Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Terseret Algoritma Musik Kasidah Perempuan Era 70-an hingga Menemukan Hal-Hal Autentik yang Terasa Hilang

Terseret Algoritma Musik Kasidah Perempuan Era 70-an hingga Menemukan Hal-Hal Autentik yang Terasa Hilang

terseret-algoritma-musik-kasidah-perempuan-era-70-an-hingga-menemukan-hal-hal-autentik-yang-terasa-hilang
Terseret Algoritma Musik Kasidah Perempuan Era 70-an hingga Menemukan Hal-Hal Autentik yang Terasa Hilang
service

Semua ini bermula dari algoritma yang menyeret saya untuk mendengarkan lagu yang berjudul: “Fatwa Orang Tua”. Pertama kali mendengarnya, saya langsung terpukau. Saya merasa menemukan kembali hal-hal yang belakangan ini terasa hilang, sebuah nasihat praktis namun mendalam yang dibalut dalam bentuk lagu dengan taste Melayu yang unik. 

Bila diri ingin dikenang semailah benih di tengah sawah

Bawalah ilmu padi di ladang, tambah berisi tunduk ke bawah…”

“… Jauhi sifat mengaku pandai, angkuh dan sombong menepuk dada, 

Ingat petuah penyu di pantai, telur beratus tak pernah bangga.” 

(Potongan lirik lagu Fatwa Orang Tua).

Metafora “penyu di pantai” yang menelurkan ratusan butir tanpa pamer, bersanding dengan “ayam di kandang” yang bertelur satu dan riuh sekampung, adalah kritik sosial yang menggelitik. Di tengah era bising media sosial hari ini, kita digambarkan seperti ayam yang terlalu berisik memperebutkan simbol namun kehilangan makna. Di titik inilah, lagu tersebut hadir menjadi semacam oase yang menawarkan kontemplasi sunyi namun mendalam.

Rasa penasaran menuntun saya untuk melacak asal-usul lagu Fatwa Orang Tua ini. Ternyata, berbagai versi yang bertebaran hari ini merupakan hasil cover. Orkes Nur El-Surayya, sebuah grup kasidah perempuan legendaris asal Kota Medan yang muncul pada era 70-an, adalah si empunya lagu asli. Komposernya bernama Datuk Ahmad Baqi. Putra dari Mufti Kesultanan Deli ini bukan sekadar pemusik biasa, melainkan seorang visioner yang berhasil mengubah persepsi musik Islam di tanah air. Melalui Orkes Nur El-Surayya yang didirikannya, Datuk Ahmad Baqi melakukan langkah berani pada masanya: ia mengawinkan denting gambus dengan aransemen orkestra yang megah.

Keberadaan grup kasidah perempuan dari Sumatera ini seketika mengingatkan saya pada nama ikonik lainnya: Nasida Ria dari Semarang. Setelah mengecek beberapa dokumen arsip, dugaan saya terkonfirmasi. Keduanya memang lahir dari rahim zaman yang sama, yakni: era 70-an yang penuh gejolak kultural di Indonesia. Dari sini, pencarian saya melebar menjadi sebuah pertanyaan besar: Mengapa pada tahun 70-an banyak muncul grup kasidah perempuan seperti Nasida Ria di Semarang dan Orkes Nur El-Surayya di Medan? Bagaimana pasang surut perjalanan musik Kasidah dan Nasyid Perempuan di Indonesiaserta hal-hal apa yang membuat mereka terasa autentik?

Rupanya, kemunculan serentak grup-grup kasidah modern perempuan pada dekade 1970-an bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Fenomena ini merupakan perpotongan yang presisi antara transisi politik Orde Baru, revolusi teknologi rekaman, dan pergeseran taktik dakwah umat Islam. Memasuki era Orde Baru, pemerintah melakukan depolitisasi yang sangat ketat. Saluran-saluran politik formal bagi umat Islam dipersempit dan diawasi. 

Menghadapi represi ini, para ulama, tokoh masyarakat, dan seniman Muslim melakukan migrasi strategi dakwah—sebuah fenomena yang kemudian dalam diskursus pembaharuan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan pemetaan sosiologis M. Syafi’i Anwar disebut sebagai pergeseran dari Islam Politik menuju Islam Kultural. Seni, musik, dan sastra menjadi ruang aman yang sah untuk menyuarakan nilai-nilai moralitas publik tanpa harus berbenturan secara langsung dengan agenda “pembangunan” pemerintah Orde Baru. 

Selain itu, tahun 1970-an adalah era keemasan kaset pita di Indonesia. Format kaset jauh lebih murah diproduksi dan didistribusikan dibandingkan piringan hitam era sebelumnya. Musik kasidah yang dulunya hanya terdengar di surau atau panggung hajatan lokal kini bisa diproduksi massal dan masuk langsung ke ruang-ruang domestik keluarga Indonesia.

Ekosistem ini juga didorong oleh keberadaan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) yang berdiri sejak tahun 1970. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Anne K. Rasmussen, seorang peneliti etnomusikologi dari Amerika Serikat yang menulis buku Women, the Recited Qur’an, and Islamic Music in Indonesia, menyoroti bahwa jaringan festival yang digerakkan LASQI secara masif dari tingkat rukun tetangga hingga nasional berfungsi sebagai ruang legitimasi publik bagi para pemusik perempuan. Pada prosesnya, perpaduan teknologi dan ruang festival inilah yang menciptakan ekosistem regenerasi grup kasidah perempuan yang sangat subur.

Hal yang paling progresif adalah fenomena kasidah tahun 70-an yang memosisikan perempuan Muslim di ruang publik. Melalui Orkes Nur El-Surayya dan Nasida Ria, perempuan tidak lagi diposisikan sebagai objek dakwah yang pasif, melainkan sebagai agen dakwah yang memegang kendali estetika. Mereka mendobrak tradisi rebana monoton yang statis. 

Di Semarang, Nasida Ria memasukkan instrumen Barat modern seperti organ, gitar listrik, bas, biola dan memainkan aransemen yang kompleks. Di Medan, Orkes Nur El-Surayya menyajikan keindahan melodi Melayu Deli yang mendayu, dikawinkan dengan harmoni gambus padang pasir yang megah. Para perempuan ini berdiri tegak di atas panggung, terampil memetik bas elektrik dan menggesek biola, sembari menyuarakan kritik sosial yang tajam tentang perdamaian dunia, keadilan, hingga bahaya gosip. Ini adalah sebuah bentuk emansipasi kultural yang sangat maju pada zamannya.

Perjalanan musik kasidah dan nasyid perempuan di Indonesia memiliki pasang surut yang sangat menarik. Jika kita memetakan waktunya, tren ini tidak benar-benar mati, melainkan bertransformasi dari panggung ke panggung. Tahun 1970-an sampai akhir 1980-an menjadi era kejayaan kasidah modern perempuan. Nasida Ria, Orkes Nur El-Surayya, dan ratusan grup lokal merajai penjualan kaset pita, panggung hajatan, hingga siaran televisi nasional (TVRI). Musik ini menjadi bagian dari identitas budaya populer Muslim urban saat itu.

Memasuki tahun 1990-an, popularitas kasidah mulai bersaing ketat dengan ledakan musik dangdut modern dan pop romantis. Meskipun demikian, lagu ikonik seperti “Tahun 2000” milik Nasida Ria (dirilis akhir 80-an) masih sangat populer menjelang pergantian milenium karena relevansi liriknya yang futuristik. Akhir tahun 1990-an sampai tahun 2000-an, muncul istilah nasyid yang lebih condong ke gaya acapella atau pop melayu religius yang didominasi oleh grup laki-laki (seperti Snada di Indonesia dan Raihan dari Malaysia). Pada era ini, kasidah perempuan mulai terpinggirkan dari industri arus utama dan lebih banyak bertahan di ruang komunal seperti majelis taklim, pesantren, dan pernikahan di daerah. 

Tahun 2010-an menandai era sunyi sekaligus memicu lahirnya stigma terhadap kasidah perempuan sebagai musik kuno atau sekadar “musik pengiring ibu-ibu pengajian.” Bagi generasi muda saat itu, gempuran tren electro pop, EDM (electronic dance music), dan hip-hop membuat genre kasidah tidak lagi dinilai modis atau relevan dengan selera zaman. 

Namun, pada awal tahun 2020-an (pasca Covid-19) hingga sekarang, terjadi fenomena comeback yang luar biasa. Grup kasidah legendaris kembali naik daun, diundang ke festival musik indie membawakan nostalgia lagu-lagu kasidah di hadapan penonton lintas generasi, viral di media sosial, bahkan tampil memukau di panggung internasional. 

Apa yang membuat musik kasidah  era 70-an terasa autentik? Salah satu faktornya adalah kekuatan lirik yang sederhana dan sangat jujur, namun membawa pesan yang menohok. Pada kasus Nasida Ria misalnya, sang pendiri grup, H. Muhammad Zain, meramu aransemen musik modern, berkolaborasi dengan KH. Ahmad Bukhori Masruri sebagai penulis lirik-lirik futuristiknya. Sentuhan Kiai Bukhori inilah yang melahirkan lirik ikonik seperti “Tahun 2000 kerja serba mesin, berjalan dan terbang secepat angin…” atau pesan perdamaian dunia di tengah konflik global yang terasa sangat relevan dengan situasi hari ini. 

Selain itu, anak muda hari ini mengalami kejenuhan terhadap musik pop modern yang produksinya terlalu rapi dan terpolarisasi digital. Mereka justru menemukan kembali pesona pada warna vokal yang analog dan gaya panggung retro era 70-an. Melalui kombinasi nostalgia masa kecil, humor media sosial, dan apresiasi seni yang lebih terbuka, grup kasidah perempuan kembali mendapat pengakuan sebagai salah satu pionir musik pop-religi eksperimental paling orisinal yang pernah lahir di Indonesia.

Setelah semua ini, saya mulai menyadari apa sebetulnya yang terasa hilang di era kebisingan hari ini: ketulusan spiritual dan kematangan artistik. Musik kasidah perempuan era 70-an sekurang-kurangnya mampu menjadi bahasa ekspresi yang mengandung daya pukau, daya ganggu, dan daya hidup antargenerasi. Ia berhasil merajut ingatan masa lalu dan harapan masa depan, sekaligus melintasi batas-batas zaman yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.