Mon,13 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Tekanan Teman Sebaya, Celah Anak Terjerat Adiksi Rokok

Tekanan Teman Sebaya, Celah Anak Terjerat Adiksi Rokok

tekanan-teman-sebaya,-celah-anak-terjerat-adiksi-rokok
Tekanan Teman Sebaya, Celah Anak Terjerat Adiksi Rokok
service

Tahun ajaran baru selalu menjadi momen penuh peluang dan harapan. Siswa memasuki lingkungan baru, juga berusaha membangun relasi agar dapat diterima dalam kelompok sosialnya. Namun, di balik semangat memulai babak baru itu, terdapat tantangan yang kerap luput dari perhatian, yaitu tekanan teman sebaya (peer pressure). Keinginan untuk dianggap “nyambung”, diterima, atau tidak dikucilkan dapat mendorong sebagian remaja mencoba perilaku berisiko, termasuk merokok.

Pada fase tengah dibangunnya identitas sosial dan relasi pertemanan mulai terbentuk, remaja berada dalam posisi yang lebih rentan terhadap ajakan untuk mencoba rokok. Bermula dari keinginan agar tidak dianggap berbeda dapat berkembang menjadi kebiasaan, lalu berujung pada adiksi nikotin.

Psikolog Klinis khusus adiksi Aldo Rayendra Rachmat meminta orang tua tidak mengabaikan perubahan perilaku anak, terutama pada masa remaja, karena dapat menjadi sinyal awal adiksi rokok. Ia menilai kewaspadaan sejak dini penting mengingat ketergantungan nikotin sering berkembang tanpa disadari, berawal dari kebiasaan mencoba rokok demi mengikuti lingkungan pergaulan.

“Orang tua harus hadir. Perannya bukan untuk melarang seutuhnya, tapi mendampingi anak misalkan dia mau ekspos suatu bidang, artinya si anak tertarik dan itu hal berarti buat dia. Sehingga orang tua bisa lihat apakah bidang itu baik atau tidak. Lalu, pergaulannya buruk atau tidak,” kata Aldo kepada Prohealth, Jumat 10 Juli 2026.

Menurut Aldo, orang tua juga perlu membantu anak menemukan minat, bakat, dan kelebihan yang dapat menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang sekaligus membangun rasa percaya diri. Dengan memiliki lingkungan yang positif dan merasa diterima melalui aktivitas yang diminati, anak dinilai tidak akan mudah mencari pengakuan dari kelompok pertemanan melalui perilaku berisiko seperti merokok.

Aldo juga menekankan bahwa ketergantungan nikotin tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap dan sering kali tidak disadari hingga kebiasaan merokok sudah sulit dihentikan. Karena itu, kewaspadaan dan deteksi dini dari orang tua menjadi kunci untuk mencegah adiksi berkembang lebih jauh.

“Kita perlu lihat dari kebiasaan misalkan anak mulai sering melawan orang tua secara agresif. Misalkan, dia bukan anak yang pemarah lalu jadi pemarah. Bukan anak pembangkang, tapi berubah. Lalu, mulai kelihatan susah fokus belajar atau nilai pelajaran turun, itu juga perlu berkoordinasi dengan pihak sekolah,” tuturnya.

Kepekaan orang tua atau pendamping anak, kata Aldo, menjadi kunci untuk mengenali tanda-tanda perubahan perilaku anak yang terindikasi adiksi rokok. Menurutnya, sejumlah perubahan seperti sikap yang semakin tertutup, mudah marah saat privasinya terganggu, hingga pengeluaran uang jajan yang tidak wajar perlu menjadi perhatian. Terlebih, rokok elektrik berisiko disalahgunakan karena cairannya dapat dicampur dengan zat adiktif atau narkotika, sehingga orang tua perlu mencermati gejala-gejala yang timbul sebelum kondisinya menjadi lebih serius.

“Kalau misal dikasih 50 ribu rupiah sehari, ternyata jadi kurang terus padahal selama ini kita tahu jajannya apa tapi sekarang habis terus, mungkin bisa diselidiki. Biasanya kalau belum merokok atau vape itu kelihatan gelisah. Lalu, jadi lebih sering melanggar aturan di sekolah, karena tidak gelisahnya tadi itu pengen ngerokok,” ujar Aldo.

Ia juga menekankan pentingnya orang tua tidak bereaksi dengan kemarahan atau kepanikan ketika mengetahui anak diduga mulai terpapar rokok maupun zat adiktif. Respons yang emosional, kata dia, justru berisiko membuat anak bersikap defensif dan menjauh sehingga penanganan menjadi lebih sulit.

“Orang tua harus tenang dulu. Hubungan dengan orang tua dan anak yang sangat penting. Kalau misal hubungannya berjarak atau kurang baik, biasanya anak rentan terpapar zat adiktif. Tapi, kalau misalkan orang tua mendampingi dengan baik, kita tidak bisa bilang 100 persen akan terhindar tapi risikonya akan lebih kecil,” ucap Aldo.

Tahun ajaran baru 2026/2027 untuk sekolah mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK di Indonesia akan dimulai pada minggu kedua bulan Juli, tepatnya pada Senin, 13 Juli 2026. Hari pertama masuk sekolah ini sekaligus menjadi awal pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari pada pekan pertama tahun ajaran baru.

Yayasan Lentera Anak menyoroti tekanan teman sebaya (peer pressure) sebagai salah satu faktor yang membuat anak dan remaja rentan mulai merokok. Rama Tantra Solikin, Project Officer Yayasan Lentera Anak mengatakan upaya melindungi anak dari paparan nikotin tidak cukup dengan mengandalkan edukasi, tetapi juga memerlukan peran aktif orang tua dan guru dalam mengenali tanda-tanda paparan produk adiktif sejak dini.

“Industri rokok itu sangat kreatif untuk menjerat adiktif mereka. Ketika kami berdiskusi dengan perwakilan guru-guru untuk mengenali produk rokok elektronik, mereka baru menyadari betapa manipulatifnya bentuk rokok elektronik itu dari yang berbentuk flashdisk, game, kamera kecil, hingga tripod. Jangankan guru, kita saja masyarakat awam sering kali tidak sadar,” kata Rama kepada Prohealth, Jumat 10 Juli 2026.

Orang tua dan guru tidak boleh kalah cepat dari berbagai strategi industri rokok yang terus berupaya menarik perokok pemula melalui beragam bentuk pemasaran dan normalisasi perilaku merokok. Upaya perlindungan anak, ujar Rama, perlu diperkuat mengingat separuh waktu anak-anak dihabiskan di lingkungan sekolah setiap harinya. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk mengenali tanda-tanda paparan produk adiktif, membangun ketahanan anak terhadap tekanan teman sebaya, serta memastikan lingkungan belajar benar-benar bebas dari pengaruh nikotin.

“Tentunya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) bisa menjadi salah satu instrumen hukum yang membuat sekolah harusnya berani dan mengimplementasikan sekolahnya agar bersih atau bebas dari zat adiktif baik rokok konvensional dan rokok elektronik. Bukan hanya larangan tidak boleh merokok, bahkan sampai sedetail tidak boleh ada asbak di sekolah,” ucap Rama.

Selain itu, Rama juga kembali mengingatkan pemerintah untuk segera merealisasikan implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan yang hingga kini belum menunjukkan kejelasan pelaksanaan. Padahal, regulasi tersebut memuat ketentuan yang lebih ketat mengenai pengendalian zat adiktif, termasuk produk tembakau dan rokok elektronik sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat terutama anak dan remaja dari paparan nikotin.

“Sampai hari ini belum ada aturan turunannya. Meski begitu, untuk sekolah kan masuk di PP 28 ini soal KTR yang jadi pedoman bagi pihak sekolah. Sekolah dan anak itu punya hak akan udara bersih. Tidak hanya pendidikan tapi ada hak perlindungan mereka yang harus dipenuhi,” kata Rama.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.