
Tentara KNIL. Sumber: PICRYL.
Istilah “Londo Ireng” merupakan salah satu sebutan yang masih dikenal dalam sejarah kolonial Indonesia. Banyak orang menganggap istilah ini ditujukan kepada pribumi yang bekerja sama dengan Belanda. Namun, secara historis maknanya lebih spesifik.
Sebutan tersebut merujuk pada tentara Afrika yang direkrut Belanda untuk memperkuat KNIL pada abad ke-19 dan kemudian bertugas di Hindia Belanda.
Asal-usul Istilah Londo Ireng
“Londo Ireng” berasal dari bahasa Jawa. Kata “londo” berarti orang Belanda atau bangsa Eropa, sedangkan “ireng” berarti hitam.
Jika digabungkan, istilah tersebut memiliki arti “Belanda Hitam”. Dalam sumber-sumber sejarah kolonial, kelompok ini juga dikenal dengan nama Zwarte Hollanders atau Black Dutch.
Sebutan tersebut muncul karena para tentara yang direkrut Belanda berasal dari wilayah Afrika Barat, tetapi mereka mengenakan seragam serta menjalankan tugas sebagai bagian dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijke Nederlands(ch) Indische Leger (KNIL).
Dengan demikian, meskipun bukan orang Belanda secara etnis, mereka dianggap sebagai bagian dari kekuatan militer kolonial sehingga masyarakat lokal menjuluki mereka sebagai Londo Ireng.
Latar Belakang Perekrutan Tentara Afrika
Kemunculan Londo Ireng tidak dapat dipisahkan dari kondisi militer Belanda pada awal abad ke-19. Setelah Belgia memisahkan diri dari Kerajaan Belanda pada tahun 1830, jumlah personel militer Belanda mengalami penurunan.
Di sisi lain, pemerintah kolonial membutuhkan lebih banyak pasukan untuk menghadapi berbagai perlawanan di wilayah Hindia Belanda.
Belanda kemudian mencari sumber rekrutmen baru dari luar Eropa. Pilihan tersebut jatuh kepada penduduk Afrika Barat, terutama dari kawasan Elmina yang kini berada di Ghana. Pemerintah kolonial menilai orang Afrika lebih mampu beradaptasi dengan iklim tropis dibandingkan prajurit Eropa.
Perekrutan awal melibatkan sekitar 150 orang, termasuk keturunan keluarga Euro-Afrika yang tinggal di Elmina. Setelah itu, Belanda menjalin kerja sama dengan Raja Ashanti untuk memperoleh lebih banyak prajurit, yang sebagian besar merupakan bekas budak.
Peran Londo Ireng dalam KNIL
Hingga tahun 1872, sekitar 3.000 orang Afrika telah direkrut menjadi anggota KNIL. Mereka ditempatkan di berbagai wilayah Hindia Belanda dan dilibatkan dalam sejumlah operasi militer untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. Salah satu konflik terbesar yang melibatkan mereka adalah Perang Aceh.
Dalam struktur militer KNIL, para Londo Ireng memperoleh kedudukan yang hampir setara dengan tentara Eropa. Mereka menerima perlengkapan militer lengkap, memperoleh fasilitas tempat tinggal di tangsi, serta memiliki hak yang relatif sama dibandingkan serdadu Belanda lainnya.
Kehidupan mereka pun tidak jauh berbeda dengan anggota KNIL lain, termasuk tinggal bersama keluarga atau nyai di lingkungan militer. Anak laki-laki mereka bahkan berpeluang mengikuti jejak ayahnya menjadi serdadu KNIL.
Setelah Masa Dinas Berakhir
Pada dasarnya, para tentara Afrika direkrut melalui sistem kontrak. Setelah masa tugas selesai, mereka memiliki pilihan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Afrika atau menetap di Hindia Belanda. Tidak sedikit yang akhirnya memilih tinggal di Pulau Jawa dan membangun kehidupan baru.
Keputusan tersebut membuat beberapa kawasan di Indonesia pernah memiliki komunitas keturunan Afrika yang berasal dari bekas prajurit KNIL. Salah satu sosok yang cukup dikenal adalah Jan Kooi, seorang kopral asal Afrika yang memperoleh pengakuan karena prestasinya selama bertugas di KNIL.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa sejarah Londo Ireng tidak hanya berkaitan dengan konflik militer, tetapi juga dengan terbentuknya komunitas multietnis di Indonesia pada masa kolonial.
Perubahan Makna
Seiring berjalannya waktu, makna istilah Londo Ireng mengalami pergeseran. Dalam penggunaan sehari-hari, sebagian masyarakat mulai memakai istilah tersebut untuk menyebut pribumi yang menjadi anggota KNIL atau dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda.
Namun, dari sudut pandang sejarah, penggunaan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Julukan Londo Ireng pada awalnya secara khusus ditujukan kepada tentara Afrika yang direkrut Belanda dan menjadi bagian dari KNIL.
Baru kemudian maknanya berkembang menjadi istilah yang lebih luas dalam percakapan masyarakat untuk menggambarkan pihak-pihak yang dianggap membantu kepentingan kolonial.
Pergeseran makna ini memperlihatkan bagaimana sebuah istilah sejarah dapat berubah sesuai perkembangan sosial dan budaya masyarakat.
Istilah yang Tetap Dikenal Sampai Sekarang
Sejarah Londo Ireng menunjukkan bahwa pasukan kolonial Belanda terdiri atas berbagai latar belakang etnis, tidak hanya orang Belanda maupun pribumi Indonesia. Istilah yang berasal dari bahasa Jawa tersebut awalnya merujuk pada tentara Afrika yang direkrut untuk memperkuat KNIL di Hindia Belanda.
Seiring waktu, maknanya berkembang menjadi sebutan yang lebih umum bagi pihak yang diasosiasikan dengan kepentingan kolonial. Memahami asal-usul istilah ini membantu melihat sejarah Indonesia secara lebih utuh sekaligus menghindari kesalahpahaman mengenai makna sebenarnya dari Londo Ireng.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.
Tim Editor




Comments are closed.