● Frugal atau berhemat tidak hanya untuk orang pribadi, tapi juga UMKM.
● Hal ini cukup penting dipahami karena tidak semua UMKM memiliki modal besar.
● Akan lebih baik jika UMKM memprioritaskan ketangguhannya terlebih dahulu sebelum naik kelas.
Istilah “digitalisasi agar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas” sering dipakai dalam program pemerintah. Namun, supaya bisa naik kelas, sebuah entitas UMKM harus tangguh terlebih dahulu.
Digitalisasi bukan obat tunggal untuk semua masalah UMKM. Ini karena mayoritas UMKM masih berjibaku mengamankan bahan baku yang stabil dan efisien, keterampilan produksi yang sulit diwariskan, legalitas yang rumit, keterbatasan alat, dan perubahan permintaan pasar.
Dengan kondisi seperti ini, inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru yang canggih. Kadang, inovasi juga berarti menemukan cara paling masuk akal agar usaha tetap bisa berjalan.
Dalam riset kami terhadap 29 UMKM di Jawa Tengah menunjukkan geliat semangat inovatif unik usaha kecil melalui cara-cara sederhana.
Read more: Stop banggakan jumlah UMKM: Fokuskan pada peningkatan kualitas dan kemudahan izin
Caranya bisa dengan memakai sumber daya lokal, menghemat bahan, memanfaatkan limbah, menyederhanakan kemasan, menyesuaikan produksi dengan permintaan, menjaga kualitas, dan mengandalkan jaringan komunitas.
Praktik yang dinamai frugal innovation atau inovasi hemat bukan sekadar membuat produk murah, melainkan menciptakan nilai dengan sumber daya terbatas yang efektif membantu UMKM mencapai ketangguhan untuk bisa naik kelas.
Keterbatasan tak boleh menghalangi inovasi
Dinamika bisnis yang serba tidak pasti juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Mereka harus bisa menyesuaikan diri terhadap kenaikan harga bahan baku, keterbatasan alat produksi, tenaga kerja tidak selalu tersedia, pengelolaan modal, dan keinginan konsumen terhadap harga produk terjangkau.
Salah satu responden dalam studi ini adalah pelaku usaha pengolahan kopi bernama Kusido Coffe. Layaknya usaha kecil dan pada umumnya, cafe ini tak memiliki sistem produksi modern. Proses produksinya masih sederhana dan bertahap.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat usaha ini mati angin. Pelaku usaha memanfaatkan kopi lokal, melibatkan warga sekitar, menjaga kualitas bahan, dan mengolah limbah kulit kopi agar tidak terbuang sia-sia. Limbah yang masih dapat dimanfaatkan diubah menjadi produk bernilai, seperti pupuk organik atau bahan lain yang berguna.
Contoh lain datang dari sentra pengrajin shuttlecock (kok bulu tangkis) di desa Serangen, Surakarta. Proses produksi kok di sana amat mengandalkan keterampilan manual dan kualitas bahan yang optimal.
Di balik segala keterbatasannya, para UMKM ini memilih pemasok yang tepat, mengatur tenaga kerja sesuai pesanan, menjaga stok bahan, menyederhanakan kemasan, atau menyesuaikan produksi ketika permintaan berubah. Mereka mengamini kepercayaan pelanggan adalah modal penting. Sekali kualitas turun, pelanggan bisa pindah ke produsen lain.
Read more: Karena proposal semata banyak UMKM gagal dibiayai perbankan
Pada Kusido Coffee, misalnya, kualitas bahan tetap dijaga meskipun proses produksi berlangsung bertahap dan alat yang digunakan tidak selalu mahal. Pada usaha kok, pengrajin tidak bisa asal mengganti bahan karena kualitas kok sangat bergantung pada komponen dan keterampilan produksi.
Inovasi hemat menuntut proses kecermatan. Pelaku usaha harus mengetahui bagian mana yang bisa dihemat, bagian mana yang bisa disederhanakan, dan bagian mana yang tidak boleh dikompromikan.
Fokus ke produk terlebih dahulu
Dalam ekonomi modern, produk yang kompleks sering dianggap lebih inovatif. Semakin banyak fitur, semakin terlihat maju. Padahal, jika hal tersebut jadi acuan tunggal inovasi, maka tidak ada tempat bagi UMKM untuk bisa bersaing.
Karena itu, penting bagi UMKM untuk memahami berbagai variabel selera pelanggan yang juga sensitif terhadap harga. Ada banyak hal yang harus dibaca seperti mengutamakan rasa, daya tahan, fungsi, atau konsistensi kualitas.
Proses produksi tidak selalu harus otomatis apabila keterampilan manual masih menjadi penentu kualitas. Produk juga tidak selalu perlu berubah total jika pasar masih membutuhkan fungsi utamanya. Pun, para UMKM bisa menekan biaya produksi terlebih dahulu terkait kemasan yang kelewat mewah dan estetik.
Kusido Coffe bisa tetap lestari bukan karena promosi besar-besaran. Kesederhanaan tersebut efektif menekan biaya, mempercepat kerja, dan menjaga harga tetap terjangkau.
Mereka lebih mengutamakan kualitas bahan, pengelolaan limbah, hubungan dengan petani atau warga sekitar, dan konsistensi produksi. Hal serupa juga terjadi pada produsen kok Desa Serangen.
Bagi dua UMKM ini, inovasi tidak selalu berarti mengubah bentuk produk. Dalam beberapa kasus, produk justru harus dijaga agar tetap sesuai standar yang sudah dipercaya konsumen.
Inovasi muncul melalui cara lain: memilih pemasok yang tepat, mengatur tenaga kerja sesuai pesanan, menjaga stok bahan, menyederhanakan kemasan, atau menyesuaikan produksi ketika permintaan berubah.
Semangat dari desa untuk desa
Temuan penting lain dari studi ini adalah bahwa inovasi UMKM tidak hanya terjadi di dalam usaha, tetapi juga di sekitar usaha.
Banyak UMKM berjalan tanpa konsultan bisnis, laboratorium riset, atau anggaran pemasaran besar. Bagi mereka, komunitas adalah sumber daya ekonomi yang membantunya berkembang.
Keluarga dapat membantu produksi. Warga sekitar bisa menjadi tenaga tambahan. Pelanggan memberi masukan. Sesama pelaku usaha berbagi informasi tentang bahan baku, pemasok, harga, atau peluang pasar.
Kusido Coffee memberdayakan warga sekitar dengan membagikan pengetahuan dan pelatihan mengenai kopi. Pada pengrajin kok, sebagian pelaku usaha mulai terhubung melalui kelompok usaha bersama, meskipun dukungan formal masih terbatas.
Di era modern saat ini, digitalisasi memang penting. Tapi tidak semua harus terburu-buru go online. Dari Kusido Coffee dan desa pengrajin kok di Serangen kita belajar bahwa keberlanjutan bisnis amat penting digapai terlebih dahulu sebelum melangkah ke proses scale up seperti go online.
Pendekatan seperti ini lebih dekat dengan cara UMKM bekerja dalam kenyataan. Definisi UMKM naik kelas tak harus menjadi perusahaan besar. Sering kali, kekuatan mereka justru ada pada kemampuan menciptakan solusi yang sederhana, murah, fungsional, dan sesuai dengan kehidupan masyarakat sekitar yang berkelanjutan.





Comments are closed.