Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Sedekah Terang-terangan? Ini Hikmahnya Menurut Imam Ghazali

Sedekah Terang-terangan? Ini Hikmahnya Menurut Imam Ghazali

sedekah-terang-terangan?-ini-hikmahnya-menurut-imam-ghazali
Sedekah Terang-terangan? Ini Hikmahnya Menurut Imam Ghazali
service

Sering kali kita lupa bahwa apa yang ada di genggaman kita bukanlah milik mutlak. Dalam Islam, sedekah hadir untuk mengetuk kesadaran kita kembali: bahwa harta hanyalah titipan, dan kita hanyalah kurir yang memegang amanah dari Sang Pemilik Segala.

Logika iman berbeda dengan logika pasar; dalam iman, memberi tidaklah mengurangi. Karena pada akhirnya, Allah-lah yang memegang kendali atas luas atau sempitnya rezeki seseorang, sehingga kekhawatiran akan jatuh miskin karena berbagi hanyalah bisikan yang tak beralasan.

Hal tersebut salah satunya tercermin dalam Firman-Nya dalam surat Saba’ ayat 39, yang berbunyi:

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’: 39)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin-nya memberikan pencerahan bahwa baik sedekah yang dilakukan secara terbuka maupun tertutup keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan manfaat tersendiri. Simak penjelasan beliau berikut:

اعلم أن في إسرار الأعمال فائدة الإخلاص والنجاة من الرياء وفي الإظهار فائدة الاقتداء وترغيب الناس في الخير ولكن فيه آفة الرياء قال الحسن إن السر أحرز العملين ولكن في الإظهار أيضا فائدة

Artinya, “Ketahuilah, bahwa dalam menyembunyikan amal (israr) terdapat manfaat berupa keikhlasan dan keselamatan dari sifat riya. Sedangkan dalam menampakkan amal (izhar) terdapat manfaat agar orang lain dapat meneladani (iqtida’) dan memotivasi manusia untuk melakukan kebaikan.

Akan tetapi, dalam menampakkan amal terdapat bahaya (afat) riya. Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: ‘Sesungguhnya amal yang dirahasiakan adalah yang paling terjaga dari dua jenis amal (dirahasiakan atau ditampakkan)’. Namun, dalam menampakkan amal pun juga memiliki manfaat…” (Ihya Ulumuddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: tt], jilid. III, hal. 317).

Setelah memahami bahwa baik  menampakkan maupun menyembunyikan sedekah memiliki keistimewaan serta ruang manfaatnya masing-masing, fokus kita kali ini akan tertuju pada kedalaman makna di balik ‘menampakkan’ sedekah. Penulis akan memaparkan terlebih dahulu urgensi dan manfaat dari menampakkan sedekah, dengan merujuk pada apa yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. 

Hikmah Sedekah Terbuka dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin-nya memaparkan 4 manfaat yang akan didapatkan oleh seseorang yang memberikan sedekah dengan cara terbuka atau terang-terangan. Simak paparan beliau berikut:

1. Ujian kejujuran batin

Poin pertama yang menarik dari keterbukaan amal adalah ujian kejujuran batin. Terkadang, menampakkan kebaikan justru menjadi jalan untuk bersikap apa adanya, tanpa harus terjebak dalam kepura-puraan atau upaya menutupi keadaan yang sebenarnya (talbisul hal). 

Dengan tampil apa adanya di hadapan manusia, seseorang sedang melatih dirinya untuk tidak bergantung pada citra (pencitraan), melainkan fokus pada kemurnian niat. Di sini, keterbukaan bukan soal pamer, melainkan soal keberanian untuk menunjukkan identitas diri sebagai hamba yang taat tanpa topeng kesalehan semu. (Ihya’ Ulumuddin, jilid. I, hal. 227)

Hal tersebut selaras dengan hakikat ikhlas yang dipaparkan oleh Imam Al-Qusyairi berikut:

ويصح أَن يقال الإخلاص تصفية الفعل عَن ملاحظة المخلوقين

Artinya: “Boleh juga dikatakan (sebagai definisi lain): Ikhlas adalah memurnikan (mensucikan) perbuatan dari memperhatikan pandangan makhluk.” (Risalah Qusyairiyyah, [Kairo, Darul Ma’arif: tt], jilid. II, hal. 359)

2. Meruntuhkan tembok gengsi dan status sosial di hadapan manusia

Poin kedua adalah upaya untuk meruntuhkan tembok gengsi (isqathul jah) dan status sosial di hadapan manusia. Dengan berani menampakkan keadaan atau amal tertentu, seseorang sebenarnya sedang melatih jiwa penghambaan (‘ubudiyah) dan rasa rendah hati yang tulus. 

Ini adalah bentuk ‘terapi’ untuk membuang jauh-jauh sifat sombong atau perasaan merasa paling mandiri. Menjatuhkan harga diri di mata makhluk bukanlah sebuah kehinaan, melainkan cara suci untuk mengikis ketergantungan pada pujian manusia dan memperkuat posisi kita sebagai hamba yang fakir di hadapan Allah. (Ihya’ Ulumuddin, jilid. I, hal. 227)

Hal tersebut senada dengan dengan penjelasan Imam Qusyairi yang mengutip perkataan Abu ‘Utsman sebagai berikut:

وَقَالَ أَبُو عُثْمَان: الإخلاص نسيان رؤية الخلق بدوام النظر إِلَى الخلق

Artinya: “Abu ‘Utsman (al-Hiri) berkata: ‘Ikhlas adalah lupa melihat (perhatian) makhluk karena terus-menerus memandang (fokus) kepada Sang Khaliq (Allah).” (Risalah Qusyairiyyah, jilid. II, hal. 361)

 
3. Tidak ada lagi sekat antara kesunyian dan keramaian

Poin ketiga menyentuh maqam seorang Arif, yakni ia yang telah mengenal Tuhannya dengan segenap jiwa. Bagi mereka, tidak ada lagi sekat antara kesunyian dan keramaian; keduanya bernilai sama. Membedakan sikap antara amal rahasia dan terang-terangan justru dipandang sebagai bentuk ketidakmurnian dalam bertauhid. 

Sebab, jika seseorang masih merasa perlu bersembunyi agar dianggap warak, berarti ia masih menyisakan ruang bagi pandangan makhluk di hatinya. Seorang hamba yang sejati tidak lagi memperdulikan apakah ada mata yang melihat atau tidak, karena pandangannya telah terkunci rapat hanya pada Yang Maha Tunggal. (Ihya’ Ulumuddin, jilid. I, hal. 228)

Hal tersebut senada dengan penjelasan Imam Qusyairi yang mengutip perkataan Hudzaifah al-Mar’asyi berikut:

وَقَالَ حذيفة المرعشي: الإخلاص أَن تستوي أفعال العبد فِي الظاهر والباطن

Artinya: “Hudzaifah al-Mar’asyi berkata: ‘Ikhlas adalah ketika perbuatan seorang hamba itu sama (seimbang), baik saat nampak (di depan orang lain) maupun saat tersembunyi (di dalam batin/saat sendirian).” (Risalah Qusyairiyyah, jilid. II, hal. 361).

4. Sebagai bentuk nyata dari syukur kepada Allah

Poin keempat menekankan pentingnya menampakkan amal atau nikmat sebagai bentuk nyata dari syukur kepada Allah. Merujuk pada firman-Nya dalam surat Ad-Dhuha ayat 11, kita diperintahkan untuk menyiarkan karunia yang telah diterima (tahadduts bin ni’mah). 

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْࣖ

Artinya: “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Dalam perspektif ini, menyembunyikan kebaikan secara mutlak justru dikhawatirkan menjadi bentuk pengingkaran terhadap nikmat (kufranun ni’mah). Allah mencela mereka yang menutupi anugerah-Nya, bahkan menyandingkan sikap tersebut dengan sifat kikir. Maka, menampakkan kebaikan bukan lagi soal ego, melainkan soal memuliakan Sang Pemberi dengan cara mengakui pemberian-Nya di hadapan semesta. (Ihya’ Ulumuddin, jilid. I, hal. 227-228)

Hal tersebut selaras dengan hakikat syukur yang dipaparkan oleh Imam Al-Qusyairi berikut:

قَالَ الأستاذ: حقيقة الشكر عِنْدَ أهل التحقيق الاعتراف بنعمة المنعم عَلَى وجه الخضوع

Artinya: “Al-Ustadz (Imam Al-Qusyairi) berkata: ‘Hakikat syukur menurut para ahli tahqiq (ulama yang mendalami kebenaran spiritual) adalah pengakuan terhadap nikmat dari Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun’im) dengan disertai sikap tunduk/rendah hati (khudu’).” (Risalah Qusyairiyyah, jilid. I, hal. 311).

Pada akhirnya, Imam Al-Ghazali mengajak kita melihat bahwa keterbukaan dalam beramal tidak selamanya berujung pada riya. Sebaliknya, ia bisa menjadi sarana spiritual yang sangat efektif untuk membedah kejujuran batin sekaligus merobohkan sekat-sekat gengsi yang membelenggu martabat manusia. 

Dalam derajat spiritual yang lebih dalam, menampakkan kebaikan adalah wujud tauhid yang murni; sebuah kondisi di mana pandangan makhluk tak lagi memiliki kuasa karena hati sepenuhnya terpaku pada Allah. Lebih dari itu, keterbukaan ini adalah cara luhur untuk mensyukuri karunia-Nya secara nyata, sekaligus menjauhkan diri dari sikap abai terhadap nikmat yang telah dianugerahkan. Wallahu a’lam.

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.