Nani Safuni, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, kini menempuh studi PhD di College of Nursing, University of Rhode Island
Nani Safuni, dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK) ini nyaris melewatkan tiket S3 gratis ke Amerika Serikat. Kisah ini diceritakan sendiri oleh Nani dan dipublikasikan laman resmi USK pada 26 Juli 2026.
Waktu itu, ia sudah diterima kuliah di luar negeri, tetapi biaya menjadi kendala. Makanya, Nani minder duluan.
Sebenarnya, Nani tidak buta sama sekali tentang studi di luar negeri. Ia pun lebih dulu menyelesaikan Master of Nursing di Flinders University, Australia. Akan tetapi, urusan sekolah lagi ke Amerika ternyata lain cerita.
Berawal dari Acara Kampus
Kesempatannya untuk studi lagi di luar negeri bermula dari acara sosialisasi kampus. Waktu itu, USK bekerja sama dengan University of Rhode Island (URI) mengundang pembicara bernama Brooke William Ross untuk sesi sosialisasi kepada para dosen Fakultas Keperawatan. Niat Nani datang ke acara itu sekadar mengecek kemampuan listening bahasa Inggrisnya yang sudah lama tak terasah.
Rencana itu berubah ketika tim dari URI mengajak para dosen ikut sesi lanjutan berupa pendampingan pengisian aplikasi untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). LoA sendiri, buat yang belum familiar, adalah semacam surat dari kampus tujuan yang menyatakan seseorang resmi diterima sebagai calon mahasiswa — biasanya jadi syarat wajib sebelum mengurus visa pelajar.
Nah, karena proposal penelitian dan berkas berbahasa Inggrisnya belum siap saat itu juga, Nani memilih menyelesaikan aplikasinya sendiri di rumah.
Diterima, tapi Malah Panik
Beberapa minggu kemudian, email dari international office URI masuk. Isi dari email tersebut menyatakan bahwa Nani diterima di College of Nursing URI. Harusnya ini jadi kabar gembira, tapi buat Nani malah jadi awal dilema.
Ia menganggap LoA dan dana studi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Masalahnya, ia punya LoA tapi nol dana pribadi, tanpa sokongan institusi, dan tanpa beasiswa negara. Makanya, setiap kali pihak kampus mengirim email susulan soal pengurusan visa, Nani memilih diam dan mengabaikannya. Dalam pikirannya waktu itu, kurs rupiah yang jomplang jauh dari dolar Amerika bikin rencana berangkat tanpa jaminan finansial terasa nekat kelas berat.
Tiga Bulan Bungkam, Lalu Menyerah pada Kejujuran
Tiga bulan berlalu dalam rutinitas Nani sebagai dosen, istri, dan ibu dari dua anak, sementara email dari URI terus menumpuk tak terbalas.
Sampai akhirnya ia sadar, kalau terus mendiamkan tawaran itu, kursi PhD yang sudah ditandai jadi miliknya bisa jadi malah menutup peluang orang lain di dunia yang sama-sama mengincar posisi tersebut.
Dengan modal nekat, Nani akhirnya membalas email itu dengan jujur apa adanya dan mengaku bahwa dirinya tidak punya biaya sepeser pun, sekaligus berterima kasih atas student ID yang sudah terlanjur diterbitkan untuknya.
Jawaban dari pihak URI sempat bikin dia bingung. Mereka menjawab, “Kalau Anda tidak punya biaya studi, mengapa tidak Anda katakan dengan jujur di awal?”
Twist-nya Dikira Email Penipuan
Dua minggu berselang, drama ini akhirnya mendapat babak penutup yang tak disangka-sangka. Sebuah email susulan datang, kali ini ditembuskan langsung kepada calon profesor utama Nani.
URI memutuskan tetap merangkul Nani sebagai mahasiswa baru, lengkap dengan tanggungan penuh biaya pendidikan dan asuransi kesehatan. Syaratnya cuma satu, Nani harus bersedia menjadi Teaching Assistant (TA) atau asisten dosen di College of Nursing URI.
“Tentu saja saya terkejut dengan penawaran tersebut. Sejujurnya saya hanya iseng saja mengirim aplikasi beasiswa ke URI karena mengalami ‘jetlag’ studi yang lama,” kenang Nani, sebagaimana dikutip laman resmi USK.
Saking tak percayanya, Nani bahkan sempat mengira tawaran itu email penipuan alias scam. Ia baru paham belakangan bahwa skema itu bernama Assistance Scholarship, model pembiayaan yang memang sangat umum di kampus-kampus Amerika.
Lewat skema assistantship, mahasiswa wajib bekerja 10 sampai 30 jam per minggu, dan sebagai gantinya kampus memberi honor untuk menutup biaya akomodasi, transportasi, buku, hingga kebutuhan hidup sehari-hari.
Bukan cuma klaim sepihak. Halaman resmi College of Nursing URI menyebutkan hal serupa untuk jenjang PhD. Mahasiswa penuh waktu yang memperoleh graduate assistantship atau teaching assistantship dari universitas akan menerima tuition penuh, asuransi kesehatan, dan stipend selama dua tahun.
Bahkan, URI punya skema turunan lain, Barcott-Kim Fellowship, yang digabung dengan teaching assistantship paruh waktu 10 jam per minggu selama tahun akademik, mencakup tuition penuh, asuransi kesehatan, dan stipend selama tiga tahun masa studi PhD penuh waktu.
Fellowship ini sendiri didesain untuk menjawab kelangkaan tenaga pengajar keperawatan secara nasional dengan mencetak lulusan PhD sebagai calon dosen keperawatan generasi berikutnya.
Dua Tahun Kemudian
Kini Nani tengah menjalani studi PhD di College of Nursing URI, program yang sudah berjalan selama dua tahun. Kampus tempatnya menimba ilmu berlokasi di Kingston, Rhode Island—kota kecil di pesisir timur Amerika.
“Saya membayangkan jika hari itu saya tidak melengkapi pengisian aplikasi, mungkin sampai saat ini saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri Paman Sam,” ujar Nani merefleksikan perjalanannya, seperti dikutip laman USK.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.