Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. SMA Komplek Surabaya: Satu Kompleks Berisi Empat Sekolah, Seabad Lebih Sejarah

SMA Komplek Surabaya: Satu Kompleks Berisi Empat Sekolah, Seabad Lebih Sejarah

sma-komplek-surabaya:-satu-kompleks-berisi-empat-sekolah,-seabad-lebih-sejarah
SMA Komplek Surabaya: Satu Kompleks Berisi Empat Sekolah, Seabad Lebih Sejarah
service

Di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 48, Surabaya, ada satu kompleks bangunan tua bergaya Eropa dengan menara intai di atapnya. Siapa sangka, di dalamnya berdiri beberapa bangunan sekolah. Bukan sekolah sembarangan tentu, karena bangunannya punya nilai sejarah.

Gedung ini menyimpan jejak salah satu presiden pertama Republik Indonesia, markas pelajar pejuang saat pertempuran 10 November, sampai status resmi sebagai cagar budaya kota. Warga Surabaya mengenalnya sebagai SMA Komplek Surabaya.

Disebut komplek karena di kawasan itu berdiri berdampingan empat sekolah negeri sekaligus, yakni SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 5, dan SMA Negeri 9 Surabaya.

SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 9 berada di Jalan Wijaya Kusuma, sedangkan SMAN 5 terletak di Jalan Kusuma Bangsa.

Awalnya Bukan di Wijaya Kusuma

Sebelum menjadi rumah bagi sekolah-sekolah tersebut, kawasan Ketabang pernah menjadi lokasi berdirinya Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, salah satu sekolah menengah paling bergengsi pada masa kolonial Belanda. Jejak HBS inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sejarah pendidikan di kawasan yang kini dikenal sebagai SMA Komplek. Meski demikian, dulunya HBS Surabaya tidak langsung berlokasi di Ketabang.

Menurut riset Indra Cipta Jaya dan Gayung Kasuma dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang dikutip detikJatim, Hoogere Burgerschool (HBS) pertama kali didirikan pada 1875.

HBS adalah sekolah menengah umum yang didirikan pemerintah kolonial untuk mencetak tenaga terdidik di tanah jajahan. Lokasi awalnya berada di kawasan Kebon Rojo, dekat pelabuhan Surabaya Utara.

Barulah pada 1923, HBS pindah ke Regentstraat—yang kemudian dikenal sebagai HBS Straat, sekarang Jalan Wijaya Kusuma—di kawasan Ketabang. Perpindahan ini didorong dua alasan.

Pertama, kawasan Kebon Rojo yang makin ramai dan padat. Kedua, perluasan Kota Surabaya yang dilakukan oleh pemerintah kota sejak 1906 hingga 1940, sehingga permukiman baru dibuka ke arah selatan, ke Ketabang, sebagaimana dicatat dalam laman Pesona Cagar Budaya Surabaya.

Gedung baru ini dirancang arsitek Belanda J. Gerber dari BOW (Burgerlijke Openbare Werken, dinas pekerjaan umum kolonial). Bangunan itulah yang hingga sekarang masih berdiri dan dipakai sebagai sekolah.

Sekolah untuk Sinyo dan Noni, dengan Sedikit Pengecualian

HBS pada masanya adalah sekolah lanjutan tinggi pertama—gabungan setingkat SMP dan SMA—yang diperuntukkan bagi warga negara Belanda, Eropa, dan kalangan elite pribumi. Murid pribumi memang ada, tapi terbatas pada anak-anak pembesar dan pejabat.

Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, adalah salah satu lulusannya. Namun Soekarno bersekolah di HBS Kebon Rojo, bukan di gedung Wijaya Kusuma yang sekarang jadi SMA Komplek, karena saat itu HBS belum pindah.

Soekarno mengenyam pendidikan di HBS Kebon Rojo sekitar 1915/1916 hingga 1920/1921. Ia bisa diterima berkat bantuan HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional yang juga kawan dekat ayah Soekarno, Soekemi Sosrodiharjo.

Gedung HBS Kebon Rojo sendiri kini sudah tidak lagi menjadi sekolah. Sejak direnovasi pada 1926-1928 oleh arsitek GJPM Bolsius, bangunan itu beralih fungsi menjadi Kantor Pos Besar Kebon Rojo dan masih beroperasi sampai sekarang.

Sebagai penanda sejarah, Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, meresmikan sebuah plakat di lokasi tersebut pada 6 Juni 2011. Tulisan pada plakat itu berbunyi: “Di Sini Tempat Bersekolah Ir. Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI, ketika Di Hogere Burger School (HBS) 1915-1920,” seperti dicatat dalam Mojok.co.

Soekarno bukan satu-satunya alumnus HBS yang kemudian punya nama besar. Beberapa lulusan lain yang sukses berkarier di pemerintahan antara lain Roeslan Abdulgani (mantan Menteri Luar Negeri), Soedjatmiko (mantan Duta Besar RI untuk PBB), dan Widjojo Nitisastro (mantan Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas), menurut data ADINDA Surabaya.

Markas Pelajar Pejuang di Tengah Pertempuran

Gedung SMA Komplek tidak hanya menyimpan sejarah pendidikan, tapi juga sejarah perjuangan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah dijadikan markas Rikugun, tentara Jepang. Kemudian, saat pertempuran 10 November 1945 meletus, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Sebagai penanda, di halaman sekolah kini berdiri Monumen Pelajar Pejuang Bersenjata, sebuah tugu yang mencatat nama-nama pelajar pejuang bersenjata yang gugur dalam pertempuran tersebut, menurut catatan Pesona Cagar Budaya Surabaya.

Dari HBS ke Empat SMA Negeri

Pada 1 Agustus 1950, kepemimpinan sekolah diserahterimakan dari B.J. Pieters, direktur HBS terakhir, kepada Marakamil S.P., orang Indonesia asli. Sejak saat itu, sekolah selalu dipimpin oleh bangsa sendiri.

Proses pemecahan HBS menjadi empat sekolah negeri berjalan bertahap selama belasan tahun berikutnya:

Sebenarnya, SMA Negeri 1 Surabaya cikal bakalnya bukan langsung dari HBS, melainkan dari SMA Dr. Sutomo yang didirikan tokoh pendidikan Surabaya pada April 1949. Muridnya berasal dari tentara pelajar yang meninggalkan sekolah “Pertemuan Dr. Sutomo”. Sekolah ini resmi dinegerikan menjadi SMA Negeri 1 Surabaya pada 1 April 1950. R. Suhardi Notodipuro menjadi kepala sekolah pertama.

Kemudian, SMA Negeri 2 Surabaya resmi berdiri sebagai sekolah negeri pada 1 Agustus 1950, langsung menempati bekas gedung HBS.

Selanjutnya, SMA Negeri 5 Surabaya lahir dari pemisahan SMAN 2 bagian B berdasarkan SK Menteri PP&K Nomor 6738/B III tertanggal 18 Desember 1956, dan mulai beroperasi pada 1 Agustus 1957. Sekolah ini sempat berbagi gedung dengan SMAN 1 dan SMAN 2 sebelum akhirnya pindah ke Jalan Kusuma Bangsa 21 pada era kepemimpinan Soehartojo (1983-1989).

SMA Negeri 9 Surabaya berdiri belakangan, mulai beroperasi 1 Februari 1967 di lokasi yang sama, Jalan Wijaya Kusuma 48.

Pembagian jurusan pun sempat berubah-ubah. SMA 1 dan SMA 2 pernah bertukar jurusan pada tahun ajaran 1954/1955. SMA 1 menyerahkan jurusan sosial budaya (bagian B) ke SMA 2, sementara SMA 2 memberikan jurusan bahasa (bagian A) ke SMA 1. Sistem penjurusan lama itu akhirnya dihapus mulai tahun ajaran 1964/1965, dan sejak itu SMA 1 resmi menjadi SMA Negeri 1 Surabaya tanpa embel-embel jurusan.

Cagar Budaya yang Masih Hidup

Yang membuat SMA Komplek istimewa dibanding banyak bangunan kolonial lain adalah statusnya yang tetap aktif berfungsi sebagai sekolah, bukan sekadar museum atau bangunan mati. Meski sudah ada tambahan gedung baru di dalam kompleks, bangunan asli peninggalan Belanda tetap dipertahankan dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Ciri khas arsitektur tropis kolonial pada gedung ini, menurut ADINDA Surabaya, juga mencerminkan peran besarnya dalam sejarah pendidikan di tanah air—sebuah warisan dari masa ketika pendidikan menengah masih menjadi barang langka dan eksklusif di Hindia Belanda.

Kini, ratusan pelajar dari empat sekolah negeri berbeda tetap belajar setiap hari di bawah atap yang sama dengan menara intai tua itu—melanjutkan cerita panjang sebuah gedung yang pernah mendidik seorang proklamator, menjadi markas perjuangan, dan akhirnya menjelma jadi salah satu ikon pendidikan Kota Pahlawan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.