Jakarta, Arina.id—Seniman ikonik Palestina, Sliman Mansour, meninggal dunia pada usia 79 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan pihak keluarga pada Senin malam.
“Bab terakhir telah ditulis,” kata keluarga Mansour dikutip Anadolu Agency, Rabu (26/8).
“Dengan hati yang diliputi kesedihan yang tak terlukiskan, kami menyampaikan bahwa ayah tercinta kami telah meninggal dunia,” lanjut pernyataan tersebut.
Keluarga menyebut Mansour meninggalkan warisan seni yang kuat dan kehidupan yang dipenuhi keindahan serta kenangan. Rincian mengenai pemakaman dan acara untuk mengenang sang seniman akan diumumkan kemudian.
Lahir pada 1947 di Birzeit, dekat Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, Mansour dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni modern Palestina.
Selama lebih dari lima dekade berkarya, Mansour dikenal melalui berbagai medium, mulai dari lukisan, patung, tulisan hingga kartun. Karya-karyanya banyak mengangkat tema identitas Palestina, ingatan budaya, pengusiran, perjuangan, serta keterikatan masyarakat Palestina dengan tanah kelahirannya.
Dalam wawancara dengan Anadolu pada 2024, Mansour mengatakan seni memiliki peran penting dalam mengembalikan sisi kemanusiaan rakyat Palestina di tengah konflik dan berbagai upaya yang menurutnya merendahkan martabat mereka.
“Sebagai seniman dan orang-orang yang berkecimpung dalam kebudayaan, peran kami adalah memanusiakan kembali rakyat Palestina,” ujar Mansour.
Tanah menjadi salah satu tema utama dalam karya-karya Mansour. Ia menggambarkan tanah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga bagian penting dari identitas dan sumber inspirasi masyarakat Palestina.
“Semua orang memperebutkan tanah, dan tanah adalah sumber inspirasi utama saya,” katanya.
Salah satu karya Mansour yang paling dikenal adalah The Camel of Hardships. Karya tersebut menggambarkan seorang lelaki tua Palestina yang membawa Yerusalem di atas punggungnya.
Karya itu kemudian dikenal sebagai salah satu simbol keteguhan dan penderitaan rakyat Palestina.
Meski karya-karyanya kerap merepresentasikan penderitaan dan perjuangan, Mansour menegaskan bahwa seni yang ia hasilkan tidak dibangun atas kebencian.
Dalam pesannya kepada warga Palestina yang tinggal di luar tanah air, ia mengingatkan mereka agar tetap menjaga ingatan terhadap Palestina.
“Jangan lupakan Palestina dan Palestina itu indah,” pesannya.
“Dalam karya seni saya, tidak ada pesan kebencian. Yang ada adalah keindahan dan cinta,” tambahnya.
Kepergian Mansour meninggalkan jejak panjang dalam dunia seni Palestina. Karya-karyanya tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga menjadi medium untuk menjaga identitas, ingatan sejarah, dan kecintaan terhadap tanah Palestina.





Comments are closed.