wisata lokal.

Selain itu, wisata premium juga harus dijalankan dengan fasilitas premium. Sayangnya saat ini berbagai variabel dan komponen biaya barang dan jasa untuk menjalankannya juga impor yang justru menghadapkan wisata nasional kepada fenomena kebocoran ekonomi.

Pendapatan industri pariwisata tetap tidak bisa optimal bahkan berpotensi merugi karena tergerus pembengkakan beban operasional, bahan makanan mewah, fasilitas teknologi yang besar karena rupiah terdepresiasi.

Keunggulan nilai pariwisata yang sesungguhnya

Pemerintah tidak bisa lagi berlindung di balik jargon “wisata berkualitas” tanpa indikator yang konkret terhadap DPSP. Lima titik wisata unggulan ini seharusnya ditargetkan untuk menjadi seperti Jepang dan Swiss yang jadi impian turis meskipun mahal.

Setidaknya, selain pembenahan aspek fundamental seperti kemudahan penerbangan langsung, jaminan ekologi dalam prinsip keberlanjutan lingkungan, hingga reputasi keamanan dengan standar pelayanan internasional yang konsisten, ada dua langkah struktural yang mendesak untuk diambil untuk membenahi hal ini.

Pertama, menerapkan eksklusivitas melalui kebijakan kuota yang ketat. Ketika jumlah kunjungan dibatasi, nilai pengalaman akan meningkat. Wisatawan akan rela mengantre dan bayar mahal jika Pulau Komodo memiliki fasilitas premium dengan keasrian ekosistem amat asri.

Kedua, pemerintah perlu memastikan rantai pasok lokal. Pemerintah pusat dan daerah di kawasan DPSP perlu memutar otak agar 50–60% variabel dan komponen industri parisiwata berasal dari pasokan lokal. Karena itu krisis ekonomi saat ini patut untuk dijadikan tolok ukur perkembangan DPSP di mata turis internasional.

Ibarat persaingan di segmen restoran mahal, harga promosi mungkin mampu menarik pelanggan untuk mencicipinya. Tetapi para konsumen kelas atas tersebut tidak akan datang kembali hanya dengan modal iming-iming promo, jika kualitas pelayanannya buruk.

Keberhasilan yang didorong oleh anjloknya kurs ini jelas tidak bisa disamakan dengan kesuksesan strategi pariwisata premium yang membutuhkan perencanaan, eksekusi, dan pengembangan pariwisata yang konsisten.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.