Selama dua dekade terakhir, industri mode bergerak semakin cepat. Koleksi baru hadir setiap pekan, pakaian diproduksi dalam jumlah besar, lalu segera digantikan tren berikutnya. Di balik semua itu, limbah tekstil terus bertambah, konsumsi bahan baku meningkat, dan hubungan antara konsumen dengan orang yang membuat pakaian semakin jauh.
Kondisi inilah yang mendorong pelaku industri mode dari Indonesia dan Prancis mendiskusikan kembali arti sebuah pakaian dalam Indonesian-French Seminar on Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow di Institut français d’Indonésie (IFI), Jakarta, Selasa (28/7).
Forum yang menjadi bagian dari PINTU Focus Week 2026 itu mengangkat satu gagasan utama: masa depan mode dapat dibangun melalui slow fashion dan craftsmanship. Pendekatan tersebut mengajak industri memproduksi pakaian dengan ritme yang lebih bertanggung jawab, menghargai keterampilan perajin, serta memperpanjang usia pakai sebuah produk sehingga tekanan terhadap lingkungan dapat dikurangi.
Dalam sambutannya, Duta Besar Prancis untuk Indonesia mengatakan bahwa PINTU telah berkembang menjadi salah satu program utama kerja sama budaya dan industri kreatif kedua negara sejak diluncurkan pada 2022. Program tersebut telah mendukung lebih dari 150 profesional mode melalui residensi, pendampingan, pertukaran profesional, hingga kolaborasi lintas negara.
“Tahun ini, program residensi PINTU mencapai tahap baru melalui peragaan busana hasil kolaborasi desainer muda Prancis dan Indonesia setelah mereka mempelajari tenun Lombok dan batik Mojokerto,” katanya, dalam pantauan GNFI.
Ia menambahkan bahwa craftsmanship menawarkan perspektif berbeda terhadap industri mode. “Craftsmanship mengingatkan kita bahwa fashion juga berbicara tentang waktu, keterampilan manusia, dan identitas budaya.”
Menurutnya, kekayaan tradisi tekstil Indonesia dan pengalaman Prancis dalam riset material, pendidikan desain, serta kerajinan dapat saling melengkapi untuk membangun model industri yang lebih berkelanjutan.
Krisis yang Mengubah Cara Industri Berpikir
Bagi Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL, perubahan menuju industri mode yang lebih bertanggung jawab tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia mengingat kembali runtuhnya gedung Rana Plaza di Bangladesh pada 2013 yang menewaskan lebih dari seribu pekerja garmen. Tragedi tersebut memperlihatkan panjangnya rantai pasok industri mode yang selama ini tidak diketahui konsumen.
Pandemi Covid-19 kemudian memperkuat kesadaran itu. Ketika aktivitas produksi terhenti, banyak perusahaan mulai mempertanyakan kembali sistem yang selama ini dijalankan.
“Perusahaan sekarang harus menunjukkan asal serat, siapa yang membuat kain, siapa yang menjahit pakaian, hingga bagaimana proses distribusinya. Transparansi menjadi bagian penting dari sistem baru,” ujarnya.
Menurut Darja, pemerintah Prancis juga mendorong perubahan melalui berbagai regulasi, mulai dari larangan memusnahkan stok pakaian yang tidak terjual, insentif untuk memperbaiki pakaian agar dapat digunakan lebih lama, hingga kebijakan yang membatasi praktik ultra fast fashion. Namun, regulasi saja tidak cukup.
“Kita perlu membangun pemahaman sejak kecil tentang dari mana kapas berasal, bagaimana pewarna dibuat, dan bagaimana rantai pasok bekerja,” katanya. Pendidikan, menurutnya, akan membantu masyarakat melihat pakaian sebagai hasil kerja banyak orang, bukan sekadar barang konsumsi.
Ketika Perajin Menjadi Pusat Perubahan
Di Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan kerajinan tetap memiliki nilai ketika permintaan pasar terus bertambah.
Pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, mengingatkan bahwa konsep scale up sering disalahartikan sebagai memperbesar volume produksi. Bagi industri kerajinan, pendekatan tersebut justru berisiko menghilangkan karakter yang membuat produk itu bernilai.
“Kalau logika industri diterapkan sepenuhnya pada craftsmanship, kita justru bisa menghancurkan apa yang seharusnya kita jaga,” ujarnya.
Ia berpendapat bahwa peningkatan kapasitas perajin sebaiknya dilakukan melalui penguatan keterampilan, konsistensi kualitas, profesionalisme, serta akses terhadap pengetahuan dan peluang pasar. Dengan cara itu, kesejahteraan perajin dapat meningkat tanpa mengorbankan kualitas maupun proses produksi yang membutuhkan waktu.
Pengalaman serupa dirasakan Gabriel Marcella Budiono saat mengikuti residensi PINTU di Mojokerto. Ia bekerja langsung bersama perajin batik untuk mengembangkan koleksi baru.
“Kita tidak bisa datang begitu saja membawa desain. Kami harus membangun hubungan, memahami keahlian mereka, lalu mencari inspirasi dari teknik yang mereka kuasai,” katanya.
Gabriel menemukan bahwa setiap perajin memiliki ciri khas dan teknik berbeda. Proses desain akhirnya berkembang melalui diskusi dan berbagai percobaan bersama. Ia juga menilai Indonesia perlu memperkuat perlindungan terhadap perajin dan desainer agar warisan budaya memiliki posisi yang lebih kuat di tengah persaingan global.
Nilai Sebuah Pakaian
Bagi Fengyuan Dai, pendiri label 30%70, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh material atau teknik produksi. Identitas sebuah merek juga menentukan arah perubahan.
“Yang penting adalah memahami apa nilai yang ingin dibawa oleh sebuah label. Desainer harus membangun identitas yang jelas sehingga konsumen memahami prinsip yang mereka tawarkan,” katanya.
Sementara itu, desainer Prancis Mickaël Nana melihat perubahan perilaku konsumen sebagai faktor yang mendorong kebangkitan craftsmanship.
“Orang ingin melihat manusia di balik sebuah pakaian dan bagaimana proses pembuatannya,” ujarnya.
Menurut Mickaël, desainer muda membutuhkan dukungan ekosistem agar dapat menerapkan praktik yang ramah lingkungan. Di Prancis, berbagai organisasi mulai menyediakan kain deadstock, sistem ketertelusuran bahan, serta transparansi rantai pasok sehingga limbah dapat ditekan sejak awal proses desain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.