
Aulia Nurul Hikmah, wisudawan terbaik Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada Wisuda Tahap VIII Tahun Ajaran 2025/2026.
Aulia Nurul Hikmah baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada Wisuda Tahap VIII Tahun Ajaran 2025/2026. Predikat ini ia raih dari Program Studi Silvikultur, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,87.
Perlu digarisbawahi gelar ini adalah predikat terbaik tingkat fakultas—bukan tingkat universitas. Akan tetapi, tetap saja, ini pencapaian besar mengingat Fakultas Kehutanan dan Lingkungan menaungi ribuan mahasiswa dari berbagai program studi dengan kurikulum yang padat praktikum lapangan.
Ayah yang Tukang Tambal Ban Membawa Putrinya ke Bangku Kuliah
“Orang tua saya adalah buruh dan tukang tambal ban,” ucap Aulia, sebagaimana dikutip dari rilis yang diterima GNFI.
Kalimat itu ia sampaikan bukan dengan nada mengeluh, malahan dengan penuh kebanggaan. Orang tuanya, sukses mengantarkan putrinya lulus dari salah satu kampus top di Indonesia.
Aulia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah terbuka untuknya. Alumnus SMAN 9 Kota Bogor ini menyebut, IPB University memberinya ruang yang tidak selalu tersedia di tempat lain. Ia punya kesempatan mengembangkan diri lewat kegiatan akademik maupun nonakademik, sekaligus memperluas jejaring dengan teman dari berbagai latar belakang.
“Semua ini memperkuat saya untuk dapat berpikir kritis dan adaptif,” ungkapnya.
Kenapa Silvikultur?
Dari sekian banyak pilihan program studi, Aulia menjatuhkan pilihan pada Silvikultur — bidang ilmu yang mempelajari pembinaan ekosistem hutan, mulai dari pembenihan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, sampai perlindungan dan pemantauan hutan, baik hutan alam maupun hutan tanaman.
Silvikultur berasal dari gabungan kata Latin silva (hutan) dan cultura (budidaya). Gampangnya, ini ilmu tentang cara merawat hutan, mirip petani merawat kebun, hanya saja skalanya jauh lebih besar dan ekosistemnya jauh lebih kompleks.
“Saya memilih Program Studi Silvikultur karena ketertarikan saya terhadap alam hayati maupun ilmu ekologi. Bagi saya, hutan adalah salah satu perwujudan terbaik dari ilmu tersebut,” urai Aulia.
Ia menyebut hutan sebagai ekosistem kompleks yang menjadi sistem utama kehidupan. Lewat prodi ini, ia bisa mempelajari hutan secara utuh, dari pertumbuhan hingga rehabilitasinya.
Pilihan ini juga bukan tanpa alasan sosial. “Mengingat saat ini banyak dihadapkan dengan isu dan permasalahan hutan seperti degradasi maupun deforestasi hutan, memilih prodi ini memberikan saya harapan dan kesempatan nyata untuk menjadi agen pelestari dan perlindungan hutan,” katanya.
Bukan Sekadar Kutu Buku
Prestasi akademik Aulia tidak lahir dari sekadar duduk di kelas. Berdasarkan penelusuran GNFI atas rekam jejak organisasinya lewat LinkedIn, Aulia aktif di Tree Grower Community. Ia bahkan sempat menjabat Head of Communication and Information.
Selain itu, ia juga tercatat pernah aktif di Koran Kampus IPB menjadi Head of Layout Designer. Ia pernah bertanggung jawab mengedit konten dari reporter, ilustrator, dan fotografer, sekaligus mengatur tata letak berbagai produk media kampus menggunakan Adobe InDesign.
Menjalani kuliah yang menuntut nilai tinggi sambil aktif berorganisasi bukan perkara mudah. Aulia mengaku merasakan sendiri pentingnya manajemen waktu untuk menjaga keseimbangan keduanya. Alih-alih jadi beban, dinamika itu justru memaksanya menjadi pribadi yang lebih adaptif dan fleksibel.
Ia berharap ilmu dan pengalaman yang telah ia kumpulkan bisa bertransformasi menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan—sejalan dengan minatnya pada isu pelestarian hutan dan pemetaan spasial (GIS) yang selama ini ia tekuni.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.
Tim Editor




Comments are closed.