Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Saat Angklung Jadi Kurikulum Sekolah Khusus di Jepang: Padukan Budaya dan Inklusivitas

Saat Angklung Jadi Kurikulum Sekolah Khusus di Jepang: Padukan Budaya dan Inklusivitas

saat-angklung-jadi-kurikulum-sekolah-khusus-di-jepang:-padukan-budaya-dan-inklusivitas
Saat Angklung Jadi Kurikulum Sekolah Khusus di Jepang: Padukan Budaya dan Inklusivitas
service

12 Juli 2026 19.56 WIB • 2 menit

Angklung di Gifu Special Needs School | Kemlu RI


Angklung semakin go international. Mulai 2026, alat musik tradisional khas Jawa Barat ini resmi masuk ke dalam kurikulum pembelajaran musik tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Gifu Special Needs School, Jepang.

Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi antara akademik dan diplomasi yang melibatkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) kedua negara.

Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, dalam keterangan resminya memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan budaya yang diresmikan pada Juli 2026 ini. Ia menekankan bahwa angklung bukan sekadar alat musik, tapi juga membawa pesan moral bagi para siswa. Warisan budaya ini membawa misi persahabatan yang kuat antara Indonesia dan Jepang.

“Angklung yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia bukan hanya memiliki nilai artistik tetapi juga mengandung filosofi gotong royong, toleransi, dan kebersamaan,” ujar Dubes Kartini.

Lebih lanjut, ia menambahkan jika masuknya instrumen ini ke dalam kurikulum sekolah khusus di Jepang menjadi bukti bagaimana kebudayaan mampu menjadi media pembelajaran karakter yang melintasi batas negara. KBRI Tokyo berkomitmen penuh untuk terus memfasilitasi promosi seni budaya seperti ini di tengah masyarakat Jepang.

Gifu Special Needs School: Pionir Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya

Gifu Special Needs School adalah sekolah luar biasa di Jepang yang mengintegrasikan angklung ke dalam kurikulum resminya. Fokus awal pembelajaran ini ditujukan bagi siswa tingkat SMA.

“Anak-anak sangat menikmati pembelajaran menggunakan angklung. Instrumen ini mudah dimainkan, membantu mereka memahami ritme, dan memungkinkan seluruh siswa bermain musik bersama,” ungkap Sachi Sumi, Kepala Sekolah Gifu Special Needs School.

Angklung dianggap sangat efektif sebagai media terapi motorik dan sosial bagi siswa berkebutuhan khusus. Dengan bermain bersama, para siswa dapat lebih mudah melatih koordinasi fisik sekaligus membangun rasa percaya diri.

Kawan GNFI, Kemlu RI menjelaskan, implementasi angklung ke dalam kurikulum di Gifu Special Needs School merupakan hasil kolaborasi dengan UPI sejak 2022. Tim UPI secara konsisten mengirimkan ahli untuk memberikan pelatihan dan workshop seni di berbagai prefektur. Sebagai bentuk dukungan nyata, UPI juga menghibahkan satu set angklung untuk menunjang proses belajar mengajar di Gifu.

“Alat musik ini tidak cukup bermakna bila hanya digoyangkan oleh satu anak, namun saat dimainkan bersama-sama akan menumbuhkan inklusivitas dan harmoni di hati semua anak,” ungkap Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A..

Angklung sebagai Wujud Inklusivitas

Inisiatif di Prefektur Gifu ini diharapkan bisa menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain untuk mengadopsi langkah serupa. Assistant Professor Yoshitaka Suzuki dari Gifu University meyakini bahwa angklung adalah instrumen inklusif yang “melampaui” batasan fisik. Ia bahkan ingin memasukkan angklung ke dalam kurikulum pendidikan khusus di lebih banyak sekolah di Jepang.

“Saya percaya angklung adalah instrumen inklusif dan saya ingin memasukannya ke kurikulum pendidikan khusus di lebih banyak sekolah luar biasa di Jepang. Saya ingin bekerja keras dalam kegiatan angklung bersama masyarakat Indonesia, demi anak-anak penyandang disabilitas,” pungkas Suzuki.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.